Kamis, 25 Desember 2014

ARTIKEL PENDEKATAN CTL

PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR  MATEMATIKA 
MATERI BANGUN RUANG MELALUI PENDEKATAN CTL
PESERTA DIDIK KELAS VI DI SD NEGERI BATURSARI 3
 SEMESTER 1TAHUN PELAJARAN 2013/2014

Oleh: Bambang Irianto, S.Pd.SD




ABSTRAK : Rendahnya hasil belajar peserta didik kelas VI SD Negeri Batursari 3, dalam penghitungan volume yang hanya mencapai rata-rata 50,55,  hanya 15 (43%) dari 37 peserta didik yang tuntas dengan KKM 70. Keadaan seperti itu terjadi karena peserta didik kurang motivasi tidak dalam pembelajaran matematika. Untuk mengatasi hal tersebut maka guru segera ambil tindakan dengan mengadakan Penelitian Tindakan Kelas  (PTK).            
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsi proses pembelajaran dan besaran peningkatan hasil belajar pada materi pokok penghitungan volume dan memaparkan perilaku belajar  (keaktifan dan keterampilan proses) peserta didik.yang telah mendapat perlakuan pembelajaran dengan pendekatan Contekstual Theaching and Learning (CTL).
Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus.Masing-masing siklus dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan. Untuk memperoleh data  yang lengkap dan  akurat, maka peneliti berdiskusi dengan kolaborator untuk menentukan langkah selanjutnya.
            Hasil  penelitian  dari masing-masing siklus menunjukkan bahwa prestasi hasil belajar peserta didik selalu meningkat. Dari rata-rata 79,44(siklus I) menjadi 81,11(siklus II). Keaktifan peserta didik dari rata-rata 84% (siklusI) menjadi 90% (siklusII). Sehingga dapat diambil simpulan bahwa,” Pendekatamn CTL  dapat meningkatkan motivasi dan prestasi hasil belajar peserta didik dalam menentukan volume peserta didik VI SD di Negeri Batursari 3.”.
 
Kata kunci  : Pendekatan kontekstual, keaktifan dan keterampilan proses.

           
PENDAHULUAN
            Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan tehnologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Perkembangan yang sangat pesat dalam tehnologi  informasi saat ini juga dilandasi salah satunya oleh ilmu matematika. Untuk menguasai tehnologi apalagi menciptakan tehnologi di masa yang akan datangpun memerlukan penguasaan ilmu matematika sejak dini.  Agar peserta didik mampu menghadapi dan mengikuti perubahan zaman yang semakin berkembang dengan pesat., diperlukan latihan dalam bertindak atas dasar pemikiran secara logis, analitis, sistimatis, kritis, dan kreatif serta kerjasama yang tinggi. Hal tersebut diperlukan agar peserta didik mampu memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk selalu bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif. (BSNP:1-3)
            Pelaksanaan pembelajaran di SD Negeri Batursari 3, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, masih menggunakan metode penugasan. Sehingga motivasi belajar peserta didik kurang ,dan prestasi hasil belajar rendah, rata-rata kelas berada di bawah KKM yang telah ditetapkan yaitu 62,
Itu menunjukkan bahwa Motivasi dan hasil belajar peserta didik  rendah”. Dari 37 peserta didik baru 15 (43% ) peserta didik yang telah mendapat nilai di atas KKM (70). Sementara yang lain sebanyak  22 ( 57% )peserta didik  sisanya mendapat nilai dibawah KKM ( 70 ) Nilai rata-rata kelasnya hanya 50,55
            Hal tersebut terjadi karena pada saat pemebelajaran berlangsung di kelas tidak tercipta ketertiban, artinya guru tidak dapat menguasai kelas secara maksimal Hasil ulangan peserta didikpun masih jauh dari harapan.
            Di samping hal-hal di atas guru saat mengupas materi terlalu cepat.  Dan bahasa gurupun kurang dipahami anak Guru tidak mengaktifkan peserta didik , Peserta didik juga  tidak disediakan buku sumber sehingga peserta didik yang tidak aktif mengikuti pembelajaran tidak punya catatan apapun sampai pembelajaran usai. Juga pada akhir pertemuan guru tidak memberi tugas rumah sehingga peserta didik tidak ada motivasi untuk belajar, sehingga hasil belajar peserta didik rendah.
Dalam hal ini guru harus mencari dan menggunakan pendekatan  pembelajaran yang efektif, inovatif dan menyenangkan.
Bangun ruang  (geometri) biasanya dipergunakan dalam mengemas barang-barang yang dibutuhkan dalam rumah tangga, misalnya : bungkus roti, dus sarimi, dus susu, kaleng roti, kaleng susu, kaleng cat, dan lain-lain,   atau bahkan  sebagai model dalam bentuk alat-alat rumah tangga. Jadi benda-benda ini sudah dikenal dilingkungan peserta didik, sehingga pendekatan yang diambil oleh guru adalah pendekatan Contectual Teaching and Learning ( CTL )
            Rumusan masalah pokok dalam penelitian ini adalah1) Bagaimanakah proses pembelajaran  geometri dengan pendekatan CTL di kelas VI SD Negeri Batursari 3? 2) Seberapa besarkah Pendekatan CTL dapat menumbuhkan motivasi dan meningkatkan prestasi hasil belajar serta perubahan perilaku yang menyertai  peserta didik dalam belajar materi  geometri kompetensi penghitungan volume pada peserta didik  kelas VI di SD Negeri Batursari 3?
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskrispi  proses pembelajaran  geometri dengan pendekatan CTL di kelas VI SD Negeri Batursari 3dan mendesakripsi besaran  peningkatan motivasi, hasil dan perubahan perilaku yang menyertai peserta didik dalam belajar geometri kompetensi penghitungan volume bangun ruang melalui pendekatan CTL.


LANDASAN TEORITIS
Hakikat  Motivasi
            Menurut Syamsu (1994) motivasi berasal dari kata motiv yang berarti keadaan dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk bertindak melakukan kegiatan dalam rangka pencapaian tujuan.
            Menurut Whitaker yang dikutip Darsono 2000) motivasi adalah kondisi atau keadaan internal yang mengaktifkan atau memberi kekuatan pada organisme dan mengarahkan tingkah laku organisme mencapai tujuan.
            Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah dorongan yang berasal dari diri seseorang untuk mencapai tujuan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi adanya motivasi
(1.)  Cita-cita atau aspirasi karena cita-cita merupakan suatu target yang ingin dicapai adalah tujuan yang ditetapkan dalamm suatu kegiatan yang bermakna.(2.) Kemampuan belajar, peserta didik yang mempunyai kemampuan belajar tinggi biasanya termotivasi dalam belajar.

Hakikat  CTL
Menurut  Jonson ( 2002 ) CTL adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong peserta didik untuk melihat makna yang terkandung dalam materi akademik yang sedang mereka pelajarai dengan menghubungkan subjek akademik sengan kontek kehidupan sehari-hari melalui konteks keadaan pribadi, sosial, dan budaya.
CTL  menurut Nurhadi ( 2003 ) adalah konsep belajar yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata peserta didik. Dan juga mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan pengetahuanya yang dimiliki sendiri-sendiri. Peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan  dan mengkonstruksi sendiri ketika mereka belajar.
Dari beberapa pendapat di atas , ada beberapa perbedaan namun pada dasarnya pendekatan Contectual Teaching and Learning ( CTL ) merupakan pendekatan pembelajaran dengan konsep pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi peserta didik. Dalam pembelajaran ini peserta didik mengalami sendiri, sedangkan guru hanya sebagai vasilitator dan motivator.

Dasar Teori Model Pembelajaran Kontektual
            Menurut Jonhson (2004) ada tiga pilar dalam sistim CTL, yaitu :CTL mencerminkan prinsip kesaling-bergantungan. Kesaling-bergantungan mewujudkan diri, misalnya para peserta didik bergabung untuk memecahkan masalah dan ketika para guru mengadakan pertemuan dengan rekannya. Hal ini tampak jelas ketika subjek yang berbeda dihubungkan, dan ketika kemitraan menggabungkan sekolah dengan dunia bisnis dan komunitas.
CTL mencerminkan prinsip difensiasi. Difensiasi menjadi nyata ketika CTL menantang para peserta didik untuk saling menghormati keunikan masing-masing, untuk menjadi kreatif, untuk bekerja sama, intuk menghasilkan gagasan dan hasil baru yang berbeda, dan untuk menyadari bahwa keragaman adalah tanda kemantapan dan kekuatan.
CTL mencerminkan prinsip pengorganisasian diri. Pengorganisasian diri terlihat ketika para peserta didik mencari dan menemukan kemampuan dan minat mereka sendiri yang berbeda, mendapat manfaat dari umpan balik yang diberikan oleh penilaian autentik, mengulas usaha-usaha mereka dalam tuntunan tujuan yang jelas dan standar yang tinggi, dan berperan serta dalam kegiatan-kegiatan yang berpusat pada peserta didik yang membuat hati mereka bernyanyi.

Komponen Model Pembelajaran  CTL
            Pembelajaran berbasis CTL menurut (Sanjaya, 2004) melibatkan tujuh komponen pembelajaran, Yakni : (1). konstruktivisme (konstruktivism), (2). bertanya (questioning), (3). menemukan (inquiri), (4). masyarakat belajar (learning community), (5). pemodelan (modeling), (6). Refleksi (reflektion)  dan (7). penilaian sebenarnya (authentic assessmen)

 
METODE  PENELITIAN
Seting Penelitian
Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester 1 tahun pelajaran 2013/2014. Siklus 1 dilaksanakan pada hari Selasa 23 Oktober 2013 dan  Kamis, 25 Oktober 2013. Siklus 2 pada hari Selasa 6 November dan Kamis, 8  November 2013.  Adapun pembagian waktu penelitian yang lebih jelas dapat dilihat pada tabel 3.1 di bawah ini.
Tabel 3. 1
Alokasi Waktu Penelitian
No
Uraian Kegiatan

September
Oktober
November
Desember
1
Menyusun Proposal PTK
V




2
Menyusun perangkat dan Istrumen Penelitian

V


3
Pengumpulan Data dengan melakukan tindakan :
a. Siklus 1
b. Siklus 2
 



V




V

4
Analisis Data



V

5
Menyusunan Laporan Hasil Penelitian




V
                       
Tempat Penelitian
Tempat penelitian ini dilakukan di kelas VI  SD Negeri Batursari 3 Kecamatan Mranggen dengan jumlah  Peserta Didik 37. Fokus pembelajaran pada mata pelajaran Matematika. Penelitian ini dilaksanakan dua tindakan atau dua siklus tiap-tiap siklus 2 x pertemuan. Peneliti selama melakukan penelitian sebagai guru yang melaksanakan kegiatan pembelajaran.

Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah Peserta Didik kelas VI  SD Negeri Batursari  3 tahun pelajaran 2013/2014 yang jumlahnya sebanyak 37 Peserta Didik. Terdiri atas Peserta Didik laki-laki sebanyak 19 Peserta Didik dan perempuan 18 Peserta Didik.
Subjek penelitian ini berasal dari latar belakang keluarga yang tidak sama. Pekerjaan orang tua Peserta Didik terdiri atas pegawai negeri,  pedagang, dan pegawai swasta. Usia mereka rata-rata 11-13 tahun. Tempat tinggal Peserta Didik kelas VI SD Negeri Batursari 3  di sekitar  lokasi SD.

Sumber Data
Sumber data dari penelitian ini: 1) peserta didik, 2) guru kelas,   dan teman sejawat. Data yang diperoleh berupa (1) daftar nilai, 2) catatan harian, 3) hasil observasi  dan  saran dari observer yang dilakukan sebelum, selama, dan sesudah tindakan penelitian, dan 4) dokumentasi selama tindakan diberikan.

Teknik dan Alat Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data berbentuk  tes dan non tes. Tes digunakan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar Peserta didik selama kegiatan tindakan pembelajaran  Matematika materi  volume bangun ruang. Teknik non tes berupa observasi dengan lembar observasi dan catatan harian digunakan untuk menilai aktivitas dan keaktifan peserta didik selama kegiatan dilakukan.
Alat pengumpulan data tergantung pada teknik yang digunakan. Teknik tes, alatnya dapat berbentuk butir soal tes. Teknik non tes, alatnya dapat  berbentuk pedoman, indikator keberhasilan, dan lembar observasi.

B.     Validasi Data
Dari sejumlah instrumen yang digunakan harus memiliki validitas yang handal. Menurut  Arikunto (1987:136) yang dimaksud dengan validitas adalah “suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalitan atau kesahihan sesuatu instrumen.
Dalam penelitian ini pemeriksaan keabsahan data dilakukan dengan triangulasi (triangulation), pengecekan dengan teman sejawat (peer debriefing), dan penggunaan referensi yang akurat (referention adequancy). Validitas teman sejawat, yakni teman sejawat yang menganalisis dan mengoreksi soal-soal yang telah disusun peneliti sebelum digunakan dalam penelitian. Adapun hasil dari validasi teman sejawat menyatakan bahwa soal-soal sesuai untuk mengevaluasi hasil belajar Peserta Didik dalam materi mengidentifikasi benua-benua.

C.    Analisis Data
Teknik analisis data merupakan upaya mencari dan menata secara sistematis hasil dari observasi, tindakan dan dokumentasi untuk meningkatkan pemahaman penelitian terhadap kasus yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan bagi orang lain. Kegiatan analisis merupakan refleksi dari data sebelum tindakan dan hasil selama dan setelah tindakan.
Analisis data dalam penelitian ini disajikan dalam bentuk analisis kualitatif dengan metode pemaparan secara deskriptip komparatif, yakni mendeksripsikan semua temuan dalam penelitian disertai dengan data-data kuantitatif yang dianalisis secara sederhana (persentase) dan deskriptif interpretatif.
Data tentang keaktifan belajar Peserta Didik dalam pembelajaran  dengan ini dianalisis sebagai berikut:

               Indikator                                                 skor
A. Tampak   maksimal                                         4
B.  Tanpak  sebagian besar                                   3
C.  Tampak sebagian kecil                                    2
D. Tidak tampak                                                  1

             Analisis Kriteria Keberhasilan
86 – 100%                                     = baik sekali
75 – 85 %                                      = baik
60 – 74 %                                      = cukup
46    – 59 %                                     = kurang


Indikator Kinerja
Indikator keberhasilan dalam penelitian ini dalam bentuk peningkatan aktivitas dan hasil belajar Peserta Didik khusus pada pemahaman terhadap benua-benua. Adapun indikator kinerja tersebut adalah: 1) adanya peningkatan perolehan nilai rata-rata ulangan harian dari 55,95 menjadi minimal 70, 2) adanya pencapaian KKM Peserta Didik dari yang lulus KKM sebanyak  16 Peserta Didik  (44,44%)  menjadi sedikitnya 30 Peserta Didik (83%),  dan 3) peningkatan aktivitas belajar Peserta Didik dalam pembelajaran dengan kriteria minimal baik.

Prosedur Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas, yang merupakan tindakan pembelajaran berdasarkan permasalahan yang dijumpai di kelas. Penelitian ini dilakukan oleh guru kelas selaku peneliti, dengan bantuan teman sejawat sebagai kolaborator dan observer selama kegiatan pembelajaran tindakan  berlangsung.  



HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
HASIL PENELITIAN
Deskripsi Pra Siklus
Berdasarkan hasil pengamatan dan refleksi diri,  pembelajaran matematika di SD Negei Batursari 3 pada kondisi  awal (pra siklus) yang menunjukkan rata-tara nilai tes formatif yang hanya 50,55 serta 13 (35%) siswa dari 37 yang tuntas dengan KKM 70,  maka penulis segera berdiskusi dengan kolaborator(Pembimbing,teman sejawat ). Dari hasil diskusi dan saran dari kolaborator serta hasil dari refleksi penulis, maka penulis harus segera mengambil tindakan guna mengatasi masalah yang sedang terjadi dalam proses pembelajaran. Tindakan yang paling tepat adalah dengan cara mengadakan Penelitian Tindakan kelas.

Deskripsi Siklus 1
Proses Pembelajaran dengan Pendekatan CTL
Berdasarkan hasil pengamatan dan refleksi diri,  pembelajaran matematika di SD Negei Batursari 3 pada kondisi  awal (pra siklus) yang menunjukkan rata-tara nilai tes formatif yang hanya 50,55 serta 13 (35%) siswa dari 37 yang tuntas dengan KKM 70, maka penulis segera berdiskusi dengan kolaborator(Pembimbing,teman sejawat ). Dari hasil diskusi dan saran dari kolaborator serta hasil dari refleksi penulis, maka penulis harus segera mengambil tindakan guna mengatasi masalah yang sedang terjadi dalam proses pembelajaran. Tindakan yang paling tepat adalah dengan cara mengadakan Penelitian Tindakan kelas.
Penelitian  dilaksanakan di SD Negeri  Batursari 3 mulai tanggal 27  September sampai dengan 30 Oktober  2013  pada  kelas VI.
            Kegiatan yang dilakukan peneliti dalam perencanaan  adalah sebagai berikut: 1) Identifikasi masalah dan penetapan alternatif penggunaan media; 2) Membuat skenario pembelajaran dengan pendekatan CTL, yang akan dilaksanakan pada  siklus pertama dalam dua kali pertemuan, 3) Mempersiapkan  balok dan kubus serta kubus satuan, 4) Menyusun materi tentang rumus volume bangun ruang, 5) Membuat  lembar pengamatan sebagai alat pengumpulan data, 6) Menyusun alat evaluasi untuk mengetahui sejauh mana hasil akhir pembelajaran, 7) Menganalisa hasil pembelajaran dan refleksi, 8) Mengembangkan format pengumpulan data bersama kolaborator.
Secara umum prosedur pelaksanaan proses pembelajaran dilakukan dalam dua kali pertemuan setiap pertemuan berlangsung melalui tahap-tahap kegiatan awal ( apersepsi ), kegiatan inti dan kegiatan akhir.  Secara khusus, kegiatan pembelajaran dilakukan melalui serentetan aktivitas yang tercantum dalam kegiatan inti RPP siklus I.  Dalam pelaksanaan proses pembelajaran siklus I  penulis melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut :

 Kegiatan Awal ( 10 menit )
   Aparsepsi:
      Setelah dibuka dengan salam  dan selesai mengabsen,guru
      mengelompokkan siswa  menjadi 4 kelompok,kemudian  siswa
      diminta untuk :
1.         Siswa menulis tugas rumah.
2.         Mengobservasi model  bangun ruang (balok dan kubus ) yang telah disediakan guru dan siswa      untuk dikelompok-kelompokan sesuai jenisnya.
3.         Hasil obervasi dilaporkan dan ditulis di papan tulis.
4.         Apakah ada perbedaan antara kubus dan balok?
5.         Coba kamu amati di mana perbedaanya!
6.         Sebutkan perbedaan tersebut!
1.        Motivasi  :  
       Anak-anak !, Ilmu ukur ini sangat rumit, sehingga harus dilakukan      dengan teliti dan hati-hati. Ilmu ukur juga sangat penting dalam kehidupan kita nanti, oleh sebab itu kamu ikuti pelajaran ini dengan baik agar kamu menjadi jelas dan nilaimu lebih bailk!



Kegiatan Inti ( 40 menit )
  1. Siswa diminta memberikan penjelasan cara membedakan bangun ruang kubus dan bangun ruang balok
  2. Siswa diminta memperhatikan demonstrasi menentukan volume dengan cara memasukan kubus-kubus satuan ke dalam kubus dan    balok .
  3. Siswa diminta menghitung banyaknya kubus satuan yang dapat ditampung oleh kubus dan balok.
  4. Siswa diminta mencatat ukuran dan isi dari kubus dan balok tadi.
  5. Siswa disuruh memprediksikan isi kubus yang ukuran sisinya 10 cm, dan isi balok yang ukuran panjanya 8 cm dan lebarnya 6 cm dan tinggi 2 cm.
  6. Siswa diminta berdiskusi kelompok.
    1. Siswa menulis dan membandingkan fakta- fakta  yang ada di papan tulis, yang merupakan volume kubus dan balok kemudian diminta menulis kesimpulan yang     merupakan rumus volume kubus dan balok.
    2. Siswa diminta membacakan hasil diskusi dalam pembahasan klasikal
  7. Siswa diminta menerapkan rumus yang telah diketemukan untuk  menghitung volume kubus dan balok  yang telah ditentukan    ukuranya  di buku masing-masing dan di papan tulis secara bergantian yang disertai tanya jawab.
Kegiatan Akhir ( 20 menit )
1.       Siswa disuruh menyampaikan kesimpulan dan menulis di buku masing – masing disertai tanya jawab dan tukar pendapat.
2.       Siswa diminta mengingat-ingat kembali apa yang telah kita pelajari .
3.       Siswa melakukan evaluasi
4.       Guru melakukan pengawasan  terhadap siswa saat mengerjakan evaluasi
5.       Guru mengoreksi dan menganalisa hasil evaluasi.
6.       Guru melakukan tindak lanjut.


Hasil Belajar Siklus 1
Hasil pembelajaran Materi  volume bangun ruang pada kegiatan tindakan siklus 1  dengan pendekatan CTL dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.
                          Tabel 1 Analisis Hasil Nilai Pembelajaran Siklus 1

No
Rentan Nilai
Jumlah
Persentase (%)
1
50
1
2,70
2
60
7
18,91
3
70
10
27,03
4
80
11
29,73
5
90
8
21,63
Jumlah
2770.00
100
Nilai Tertinggi
90.00

Nilai Terendah
50.00

Rata-Rata
74.86

Standar Deviasi
11.21

Tuntas
29.00
78,37
Tidak tuntas
8.00
21,63

Berdasarkan tabel tersebut dapat dipaparkan bahwa hasil pembelajaran siklus 1 menunjukkan bahwa sebanyak 29 (78,37%) peserta didik mencapai ketuntasan dan 8 (21,63%) peserta didik masih mengalami tidak tuntas. Rata-rata kelas sebesar  74,86, dengan  nilai tertinggi 90 dan nilai terendah 50 serta standar deviasi 11,21.  
Refleksi Siklus 1
Berdasarkan refleksi hasil pembelajaran dikemukakan beberapa kekurangan yang dapat digunakan sebagai acuan untuk kegiatan siklus berikutnya. Kelemahan pada siklus 1 antara lain: 1) peserta didik masih ada yang kurang kerja sama dalam kegiatan kelompok,13) ketika mengerjakan tugas masih banyak yang salah, 4) Nilai rata-rata belum mencapai 75, baru mencapai 74,86, dan 5) Aspek kerja sama dan komunikatif belum mencapai mulai berkembang.
Deskripsi Siklus 2
Proses Pembelajaran
Rencana yang akan dilaksanakan pada sikluas II ini adalah melaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Contectual Theaching And Learning yang dilaksanakan pada tanggal 25 pertemuan I dan tanggal 26 Oktober 2013 untuk pertemuan keduanya. Dalam pelaksanaaan pembelajaran ini peneliti bekerja sama dengan kolaborator. Sementara itu peneliti berada di depan kelas sebagai pengajar sedangkan kolaborator duduk di belakang untuk mengamati jalannya perbaikan pembelajaran dan mencatat kejadian-kejadian yang terjadi selama proses penbelajaran baik yang menyangkut tentang keberadaan siswa, guru maupun kelas itu dendiri.

Hasil Belajar Siklus 2
Peningkatan hasil belajar peserta didik kelas VI SD Negeri Batursari 3 dalam pembelajaran IPS materi mengidentifikasi benua Australia melalui pembelajaran dengan model pembelajaran petualangan si Unyil dengan kuis interaktif siklus 2 dapat dilihat dalam Tabel 2
             Tabel 2 Hasil Belajar Peserta Didik Siklus 2

No
Rentan Nilai
Jumna
Persentase (%)
1
60
2
5,41
2
70
3
8,11
3
80
15
40,54
4
90
12
32,43
5
100
5
13,51
Jumlah
3110
100
Nilai Tertinggi
100,00

Nilai Terendah
60.00

Rata-Rata
84,05

Standar Deviasi
10,13

Tuntas
35.00
94,59
Tidak tuntas
2.00
5,41

Berdasarkan tabel tersebut dapat dipaparkan bahwa ada peningkatan hasil belajar  Matematika melalui pembelajaran dengan  pendekatatan CTL di kelas VI SD Negeri Batursari 3. Rata-rata kelas 84.05, dengan nilai tertinggi 100 dan terendah 60. Peserta didik yang tuntas KKM 70 sebanyak 35 (94,59%) dan masih ada 2 (5,41%) peserta didik yang belum tuntas. Dua peserta didik yang belum tuntas diberikan kegiatan remidi agar mencapai nilai 70 sehingga tuntas dalam kompetensi mengidentifikasi benua-benua. Standar deviasi hasil belajar tersebut 10,13.

Refleksi Siklus 2
Kegiatan pembelajaran pada siklus 2 menurut masukan dari teman sejawat dan berdasarkan analisis dari hasil penelitian sudah berjalan dengan optimal. Kekurangan dari pembelajaran ini adalah masih ada 2 peserta didik  yang belum tuntas, karena masih kurang konsentrasi dalam mengikuti pembelajaran. Adapun kelebihannya adalah hasil belajar peserta didik meningkat, peserta didik lebih tertarik dalam pembelajaran
Pembahasan
a.      Proses Pembelajaran Petualangan Si Unyil dengan Kuis Interaktif
Proses pembelajaran dengan  model pembelajaran petualangan si Unyil dengan kuis interaktif yang dilaksanakan pada siklus 1 dan 2, mulai dari tahap awal sampai akhir pembelajaran ternyata  dapat meningkatkan  aktivitas  belajar peserta  didik. Daya tarik siswa terhadap langkah-langkah  proses pembelajaran dengan model pembelajaran petualangan si Unyil dengan kuis interaktif tampak dari aktivitas  belajar peserta didik baik pada  siklus 1 maupun 2 dalam permainan yang dilakukan. Hal ini mendukung hasil penelitian dari Rumiasih (2008:45) yang menyatakan bahwa pembelajaran dengan CD Interaktif meningkatkan keaktifan belajar siswa.
Dengan demikian, hipotesis yang dikemukakan diterima yakni pembelajaran dengan memanfaatkan model pembelajaran petualangan si Unyil dengan kuis interaktif terbukti dapat meningkatkan aktivitas dan hasil  belajar peserta didik  dalam pembelajaran IPS  materi mengidentifikasi benua-benua  di kelas VI  SD Negeri  Batursari 3, semester 1 tahun pelajaran 2013/2014.
b.      Perubahan Aktivitas Belajar Peserta Didik
Peningkatan aktivitas belajar peserta didik dari sebelum siklus, siklus 1, dan siklus 2 dalam pembelajaran ini sesuai dengan pendapat dari Joyce (2011:177) yang menyatakan bahwa model pembelajaran yang digunakan guru akan mempengaruhi tingkat kreatifitas dan prestasi belajar anak. Guru tidak sekadar sebagai penyaji materi saja, namun guru juga harus membangkitkan keaktifan anak dalam belajar.
Dengan demikian hipotesis yang dikemukakan diterima, yakni pembelajaran dengan memanfaatkan model pembelajaran CTL terbukti dapat meningkatkan aktivitas belajar peserta didik  dalam pembelajaran IPS  materi mengidentifikasi benua-benua  di kelas VI  SD Negeri  Batursari 3, semester 1 tahun pelajaran 2013/2014.
Peningkatan aktivitas belajar materi mengidentifikasi benua-benua dengan pembelajaran melalui model pembelajaran, menimbulkan hasil belajar yang meningkat pula. Adapun data peningkatan hasil belajar tersebut dapat dilihat dalam tabel 3 berikut.
Tabel 3 Data Perkembangan Nilai Peserta Didik  Sebelum Tindakan Dan Sesudah Tindakan
No
Nilai
Jumlah Peserta Didik

Sebelum Tindakan
Siklus 1
Siklus 2

1
10




2
20




3
30
2



4
40
5



5
50
8
1


6
60
7
7
2

7
70
10
10
3

8
80
3
11
15

9
90
2
8
12

10
100


5

Jumlah 
2200
2770
3110

Rata-rata
59,46
74,86
84,05

Nilai Tertinggi
90
90
100

Nilai Terendah
30
50
60

Standar Deviasi
15,45
11,21
10,13

Tuntas
15
29
35

Tidak tuntas
22
8
2


Berdasarkan  nilai dalam tabel tersebut dapat dipaparkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar peserta didik dengan memanfaatkan model pembelajaran petualangan si Unyil dan kuis interaktif di kelas VI A SD Negeri Batursari 3 mata pelajaran Matematika materi voolume bangun ruang. Nilai rata-rata kelas meningkat, tingkat ketuntasan juga meningkat.
Pembelajaran dengan memanfaatkan model pembelajaran  CTL di kelas VI  SD Batursari 3,  menunjukkan hasil belajar meningkat dari sebelun siklus, siklus  1, dan siklus 2. Dengan melihat perkembangan nilai peserta didik dalam tabel perkembangan dan histogram tersebut di atas dapat dikatakan bahwa ada perbedaan yang signifikan dari hasil belajar peserta didik antara kegiatan pembelajaran yang dilakukan sebelumnya yaitu pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah dan tugas, dengan pembelajaran setelah dikenai tindakan (pendekatan CTL) dalam pembelajaran Matematika di kelas VI  SD Batursari 3 pada siklus 1 dan 2 .
Hasil penelitian ini menyatakan bahwa dalam pemanfaatan model pembelajaran CTL dalam pembelajaran Matematika kelas VI semester 1 di SD Batursari 3 tahun pelajaran 2013/2014, khususnya pada stándar kompetensi bangun ruang, motivasi dan hasil belajar  peserta  didik meningkat. Melalui perbandingan nilai rata-rata, pada nilai sebelum tindakan, siklus 1 dan siklus ke 2, yaitu 59,56; 74,86;  dan  84,05 dapat ditentukan pula bahwa pembelajaran ini bernilai positif, artinya dengan memanfaatkan model pembelajaran CTL, dapat dijadikan sarana efektif untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar dalam pembelajaran Matematika di kelas VI SD Negeri Batursari 3.


PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan  pembahasan dapat disimpulkan  bahwa dengan menggunakan pendekatan CTL dapat meningkatkan motivasi dan  hasil  serta  terjadi perubahan perilaku yang menyertai peserta didik dalam belajar geometri kompetensi menentukan volume bangun ruang pada peserta didik kelas VI semester Ganjil Tahun pelajaran 2013/2014 di SD Negeri Batursari 3 , Kecamatan Mranggen, kabupaten Demak.

Saran
            Bertolak dari hasil penelitian yang diperoleh penulis, maka penulis , menyampaikan saran kepada rekan-rekan guru agar Menggunakan Pendekatan Contextual teaching and Learning sebagai alternatif dalam belajar geometri kompetensi menentukan volume bangun ruang. Dalam proses pembelajaran matematika diperlukan pendekatan yang variasi agar motivasi dan hasil belajar peserta didik meningkat



DAFTAR PUSTAKA
Arikunto,Suharsini,dkk,2006.Penelitian Tindakan Kelas.Jakarta     : PT Bumi Aksara
Bukhori,dkk. 2003,Gemar Belajar Matematika 6 untuk kelas VI.Semarang : Aneka Ilmu
BSNP,2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta : BSNP
Depdiknas,2003, Model Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar.
           Jakarta  : Dikdasmen
Subiyantoro,2009.Penelitian Tindakan Kelas. Semarang: CV Widya karya.
Sugiyanto,2009.Model-model Pembelajaran Inovatif. Surakarta  : Mata Padi Presindo.
Susmiyati, 2009. Pedagogik ( Jurnal Pendidikan Dasar dan menengah.
Semarang  : Laboratorium Baca Tulis Universitas negeri Semarang.

Bambang Irianto, S.Pd Guru kelas 6 SD Negeri Batursari 3

           



Tidak ada komentar:

Posting Komentar