TONGKAT AJAIB NABI MUSA
Diceritakan Kembali oleh: Wahyuningsih Rahayu,
S.Pd.,M.Pd.
Pernahkah
kalian mendengar cerita bayi mungil yang dihanyutkan kesungai? Dia adalah Musa putera Yuhanidz dengan Imran di
Negeri Mesir. Atas kehendak Allah, peti yang berisi bayi itu ditemukan oleh Asiyah istri Fir’aun
raja Mesir yang kaya raya tetapi kejam dan menganggap dirinyaT uhan. Musa dijadikan anak angkat Fir’aun.
Ketika Musa berusia tiga tahun ia dipangku olehFir’aun. Tiba-tiba ia menarik jenggot Fir’aun dengan keras.
Fir’aun kesakitan, sehingga ia menghunus pedang dan hendak membunuh Musa. Asiyah berhasil mencegahnya,
sehingga Musa selamat.
Ketika menginjak dewasa,
ia dianugerahi Allah kecerdasarn yang luar biasa. Tatkala di jalanan ada orang
yang berkelahi, ia membantu orang Israil melawan orang Qibthi.
Ternyata hanya dengan satu pukulan, orang itu meninggal. Orang Qibthi akan membalas membunuh
Musa. Fir’aun mengetahui hal itu menyuruh tentaranya untuk membunuh Musa. Musa segera meninggalkan Mesir.
Musa
berjalan sampai di Negeri Madyan. Ia menikah dengan putri Nabi Syuaib, yang bernama Sufairah.
Setelah beberapa tahun, Musa dan anak istrinya kembali ke Mesir. Ketika perjalanans ampai
di Gunung Thur, Musa bertemu dengan Allah.
Allah berfirman “Wahai Musa,
sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam. Kerjakanlah perintah-Ku! (QS.
Al-Qashash: 29-30). Sejak itu Musa diangkat menjadi Rasul. Ia memiliki mukzijat, tongkatnya dapat berubah menjadi ular raksasa dan bila kedua tanganya diletakkan
di baju leher, bersinar sangat terang.
Nabi Musa berusaha mengingatkan Fir’aun agar
beriman kepada Allah. Namun Fir’aun marah dan menganggapnya gila. Fir’aun bahkan mendatangkan sihir-sihir
yang pandai. Mereka segera mengeluarkan sihirnya menjadi ular yang banyak sekali. Musa
melempar tongkatnya, berubahlah menjadi ular raksasa yang memakan semua ular di alun-alun.
Semua sihir akhirnya tunduk dan beriman kepada Allah. Namun Fir’aun tetap tidak percaya.
Nabi
Musa dan pengikutnya meninggalkan Mesir. Fir’aun mendengar hal tersebut, segera mengejar. Nabi
Musa dan pengikutnya sampai di Laut Merah. Atas ridho Allah, Nabi Musa
memukulkan tongkatnya, dan Laut Merah membelah menjadi jalan yang lebar. Nabi Musa
dan pengikutnya segera meneruskan perjalanan. Fir’aun dan pasukannya terus mengejar. Ketika sampai
di tengah laut, tiba-tiba air
bertau tkembali Maka tenggelamlah Fir’aun dan balatentaranya. Sebenarnya sebelum mati, dalam hati Fir’aun bertobat,
“Saya percaya tidak ada Tuhan selain Allah”. Tetapi terlambat,
karena napas sudah di kerongkongan, nyawa sudah di ubun-ubun,
maka taubat tersebut tidak berarti. Kini jasad Musa diawetkan menjadi mumi di Mesir.
Musa
dan kaumnya diselamatkan Allah. Hikmah dari cerita tersebut adalah,
bahwa kita harus percaya kepada Allah,
melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena hanya orang iman yang menysukuri nikmat Allah, niscaya akan bahagia
di dunia maupun akhirat.
Wahyuningsih Rahayu, S.Pd.,M.Pd. Kepala SD Negeri Batursari 3.
tolong tulisannya di edit kembali, pada paragraf ke 5 baris ke 9 tertulis "Kini jasad Musa diawetkan menjadi mumi di Mesir" seharusnya "Kini jasad Firaun diawetkan menjadi mumi di Mesir"" ini bisa menyebabkan kesalahan informasi bagi pembaca yang umum memahami sejarah kenabian umat islam. terimakasih
BalasHapustolong tulisannya di edit kembali, pada paragraf ke 5 baris ke 9 tertulis "Kini jasad Musa diawetkan menjadi mumi di Mesir" seharusnya "Kini jasad Firaun diawetkan menjadi mumi di Mesir"" ini bisa menyebabkan kesalahan informasi bagi pembaca yang umum memahami sejarah kenabian umat islam. terimakasih
BalasHapus