PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA
MATERI BANGUN RUANG MELALUI PENDEKATAN CTL
PESERTA
DIDIK KELAS VI DI SD NEGERI BATURSARI 3
SEMESTER 1TAHUN
PELAJARAN 2013/2014
Oleh: Bambang Irianto, S.Pd.SD
ABSTRAK : Rendahnya hasil belajar peserta didik kelas VI SD
Negeri Batursari 3, dalam penghitungan volume yang hanya mencapai rata-rata
50,55, hanya 15 (43%) dari 37 peserta didik yang tuntas dengan KKM 70. Keadaan seperti itu terjadi karena peserta didik
kurang motivasi tidak dalam pembelajaran matematika. Untuk mengatasi hal
tersebut maka guru segera ambil tindakan dengan mengadakan Penelitian Tindakan
Kelas (PTK).
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsi
proses pembelajaran dan besaran
peningkatan hasil belajar pada materi pokok penghitungan volume dan memaparkan
perilaku belajar (keaktifan dan
keterampilan proses) peserta didik.yang telah mendapat perlakuan pembelajaran
dengan pendekatan Contekstual Theaching and Learning (CTL).
Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus.Masing-masing
siklus dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan. Untuk memperoleh data yang lengkap dan akurat, maka peneliti berdiskusi dengan
kolaborator untuk menentukan langkah selanjutnya.
Hasil penelitian
dari masing-masing siklus menunjukkan bahwa prestasi hasil belajar peserta
didik selalu meningkat. Dari rata-rata 79,44(siklus I) menjadi 81,11(siklus
II). Keaktifan peserta didik dari rata-rata
84% (siklusI) menjadi 90% (siklusII). Sehingga dapat diambil simpulan bahwa,”
Pendekatamn CTL dapat meningkatkan
motivasi dan prestasi hasil belajar peserta didik dalam menentukan volume peserta
didik VI SD di Negeri Batursari 3.”.
Kata kunci
: Pendekatan kontekstual, keaktifan dan keterampilan proses.
Matematika
merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan tehnologi modern,
mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir
manusia. Perkembangan yang sangat pesat dalam tehnologi informasi saat ini juga dilandasi salah
satunya oleh ilmu matematika. Untuk menguasai tehnologi apalagi menciptakan
tehnologi di masa yang akan datangpun memerlukan penguasaan ilmu matematika
sejak dini. Agar peserta didik mampu
menghadapi dan mengikuti perubahan zaman yang semakin berkembang dengan pesat.,
diperlukan latihan dalam bertindak atas dasar pemikiran secara logis, analitis,
sistimatis, kritis, dan kreatif serta kerjasama yang tinggi. Hal tersebut
diperlukan agar peserta didik mampu memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan
informasi untuk selalu bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak
pasti dan kompetitif. (BSNP:1-3)
Pelaksanaan
pembelajaran di SD Negeri Batursari 3, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak,
masih menggunakan metode penugasan. Sehingga motivasi belajar peserta didik kurang ,dan prestasi hasil belajar rendah, rata-rata kelas berada di bawah KKM yang telah
ditetapkan yaitu 62,
Itu menunjukkan
bahwa “ Motivasi dan hasil belajar peserta
didik rendah”. Dari 37 peserta didik baru 15 (43%
) peserta didik yang telah mendapat nilai di atas KKM (70). Sementara yang
lain sebanyak 22 ( 57% )peserta didik sisanya mendapat nilai dibawah KKM ( 70 )
Nilai rata-rata kelasnya hanya 50,55
Hal tersebut
terjadi karena pada saat pemebelajaran berlangsung di kelas tidak tercipta
ketertiban, artinya guru tidak dapat menguasai kelas secara maksimal Hasil
ulangan peserta didikpun masih jauh dari harapan.
Di samping hal-hal
di atas guru saat mengupas materi terlalu cepat. Dan bahasa gurupun kurang dipahami anak Guru
tidak mengaktifkan peserta didik , Peserta didik juga tidak disediakan buku sumber sehingga peserta
didik yang tidak aktif mengikuti pembelajaran tidak punya catatan apapun sampai
pembelajaran usai. Juga pada akhir pertemuan guru tidak memberi tugas rumah
sehingga peserta didik tidak ada motivasi untuk belajar, sehingga hasil belajar
peserta didik rendah.
Dalam hal ini guru harus
mencari dan menggunakan pendekatan
pembelajaran yang efektif, inovatif dan menyenangkan.
Bangun ruang (geometri) biasanya dipergunakan dalam mengemas
barang-barang yang dibutuhkan dalam rumah tangga, misalnya : bungkus roti, dus
sarimi, dus susu, kaleng roti, kaleng susu, kaleng cat, dan lain-lain, atau
bahkan sebagai model dalam bentuk alat-alat rumah tangga. Jadi benda-benda ini sudah dikenal dilingkungan peserta didik, sehingga
pendekatan yang diambil oleh guru adalah pendekatan Contectual Teaching and
Learning ( CTL )
Rumusan masalah pokok dalam penelitian ini adalah1) Bagaimanakah proses
pembelajaran geometri dengan pendekatan
CTL di kelas VI SD Negeri Batursari 3? 2) Seberapa besarkah Pendekatan CTL dapat menumbuhkan motivasi dan meningkatkan prestasi hasil
belajar serta perubahan perilaku yang menyertai peserta didik dalam belajar materi
geometri kompetensi penghitungan volume pada peserta didik kelas VI di SD Negeri Batursari 3?
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskrispi proses pembelajaran geometri dengan
pendekatan CTL di kelas VI SD Negeri Batursari 3dan mendesakripsi besaran peningkatan motivasi, hasil dan perubahan perilaku
yang menyertai peserta didik dalam belajar geometri kompetensi
penghitungan volume bangun ruang melalui pendekatan CTL.
Hakikat Motivasi
Menurut
Syamsu (1994) motivasi berasal dari kata motiv yang berarti keadaan dalam diri seseorang
yang mendorongnya untuk bertindak melakukan kegiatan dalam rangka pencapaian
tujuan.
Menurut
Whitaker yang dikutip Darsono 2000) motivasi adalah kondisi atau keadaan
internal yang mengaktifkan atau memberi kekuatan pada organisme dan mengarahkan
tingkah laku organisme mencapai tujuan.
Dari
beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah dorongan yang
berasal dari diri seseorang untuk mencapai tujuan.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi adanya motivasi
(1.)
Cita-cita atau aspirasi karena cita-cita merupakan suatu target yang
ingin dicapai adalah tujuan yang ditetapkan dalamm suatu kegiatan yang
bermakna.(2.) Kemampuan belajar, peserta didik yang mempunyai kemampuan belajar
tinggi biasanya termotivasi dalam belajar.
Hakikat CTL
Menurut
Jonson ( 2002 ) CTL adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan
menolong peserta didik untuk melihat makna yang terkandung dalam materi
akademik yang sedang mereka pelajarai dengan menghubungkan subjek akademik
sengan kontek kehidupan sehari-hari melalui konteks keadaan pribadi, sosial,
dan budaya.
CTL menurut Nurhadi ( 2003 ) adalah konsep
belajar yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan
dengan situasi dunia nyata peserta didik. Dan juga mendorong peserta didik
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan pengetahuanya yang
dimiliki sendiri-sendiri. Peserta didik memperoleh pengetahuan dan
keterampilan dan mengkonstruksi sendiri ketika mereka belajar.
Dari beberapa pendapat di atas
, ada beberapa perbedaan namun pada dasarnya pendekatan Contectual Teaching and
Learning ( CTL ) merupakan pendekatan pembelajaran dengan konsep pembelajaran
yang disesuaikan dengan kondisi peserta didik. Dalam pembelajaran ini peserta
didik mengalami sendiri, sedangkan guru hanya sebagai vasilitator dan motivator.
Dasar Teori Model Pembelajaran Kontektual
Menurut Jonhson (2004) ada tiga pilar dalam sistim
CTL, yaitu :CTL mencerminkan prinsip kesaling-bergantungan. Kesaling-bergantungan mewujudkan diri, misalnya para peserta didik bergabung
untuk memecahkan masalah dan ketika para guru mengadakan pertemuan dengan
rekannya. Hal ini tampak jelas ketika subjek yang
berbeda dihubungkan, dan ketika kemitraan menggabungkan sekolah dengan dunia bisnis dan komunitas.
CTL mencerminkan prinsip
difensiasi. Difensiasi menjadi nyata ketika CTL menantang para peserta didik
untuk saling menghormati keunikan masing-masing, untuk
menjadi kreatif, untuk bekerja sama, intuk menghasilkan gagasan dan hasil baru
yang berbeda, dan untuk menyadari bahwa keragaman adalah tanda kemantapan dan
kekuatan.
CTL mencerminkan prinsip
pengorganisasian diri. Pengorganisasian diri terlihat ketika para peserta didik
mencari dan menemukan kemampuan dan minat mereka sendiri yang berbeda, mendapat
manfaat dari umpan balik yang diberikan oleh penilaian autentik, mengulas
usaha-usaha mereka dalam tuntunan tujuan yang jelas
dan standar yang tinggi, dan berperan serta dalam kegiatan-kegiatan yang
berpusat pada peserta didik yang membuat hati mereka bernyanyi.
Komponen Model Pembelajaran CTL
Pembelajaran berbasis CTL menurut (Sanjaya, 2004)
melibatkan tujuh komponen pembelajaran, Yakni : (1). konstruktivisme
(konstruktivism), (2). bertanya (questioning), (3). menemukan (inquiri), (4). masyarakat belajar (learning community),
(5). pemodelan (modeling), (6). Refleksi (reflektion) dan (7). penilaian sebenarnya (authentic
assessmen)
METODE PENELITIAN
Seting Penelitian
Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester 1 tahun
pelajaran 2013/2014. Siklus 1 dilaksanakan pada hari Selasa 23 Oktober 2013
dan Kamis, 25 Oktober 2013. Siklus 2
pada hari Selasa 6 November dan Kamis, 8
November 2013. Adapun pembagian
waktu penelitian yang lebih jelas dapat dilihat pada tabel 3.1 di bawah ini.
Tabel
3. 1
Alokasi
Waktu Penelitian
|
No
|
Uraian Kegiatan
|
September
|
Oktober
|
November
|
Desember
|
|
1
|
Menyusun Proposal PTK
|
V
|
|
|
|
|
2
|
Menyusun perangkat dan Istrumen
Penelitian
|
|
V
|
|
|
|
3
|
Pengumpulan Data dengan melakukan
tindakan :
a. Siklus 1
b. Siklus 2
|
|
V
|
V
|
|
|
4
|
Analisis Data
|
|
|
V
|
|
|
5
|
Menyusunan Laporan Hasil Penelitian
|
|
|
|
V
|
Tempat Penelitian
Tempat
penelitian
ini dilakukan
di kelas
VI SD Negeri Batursari 3 Kecamatan
Mranggen dengan jumlah Peserta Didik 37. Fokus
pembelajaran pada mata pelajaran Matematika. Penelitian ini dilaksanakan dua tindakan atau dua siklus tiap-tiap siklus 2 x
pertemuan. Peneliti selama melakukan penelitian sebagai guru yang melaksanakan
kegiatan pembelajaran.
Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah Peserta Didik kelas VI SD Negeri Batursari 3 tahun pelajaran 2013/2014 yang jumlahnya
sebanyak 37 Peserta Didik. Terdiri atas Peserta Didik
laki-laki sebanyak 19 Peserta Didik dan perempuan 18 Peserta Didik.
Subjek
penelitian ini berasal dari latar belakang keluarga yang tidak sama.
Pekerjaan orang tua Peserta Didik terdiri atas pegawai negeri,
pedagang, dan pegawai swasta. Usia mereka
rata-rata 11-13 tahun. Tempat
tinggal Peserta Didik kelas VI SD Negeri Batursari 3 di
sekitar lokasi SD.
Sumber Data
Sumber data dari penelitian ini: 1) peserta didik, 2)
guru kelas, dan teman sejawat. Data
yang diperoleh berupa (1) daftar nilai, 2) catatan harian, 3) hasil
observasi dan saran dari observer yang dilakukan sebelum,
selama, dan sesudah tindakan penelitian, dan 4) dokumentasi selama tindakan
diberikan.
Teknik dan Alat Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan untuk
mengumpulkan data berbentuk tes dan non
tes. Tes digunakan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar Peserta didik
selama kegiatan tindakan pembelajaran Matematika materi volume bangun ruang. Teknik non tes berupa
observasi dengan lembar observasi dan catatan harian digunakan untuk menilai
aktivitas dan keaktifan peserta didik selama kegiatan dilakukan.
Alat pengumpulan data
tergantung pada teknik yang digunakan. Teknik tes, alatnya dapat berbentuk butir soal tes. Teknik non tes, alatnya
dapat berbentuk pedoman, indikator
keberhasilan, dan lembar observasi.
B.
Validasi Data
Dari sejumlah instrumen yang
digunakan harus memiliki validitas yang handal. Menurut Arikunto (1987:136) yang dimaksud dengan
validitas adalah “suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalitan atau
kesahihan sesuatu instrumen.
Dalam penelitian ini pemeriksaan keabsahan data
dilakukan dengan triangulasi (triangulation), pengecekan dengan
teman sejawat (peer debriefing), dan penggunaan referensi yang akurat (referention
adequancy). Validitas
teman sejawat, yakni teman sejawat yang menganalisis dan mengoreksi soal-soal
yang telah disusun peneliti sebelum digunakan dalam penelitian. Adapun hasil
dari validasi teman sejawat menyatakan bahwa soal-soal sesuai untuk
mengevaluasi hasil belajar Peserta Didik dalam materi mengidentifikasi
benua-benua.
C.
Analisis Data
Teknik analisis data
merupakan upaya mencari dan menata secara sistematis hasil dari observasi,
tindakan dan dokumentasi untuk meningkatkan pemahaman penelitian terhadap kasus
yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan bagi orang lain. Kegiatan
analisis merupakan refleksi dari data sebelum tindakan dan hasil selama dan setelah
tindakan.
Analisis data dalam penelitian ini
disajikan dalam bentuk analisis kualitatif dengan metode pemaparan secara
deskriptip komparatif, yakni mendeksripsikan semua temuan dalam penelitian
disertai dengan data-data kuantitatif yang dianalisis secara sederhana
(persentase) dan deskriptif interpretatif.
Data tentang keaktifan belajar
Peserta Didik dalam pembelajaran dengan
ini dianalisis sebagai berikut:
Indikator skor
A.
Tampak maksimal 4
B.
Tanpak sebagian besar 3
C.
Tampak sebagian kecil 2
D.
Tidak tampak 1
Analisis Kriteria
Keberhasilan
86 – 100% =
baik sekali
75 – 85 % = baik
60 – 74 % = cukup
46
– 59 % = kurang
Indikator Kinerja
Indikator keberhasilan
dalam penelitian ini dalam bentuk peningkatan aktivitas dan hasil belajar
Peserta Didik khusus pada pemahaman terhadap benua-benua. Adapun indikator
kinerja tersebut adalah: 1) adanya peningkatan perolehan nilai rata-rata
ulangan harian dari 55,95 menjadi minimal 70, 2) adanya pencapaian KKM Peserta
Didik dari yang lulus KKM sebanyak 16 Peserta Didik (44,44%) menjadi
sedikitnya 30 Peserta Didik (83%), dan
3) peningkatan aktivitas belajar Peserta Didik dalam pembelajaran dengan kriteria
minimal baik.
Prosedur Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas, yang
merupakan tindakan pembelajaran berdasarkan permasalahan yang dijumpai di kelas. Penelitian ini dilakukan oleh guru
kelas selaku peneliti, dengan bantuan teman sejawat sebagai kolaborator dan observer
selama kegiatan pembelajaran tindakan
berlangsung.
HASIL
PENELITIAN
Deskripsi Pra Siklus
Berdasarkan hasil pengamatan dan refleksi
diri, pembelajaran matematika di SD
Negei Batursari 3 pada kondisi awal (pra siklus) yang
menunjukkan rata-tara nilai tes formatif yang hanya 50,55 serta 13 (35%) siswa dari 37 yang tuntas dengan KKM 70, maka
penulis segera berdiskusi dengan kolaborator(Pembimbing,teman sejawat ). Dari hasil diskusi dan saran dari kolaborator
serta hasil dari refleksi penulis, maka penulis harus segera mengambil tindakan
guna mengatasi masalah yang sedang terjadi dalam proses pembelajaran. Tindakan yang paling tepat adalah dengan cara mengadakan Penelitian Tindakan kelas.
Deskripsi Siklus 1
Proses Pembelajaran dengan
Pendekatan CTL
Berdasarkan hasil pengamatan dan refleksi
diri, pembelajaran matematika di SD
Negei Batursari 3 pada kondisi awal (pra siklus) yang
menunjukkan rata-tara nilai tes formatif yang hanya 50,55 serta 13 (35%) siswa dari 37 yang tuntas dengan KKM 70, maka penulis segera berdiskusi dengan kolaborator(Pembimbing,teman
sejawat ). Dari hasil diskusi
dan saran dari kolaborator serta hasil dari refleksi penulis, maka penulis
harus segera mengambil tindakan guna mengatasi masalah yang sedang terjadi
dalam proses pembelajaran. Tindakan yang paling tepat adalah dengan cara mengadakan Penelitian Tindakan kelas.
Penelitian dilaksanakan di SD Negeri Batursari 3 mulai tanggal 27 September sampai dengan 30 Oktober 2013
pada kelas VI.
Kegiatan
yang dilakukan peneliti dalam perencanaan
adalah sebagai berikut: 1) Identifikasi masalah dan penetapan alternatif
penggunaan media; 2) Membuat skenario pembelajaran dengan pendekatan CTL, yang
akan dilaksanakan pada siklus pertama
dalam dua kali pertemuan, 3) Mempersiapkan
balok dan kubus serta kubus satuan, 4) Menyusun materi tentang rumus volume bangun ruang, 5) Membuat lembar pengamatan sebagai alat pengumpulan
data, 6) Menyusun alat
evaluasi untuk mengetahui sejauh mana hasil akhir pembelajaran, 7) Menganalisa
hasil pembelajaran dan refleksi, 8) Mengembangkan format pengumpulan data bersama kolaborator.
Secara umum prosedur pelaksanaan proses pembelajaran dilakukan dalam dua kali pertemuan setiap pertemuan
berlangsung melalui tahap-tahap kegiatan awal ( apersepsi ), kegiatan inti dan
kegiatan akhir. Secara khusus, kegiatan
pembelajaran dilakukan melalui serentetan aktivitas yang tercantum dalam
kegiatan inti RPP siklus I. Dalam
pelaksanaan proses pembelajaran siklus I penulis melakukan kegiatan-kegiatan sebagai
berikut :
Kegiatan Awal ( 10 menit )
Aparsepsi:
Setelah dibuka dengan salam dan selesai mengabsen,guru
mengelompokkan siswa menjadi 4 kelompok,kemudian siswa
diminta untuk :
1.
Siswa menulis
tugas rumah.
2.
Mengobservasi
model bangun ruang (balok dan
kubus ) yang telah disediakan guru dan siswa untuk dikelompok-kelompokan
sesuai jenisnya.
3.
Hasil
obervasi dilaporkan dan ditulis di papan tulis.
4.
Apakah
ada perbedaan antara kubus dan balok?
5.
Coba
kamu amati di mana perbedaanya!
6.
Sebutkan
perbedaan tersebut!
1. Motivasi
:
Anak-anak !, Ilmu ukur ini sangat rumit, sehingga harus
dilakukan dengan teliti dan hati-hati. Ilmu ukur juga sangat penting dalam kehidupan
kita nanti, oleh sebab itu kamu ikuti pelajaran ini dengan
baik agar kamu menjadi jelas dan nilaimu lebih bailk!
Kegiatan Inti ( 40 menit )
- Siswa diminta memberikan penjelasan cara membedakan bangun ruang kubus dan bangun ruang balok
- Siswa diminta memperhatikan demonstrasi menentukan volume dengan cara memasukan kubus-kubus satuan ke dalam kubus dan balok .
- Siswa diminta menghitung banyaknya kubus satuan yang dapat ditampung oleh kubus dan balok.
- Siswa diminta mencatat ukuran dan isi dari kubus dan balok tadi.
- Siswa disuruh memprediksikan isi kubus yang ukuran sisinya 10 cm, dan isi balok yang ukuran panjanya 8 cm dan lebarnya 6 cm dan tinggi 2 cm.
- Siswa diminta berdiskusi kelompok.
- Siswa menulis dan membandingkan fakta- fakta yang ada di papan tulis, yang merupakan volume kubus dan balok kemudian diminta menulis kesimpulan yang merupakan rumus volume kubus dan balok.
- Siswa diminta membacakan hasil diskusi dalam pembahasan klasikal
- Siswa diminta menerapkan rumus yang telah diketemukan untuk menghitung volume kubus dan balok yang telah ditentukan ukuranya di buku masing-masing dan di papan tulis secara bergantian yang disertai tanya jawab.
Kegiatan Akhir ( 20 menit )
1. Siswa disuruh menyampaikan kesimpulan dan
menulis di buku masing – masing disertai tanya jawab dan tukar pendapat.
2. Siswa diminta mengingat-ingat kembali apa
yang telah kita pelajari .
3. Siswa melakukan evaluasi
4. Guru melakukan pengawasan terhadap siswa saat mengerjakan evaluasi
5. Guru mengoreksi dan menganalisa hasil
evaluasi.
6. Guru melakukan tindak lanjut.
Hasil Belajar Siklus 1
Hasil pembelajaran Materi volume bangun ruang pada kegiatan tindakan
siklus 1 dengan pendekatan CTL dapat
dilihat pada Tabel 1 berikut.
Tabel 1 Analisis
Hasil Nilai Pembelajaran Siklus 1
|
No
|
Rentan Nilai
|
Jumlah
|
Persentase (%)
|
|
1
|
50
|
1
|
2,70
|
|
2
|
60
|
7
|
18,91
|
|
3
|
70
|
10
|
27,03
|
|
4
|
80
|
11
|
29,73
|
|
5
|
90
|
8
|
21,63
|
|
Jumlah
|
2770.00
|
100
|
|
|
Nilai Tertinggi
|
90.00
|
||
|
Nilai Terendah
|
50.00
|
||
|
Rata-Rata
|
74.86
|
||
|
Standar Deviasi
|
11.21
|
||
|
Tuntas
|
29.00
|
78,37
|
|
|
Tidak tuntas
|
8.00
|
21,63
|
|
Berdasarkan tabel tersebut dapat dipaparkan
bahwa hasil pembelajaran siklus 1 menunjukkan bahwa sebanyak 29 (78,37%) peserta didik mencapai
ketuntasan dan 8 (21,63%)
peserta didik masih mengalami tidak tuntas. Rata-rata kelas
sebesar 74,86, dengan nilai tertinggi 90 dan
nilai terendah 50 serta standar deviasi 11,21.
Refleksi Siklus 1
Berdasarkan refleksi hasil
pembelajaran dikemukakan beberapa kekurangan yang dapat digunakan sebagai acuan
untuk kegiatan siklus berikutnya. Kelemahan pada siklus 1 antara lain: 1) peserta
didik masih ada yang kurang kerja sama dalam kegiatan kelompok,13) ketika
mengerjakan tugas masih banyak yang salah, 4) Nilai rata-rata belum mencapai
75, baru mencapai 74,86, dan 5) Aspek kerja sama dan komunikatif belum mencapai
mulai berkembang.
Deskripsi Siklus 2
Proses Pembelajaran
Rencana yang akan
dilaksanakan pada sikluas II ini adalah melaksanakan proses pembelajaran
dengan menggunakan pendekatan Contectual Theaching And Learning yang
dilaksanakan pada tanggal 25 pertemuan I dan tanggal 26 Oktober 2013 untuk
pertemuan keduanya. Dalam pelaksanaaan pembelajaran ini peneliti bekerja sama
dengan kolaborator. Sementara itu peneliti berada di depan kelas sebagai
pengajar sedangkan kolaborator duduk di belakang untuk mengamati jalannya
perbaikan pembelajaran dan mencatat kejadian-kejadian yang terjadi selama
proses penbelajaran baik yang menyangkut tentang keberadaan siswa, guru maupun
kelas itu dendiri.
Hasil Belajar Siklus 2
Peningkatan hasil belajar peserta didik kelas VI SD
Negeri Batursari 3 dalam pembelajaran IPS materi mengidentifikasi benua
Australia melalui pembelajaran dengan model pembelajaran petualangan si Unyil
dengan kuis interaktif siklus 2 dapat dilihat dalam Tabel 2
Tabel 2 Hasil Belajar Peserta Didik
Siklus 2
|
No
|
Rentan Nilai
|
Jumna
|
Persentase (%)
|
|
1
|
60
|
2
|
5,41
|
|
2
|
70
|
3
|
8,11
|
|
3
|
80
|
15
|
40,54
|
|
4
|
90
|
12
|
32,43
|
|
5
|
100
|
5
|
13,51
|
|
Jumlah
|
3110
|
100
|
|
|
Nilai Tertinggi
|
100,00
|
||
|
Nilai Terendah
|
60.00
|
||
|
Rata-Rata
|
84,05
|
||
|
Standar Deviasi
|
10,13
|
||
|
Tuntas
|
35.00
|
94,59
|
|
|
Tidak tuntas
|
2.00
|
5,41
|
|
Berdasarkan tabel tersebut dapat dipaparkan bahwa ada
peningkatan hasil belajar Matematika melalui
pembelajaran dengan pendekatatan CTL di
kelas VI SD Negeri Batursari 3. Rata-rata kelas 84.05, dengan nilai tertinggi 100
dan terendah 60. Peserta didik yang tuntas KKM 70 sebanyak 35 (94,59%) dan
masih ada 2 (5,41%) peserta didik yang belum tuntas. Dua peserta didik yang
belum tuntas diberikan kegiatan remidi agar mencapai nilai 70 sehingga tuntas
dalam kompetensi mengidentifikasi benua-benua. Standar deviasi hasil belajar
tersebut 10,13.
Refleksi
Siklus 2
Kegiatan pembelajaran pada siklus 2 menurut
masukan dari teman sejawat dan berdasarkan analisis dari hasil penelitian sudah berjalan dengan
optimal. Kekurangan dari pembelajaran ini adalah masih ada 2 peserta didik yang belum tuntas,
karena masih kurang konsentrasi dalam mengikuti pembelajaran. Adapun kelebihannya adalah hasil belajar peserta didik meningkat, peserta didik lebih
tertarik dalam pembelajaran
Pembahasan
a.
Proses Pembelajaran Petualangan Si Unyil dengan Kuis Interaktif
Proses pembelajaran
dengan model pembelajaran petualangan si
Unyil dengan kuis interaktif yang dilaksanakan pada siklus 1 dan 2, mulai dari
tahap awal sampai akhir pembelajaran ternyata
dapat meningkatkan aktivitas belajar peserta didik. Daya tarik siswa terhadap
langkah-langkah proses pembelajaran
dengan model pembelajaran petualangan si Unyil dengan kuis interaktif tampak
dari aktivitas belajar peserta didik
baik pada siklus 1 maupun 2 dalam
permainan yang dilakukan. Hal ini mendukung hasil penelitian dari Rumiasih
(2008:45) yang menyatakan bahwa pembelajaran dengan CD Interaktif meningkatkan
keaktifan belajar siswa.
Dengan demikian, hipotesis yang dikemukakan diterima
yakni pembelajaran dengan memanfaatkan model pembelajaran petualangan si Unyil
dengan kuis interaktif terbukti dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran IPS materi mengidentifikasi benua-benua di kelas VI SD Negeri
Batursari 3, semester 1 tahun pelajaran 2013/2014.
b.
Perubahan Aktivitas Belajar Peserta Didik
Peningkatan aktivitas
belajar peserta didik dari sebelum siklus, siklus 1, dan siklus 2 dalam
pembelajaran ini sesuai dengan pendapat dari Joyce (2011:177) yang menyatakan
bahwa model pembelajaran yang digunakan guru akan mempengaruhi tingkat
kreatifitas dan prestasi belajar anak. Guru tidak sekadar sebagai penyaji
materi saja, namun guru juga harus membangkitkan keaktifan anak dalam belajar.
Dengan
demikian hipotesis yang dikemukakan diterima, yakni pembelajaran dengan
memanfaatkan model pembelajaran CTL terbukti dapat meningkatkan aktivitas
belajar peserta didik dalam pembelajaran
IPS materi mengidentifikasi
benua-benua di kelas VI SD Negeri
Batursari 3, semester 1 tahun pelajaran 2013/2014.
Peningkatan aktivitas belajar materi mengidentifikasi
benua-benua dengan pembelajaran melalui model pembelajaran, menimbulkan hasil
belajar yang meningkat pula. Adapun data peningkatan hasil belajar tersebut
dapat dilihat dalam tabel 3 berikut.
Tabel
3 Data Perkembangan Nilai Peserta Didik
Sebelum Tindakan Dan Sesudah Tindakan
|
No
|
Nilai
|
Jumlah Peserta Didik
|
|||
|
Sebelum Tindakan
|
Siklus 1
|
Siklus 2
|
|||
|
1
|
10
|
|
|
|
|
|
2
|
20
|
|
|
|
|
|
3
|
30
|
2
|
|
|
|
|
4
|
40
|
5
|
|
|
|
|
5
|
50
|
8
|
1
|
|
|
|
6
|
60
|
7
|
7
|
2
|
|
|
7
|
70
|
10
|
10
|
3
|
|
|
8
|
80
|
3
|
11
|
15
|
|
|
9
|
90
|
2
|
8
|
12
|
|
|
10
|
100
|
|
|
5
|
|
|
Jumlah
|
2200
|
2770
|
3110
|
|
|
|
Rata-rata
|
59,46
|
74,86
|
84,05
|
|
|
|
Nilai
Tertinggi
|
90
|
90
|
100
|
|
|
|
Nilai Terendah
|
30
|
50
|
60
|
|
|
|
Standar
Deviasi
|
15,45
|
11,21
|
10,13
|
|
|
|
Tuntas
|
15
|
29
|
35
|
|
|
|
Tidak tuntas
|
22
|
8
|
2
|
|
|
Berdasarkan nilai dalam tabel tersebut dapat dipaparkan
bahwa terjadi peningkatan hasil belajar peserta didik dengan memanfaatkan model
pembelajaran petualangan si Unyil dan kuis interaktif di kelas VI A SD Negeri
Batursari 3 mata pelajaran Matematika materi voolume bangun ruang. Nilai
rata-rata kelas meningkat, tingkat ketuntasan juga meningkat.
Pembelajaran dengan
memanfaatkan model pembelajaran CTL di
kelas VI SD Batursari 3, menunjukkan hasil belajar meningkat dari
sebelun siklus, siklus 1, dan siklus 2.
Dengan melihat perkembangan nilai peserta didik dalam tabel perkembangan dan
histogram tersebut di atas dapat dikatakan bahwa ada perbedaan yang signifikan
dari hasil belajar peserta didik antara kegiatan pembelajaran yang dilakukan
sebelumnya yaitu pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah dan tugas,
dengan pembelajaran setelah dikenai tindakan (pendekatan CTL) dalam
pembelajaran Matematika di kelas VI SD
Batursari 3 pada siklus 1 dan 2 .
Hasil
penelitian ini menyatakan bahwa dalam pemanfaatan model pembelajaran CTL dalam
pembelajaran Matematika kelas VI semester 1 di SD Batursari 3 tahun pelajaran 2013/2014,
khususnya pada stándar kompetensi bangun ruang, motivasi dan hasil belajar peserta didik meningkat. Melalui perbandingan nilai
rata-rata, pada nilai sebelum tindakan, siklus 1 dan siklus ke 2, yaitu 59,56; 74,86; dan
84,05 dapat ditentukan pula
bahwa pembelajaran ini bernilai positif, artinya dengan memanfaatkan model pembelajaran
CTL, dapat dijadikan sarana efektif untuk meningkatkan aktivitas dan hasil
belajar dalam pembelajaran Matematika di kelas VI SD Negeri Batursari 3.
PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan pendekatan CTL dapat
meningkatkan motivasi dan hasil serta
terjadi perubahan perilaku yang menyertai peserta didik dalam belajar
geometri kompetensi menentukan volume bangun ruang pada peserta didik kelas VI
semester Ganjil Tahun pelajaran 2013/2014 di SD Negeri Batursari 3 , Kecamatan Mranggen, kabupaten Demak.
Saran
Bertolak dari hasil penelitian yang diperoleh
penulis, maka penulis , menyampaikan saran kepada rekan-rekan guru agar Menggunakan
Pendekatan Contextual teaching and Learning sebagai alternatif dalam belajar
geometri kompetensi menentukan volume bangun ruang. Dalam proses pembelajaran matematika diperlukan
pendekatan yang variasi agar motivasi dan hasil belajar peserta didik meningkat
DAFTAR
PUSTAKA
Arikunto,Suharsini,dkk,2006.Penelitian Tindakan Kelas.Jakarta : PT Bumi Aksara
Bukhori,dkk. 2003,Gemar Belajar Matematika 6 untuk kelas VI.Semarang : Aneka Ilmu
BSNP,2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta : BSNP
Depdiknas,2003, Model Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar.
Jakarta : Dikdasmen
Subiyantoro,2009.Penelitian Tindakan Kelas. Semarang: CV Widya karya.
Sugiyanto,2009.Model-model Pembelajaran Inovatif.
Surakarta : Mata Padi
Presindo.
Susmiyati, 2009. Pedagogik ( Jurnal Pendidikan Dasar dan menengah.
Semarang : Laboratorium Baca Tulis Universitas negeri
Semarang.
Bambang Irianto, S.Pd Guru kelas 6 SD Negeri Batursari 3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar