Jumat, 19 Desember 2014

KISAH SINGKAT KEN AROK



KEN AROK

Diceritakan kembali oleh: Wahyunisngih Rahayu,S.Pd.,M.Pd.

          Ken Arok merupakan cikal bakal raja-jara Singasari, yang kemudian juga menurukan raja-jara Majapahit. Nah, bagaimanakah kisah  selengkapnya? Ikutilah cerita ini dengan seksama!
Ken Arok sungguh memiliki pengalaman hidup yang bermacam-macam. Tidak hanya pengalaman yang menyenangkan, namun  pahitpun pernah di  rasakan. “Tahukah kalian asal-usul Ken Arok?” Ken Arok merupakan putera dari gadis Desa yang bernama Ken Endok yang terkenal cantik jelita. Sebenarnya Ken Arok juga berdarah kerajaan, karena ayahnya adalah raja Tumapel yang bernama Akuwu Tunggul  Ametung. Namun ketika Ken Endok bertemu dengan Tunggul Ametung itu, ia berpura-pura sebagai Dewa Brahma. Ken Endok menjalin hubungan asmara dengan Dewa Brahma yang tak lain adalah Tunggul Ametung yang wajahnya tampan, gagah perkasa itu, tanpa sepengetahuan suaminya. Suami Ken Endok bernama Gajah Para.
       Suatu malam ketika Ken Endok mengandung 3 bulan, tiba-tiba saja Gajah Para ingin berhubungan layaknya sebagai suami istri. Namun tiba-tiba saja bayangan hitam menyambarnya hingga Gajah Para meninggal. Kini Ken  Endok tinggal seorang diri. Ia merasa malu dengan kehamilannya, sehingga lebih suka tinggal di dalam rumah. Sampai suatu hari ia melahirkan bayi lagi-lagi menjelang matahari terbenam, dan tidak seorangpun yang menolongnya. Ken Endok memotong sendiri tali pusarnya, kemudian membungkusnya dengan kain. Setelah itu ia meletakkan bayi itu di makam dekat jalan setapak.
          Bayi laki-laki itu ditemukan oleh Lembong yang pekerjaannya mencuri. Bayi itu diangkat sebagai anakknya karena Lembong dan istrinya belum memiliki anak. Bayi itu diberi nama Ken Arok.
           Ken Arok tumbuh menjadi pemuda nakal dan pemberani. Kekayaan orang tuanya dihabiskan untuk bermain judi. Ken Arok menjadi pengganggu keamanan wilayah Tumapel karena sering merampok. Ia juga senang mencari ilmu kesaktian, sehingga bila akan ditangkap warga selalu dapat menghindar.
          Ken Arok menjadi pemuda yang suka mabuk, berjudi, dan main perempuan. Oleh karena itu ia dikejar-kejar oleh rakyat Tumapel. Akhirnya ia berlari ke negeri seberang yang termasuk wilayah kerajaan lain. Ia hidup dengan bekal yang dibawanya. Ketika bekal yang ia bawa habis, mulailah merampok lagi di hutan.
          Suatu malam lewatlah seorang kakek tua yang berjenggot putih  dengan membawa tongkat dan perbekalan di pundak. Ia berbakaian putih, yang menunjukkan bahwa ia seorang pertapa. Dari semak-semak keluarlah Ken Arok. Ken Arok bermaksud untuk merampok, namun ia terkalahkan. Ia bahkan digantung oleh kakek tua itu sampai berhari-hari. Akhirnya Ken Arok menyerah dan menjadi murid pendeta dari negeri Jambudwipa (India) itu.
         Kakek itu bernama Danghyang Lohgawe. Ken Arok selain menjadi murid juga menjadi anak angkatnya. Ia mengajarkan kebaikan pada Ken Arok, hingga Ken Arok berhasil diterima menjadi prajurit di Tumapel. Karena kepandaian dan kesaktiannya, menyebabkan Ken Arok diangkat sebagai pimpinan prajurit di Tumapel.
        Sementara itu, Tunggul Ametung mengambil paksa Ken Dedes putri Empu Purwa untuk dijadikan permaisuri. Semenjak memiliki istri Ken Dedes Tunggul Ametung raja Tumapel itu berhenti dari kebiasaan bermain perempuan. Ia sudah merasa bangga dan senang dengan Ken Dedes yang cantik jelita.
      Ken Arok yang melihat kecantikan Ken Dedespun tertarik. Ia mulai berusaha untuk menyingkirkan Tunggul Ametung. Suatu hari ia memesan keris kepada Empu Gandring yang sakti mandraguna. Keris itu akan dibuat selama 1 tahun. Namun baru 5 bulan Ken Arok datang dan memintanya, kemudian Empu Gandring ditusuknya dengan keris buatannya itu. Empu Gandring mengutuk dengan ucapan, “Kamu terkutuk 7 turunan untuk mati tertusuk dengan keris itu, termasuk kamu sendiri Ken Arok!”.
“Ha..ha…ha… !” Ken Arok hanya tertawa terbahak-bahak mendengar kutukan itu sambil meninggalkan tempat itu.
          Ken Arok segera memamerkan kerisnya yang sakti pada sabahatnya Kebo Ijo. Kebo Ijo tertarik untuk meminjam. Kebo Ijo yang senang sombong itu, memamerkan kerisnya pada orang lain. Ia tidak tahu kalau itu adalah tipu muslihat Ken Arok. Ketika malam telah larut, Ken Arok mengambil keris itu dan membunuh Tunggul Ametung.
Keesokan harinya  Kebo Ijo dituduh yang membunuh Tunggul Ametung. Ken Arok bertanya, “Kalian tahu siapa pemilik keris ini?”
          Prajurit menjawab, “Kebo Ijo” dan Kebo Ijo ditusuk dengan Keris yang sama oleh Ken Arok. Kini Ken Arok menggantikan menjadi raja di Tumapel. Ken Dedes  yang sedang hamil 3 bulan dengan Tunggul Ametung diambil istri juga. Setelah itu lahirlah Anusopati. Dari perkawinan dengan Ken Arok, Ken Dedes melahirkan 4 anak. Ken Arok juga memiliki istri lain yang bernama Ken Umang yang juga memiliki 4 putera.
          Pada waktu Kediri atau Daha terjadi perselisihan antara raja Kertajaya dengan para pendeta, banyak rakyat yang mengungsi ke Tumapel. Di Tumapel mereka menjadi pengikut Ken Arok. Setelah persiapan matang maka raja Kediri yang sombong itu diserang. Ken Arok menang dan menguasai seluruh kerajaan Daha. Ken Arok menjadi maharaja di Tumapel mulai tahun 1222-1227 atau sekitar 5 tahun. Ibu kota kerajaan Tumapel adalah Kutaraja. Ken Arok konon meninggal juga ditusuk oleh Anusopati, putera Ken Dedes dengan Tunggul Ametung dengan keris miliknya itu. Sampai tujuh turunan Ken Arok meninggal dengan ditusuk dengan keris yang sama.  
Demikianlah kisah perjalanan Ken Arok. Hikmah yang dapat diambil dari cerita tersebut adalah: bahwa kita sebagai manusia harus berbuat baik terhadap sesama, menghargai seorang guru, membalas kebaikan dengan siapapun, dan jangan sampai menipu orang lain. Jujur dan berbelas kasih adalah sikap yang harus kita kembangkan.***********************************

Penulis: Wahyu R, Kepala SD Negeri Batursari 3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar