KEN
AROK
Diceritakan kembali
oleh: Wahyunisngih Rahayu,S.Pd.,M.Pd.
Ken Arok
merupakan cikal bakal raja-jara Singasari, yang kemudian juga menurukan
raja-jara Majapahit. Nah, bagaimanakah kisah
selengkapnya? Ikutilah cerita ini dengan seksama!
Ken Arok sungguh
memiliki pengalaman hidup yang bermacam-macam. Tidak hanya pengalaman yang
menyenangkan, namun pahitpun pernah di rasakan. “Tahukah kalian asal-usul Ken Arok?”
Ken Arok merupakan putera dari gadis Desa yang bernama Ken Endok yang terkenal
cantik jelita. Sebenarnya Ken Arok juga berdarah kerajaan, karena ayahnya
adalah raja Tumapel yang bernama Akuwu Tunggul
Ametung. Namun ketika Ken Endok bertemu dengan Tunggul Ametung itu, ia
berpura-pura sebagai Dewa Brahma. Ken Endok menjalin hubungan asmara dengan Dewa
Brahma yang tak lain adalah Tunggul Ametung yang wajahnya tampan, gagah perkasa
itu, tanpa sepengetahuan suaminya. Suami Ken Endok bernama Gajah Para.
Suatu malam
ketika Ken Endok mengandung 3 bulan, tiba-tiba saja Gajah Para ingin
berhubungan layaknya sebagai suami istri. Namun tiba-tiba saja bayangan hitam
menyambarnya hingga Gajah Para meninggal. Kini Ken Endok tinggal seorang diri. Ia merasa malu dengan
kehamilannya, sehingga lebih suka tinggal di dalam rumah. Sampai suatu hari ia
melahirkan bayi lagi-lagi menjelang matahari terbenam, dan tidak seorangpun
yang menolongnya. Ken Endok memotong sendiri tali pusarnya, kemudian
membungkusnya dengan kain. Setelah itu ia meletakkan bayi itu di makam dekat
jalan setapak.
Bayi laki-laki
itu ditemukan oleh Lembong yang pekerjaannya mencuri. Bayi itu diangkat sebagai
anakknya karena Lembong dan istrinya belum memiliki anak. Bayi itu diberi nama
Ken Arok.
Ken Arok tumbuh
menjadi pemuda nakal dan pemberani. Kekayaan orang tuanya dihabiskan untuk
bermain judi. Ken Arok menjadi pengganggu keamanan wilayah Tumapel karena
sering merampok. Ia juga senang mencari ilmu kesaktian, sehingga bila akan
ditangkap warga selalu dapat menghindar.
Ken Arok menjadi
pemuda yang suka mabuk, berjudi, dan main perempuan. Oleh karena itu ia
dikejar-kejar oleh rakyat Tumapel. Akhirnya ia berlari ke negeri seberang yang
termasuk wilayah kerajaan lain. Ia hidup dengan bekal yang dibawanya. Ketika bekal
yang ia bawa habis, mulailah merampok lagi di hutan.
Suatu malam
lewatlah seorang kakek tua yang berjenggot putih dengan membawa tongkat dan perbekalan di
pundak. Ia berbakaian putih, yang menunjukkan bahwa ia seorang pertapa. Dari semak-semak
keluarlah Ken Arok. Ken Arok bermaksud untuk merampok, namun ia terkalahkan. Ia
bahkan digantung oleh kakek tua itu sampai berhari-hari. Akhirnya Ken Arok menyerah
dan menjadi murid pendeta dari negeri Jambudwipa (India) itu.
Kakek itu
bernama Danghyang Lohgawe. Ken Arok selain menjadi murid juga menjadi anak
angkatnya. Ia mengajarkan kebaikan pada Ken Arok, hingga Ken Arok berhasil
diterima menjadi prajurit di Tumapel. Karena kepandaian dan kesaktiannya,
menyebabkan Ken Arok diangkat sebagai pimpinan prajurit di Tumapel.
Sementara itu,
Tunggul Ametung mengambil paksa Ken Dedes putri Empu Purwa untuk dijadikan
permaisuri. Semenjak memiliki istri Ken Dedes Tunggul Ametung raja Tumapel itu
berhenti dari kebiasaan bermain perempuan. Ia sudah merasa bangga dan senang
dengan Ken Dedes yang cantik jelita.
Ken Arok yang
melihat kecantikan Ken Dedespun tertarik. Ia mulai berusaha untuk menyingkirkan
Tunggul Ametung. Suatu hari ia memesan keris kepada Empu Gandring yang sakti
mandraguna. Keris itu akan dibuat selama 1 tahun. Namun baru 5 bulan Ken Arok
datang dan memintanya, kemudian Empu Gandring ditusuknya dengan keris buatannya
itu. Empu Gandring mengutuk dengan ucapan, “Kamu terkutuk 7 turunan untuk mati
tertusuk dengan keris itu, termasuk kamu sendiri Ken Arok!”.
“Ha..ha…ha… !”
Ken Arok hanya tertawa terbahak-bahak mendengar kutukan itu sambil meninggalkan
tempat itu.
Ken Arok segera
memamerkan kerisnya yang sakti pada sabahatnya Kebo Ijo. Kebo Ijo tertarik
untuk meminjam. Kebo Ijo yang senang sombong itu, memamerkan kerisnya pada
orang lain. Ia tidak tahu kalau itu adalah tipu muslihat Ken Arok. Ketika malam
telah larut, Ken Arok mengambil keris itu dan membunuh Tunggul Ametung.
Keesokan harinya
Kebo Ijo dituduh yang membunuh Tunggul
Ametung. Ken Arok bertanya, “Kalian tahu siapa pemilik keris ini?”
Prajurit
menjawab, “Kebo Ijo” dan Kebo Ijo ditusuk dengan Keris yang sama oleh Ken Arok.
Kini Ken Arok menggantikan menjadi raja di Tumapel. Ken Dedes yang sedang hamil 3 bulan dengan Tunggul
Ametung diambil istri juga. Setelah itu lahirlah Anusopati. Dari perkawinan
dengan Ken Arok, Ken Dedes melahirkan 4 anak. Ken Arok juga memiliki istri lain
yang bernama Ken Umang yang juga memiliki 4 putera.
Pada waktu
Kediri atau Daha terjadi perselisihan antara raja Kertajaya dengan para
pendeta, banyak rakyat yang mengungsi ke Tumapel. Di Tumapel mereka menjadi
pengikut Ken Arok. Setelah persiapan matang maka raja Kediri yang sombong itu
diserang. Ken Arok menang dan menguasai seluruh kerajaan Daha. Ken Arok menjadi
maharaja di Tumapel mulai tahun 1222-1227 atau sekitar 5 tahun. Ibu kota
kerajaan Tumapel adalah Kutaraja. Ken Arok konon meninggal juga ditusuk oleh
Anusopati, putera Ken Dedes dengan Tunggul Ametung dengan keris miliknya itu.
Sampai tujuh turunan Ken Arok meninggal dengan ditusuk dengan keris yang sama.
Demikianlah
kisah perjalanan Ken Arok. Hikmah yang dapat diambil dari cerita tersebut
adalah: bahwa kita sebagai manusia harus berbuat baik terhadap sesama,
menghargai seorang guru, membalas kebaikan dengan siapapun, dan jangan sampai
menipu orang lain. Jujur dan berbelas kasih adalah sikap yang harus kita
kembangkan.***********************************
Penulis: Wahyu R, Kepala SD
Negeri Batursari 3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar