Sabtu, 27 Desember 2014

RINGKASAN CERITA KI AGENG TEMBAYAT

KI AGENG TEMBAYAT
Oleh: Wahyuningsih Rahayu, S.Pd.,M.Pd

Tamba ati iku lima perkarane… kaping pisan maca qur’an lan maknane, kaping pindo sholat wengi lakonana, kaping telu wong kang sholeh kumpulana, kaping papat kudu weteng ingkang luwih, kaping lima dzikir wengi ingkang suwe, salah sawijine sapa bisa anglakoni…mugi-mugi gusti Allah nyembadani. ….Dewan yuri yang saya hormati, hadirin yang berbahagia…syair lagu tadi mengingatkan kita terhadap penyebar agama Islam di pulau Jawa ini  yaitu Sunan Kali Jaga. Salah satu muridnya bernama Ki Ageng Pandanarang atau Ki Ageng Tembayat.  Mau tahu kisah selengkapny? Ikutilah cerita saya ini dengan saksama!
Ki Ageng Pandanarang semula adalah seorang bupati Kabupaten Semarang. Ia menjadi Bupati yang sakti, dipatuhi semua rakyat dan dikagumi bawahannya. Namun sayang, ia mementingkan dirinya sendiri. Ia hanya mengejar kemewahan dan harta benda. Ia mengutamakan hidup di dunia dan tidak memikirkan akhirat.  Ia juga terkenal kikir, serta tidak mengetahui kesulitan rakyatnya.
Sunan Kalijaga melihat hal itu segera mengingatkannya. Ia menyamar sebagai penjual ilalang. Suatu hari ia memasuki halaman rumah Ki Ageng.
“Maaf gusti Adipati, hamba mengganggu!”
“Ya, apa maksudmu? Tanya bupati  tanpa menoleh karena mengamati bunga mawar.
“Maukah gusti membeli ilalang ini!”
“Sebenarnya aku tak butuh, tapi asal murah ku beli!” jawan Bupati seenaknya.
Penjual ilalang itu meletakkan ilalangya di kandang belakang. Setelah itu ia disuruh memperbaiki  atap kandang kuda dengan menganyam ilalang. Setelah selesai, bupati membayarnya dengan uang. Namun ia menolak, ia hanya ingin dibayar dengan bunyi beduk di kabupaten Semarang. Ki Ageng tersinggung dan marah. Penjual ilalang itu berusaha menunjukkan kesaktiannya. Ia mencangkul, dan bongkahan tanah dari cangkulannya berupa emas sebesar kepala kerbau. Para abdi menyaksikan hal tersebut dengan kagum.
Ki Ageng,  dengan wajah pucat segera memeluk kaki orang tua penjual ilalang itu. “Maafkan tuan, atas kelancanganku. Siapakah sebenarnya tuan yang bijaksana dan sakti ini?”
“Angger Pandanarang, aku tahu isi hatimu. Sudahlah berdirilah! Orang menyebutku Sunan kalijaga. Anakku Pandanarang, aku hanya mengingatkan angger! Jangan mengejar harta saja, ingatlah kewajibanmu selaku umat Allah. Aku minta bunyi beduk di kabupaten Semarang ini“ Kata Sunan Kalijaga seraya meninggalkan tempat itu.
Waktu menjelang ashar. Bupati segera menyuruh punggawa semua untuk membunyikan, dan menyerukan adzan …..Allahuakbar allahuakbar …
Sejak saat itu penduduk Kabupaten Semarang kemudian berbondong-bondong ke masjid untuk menjalankan ibadah sholat setiap saat setelah mendengar adzan.
Pagi itu, Ki Ageng sudah bulat tekadnya untuk meninggalkan kabupaten dan menuju gunung Jabalkat. Istrinya ikut serta. Istrinya dilarang membawa harta benda, namun ia nekat memasukkan ke dalam tongkat. Keduanya berjalan menyusuri hutan. Di tengah hutan sang istri berjalan terlalu jauh dari Ki Ageng. Karena ia keberatan membaca emas permata dalam tongkatnya.
Tiba-tiba saja ada penyamun. “berhenti…!” ucap penyamun itu. Ki Ageng dengan tenan berkata, “Aku tidak membawa apa-apa. Orang yang dibelakangku itu membawa emas permata.” Jawab Ki Ageng sambil berlalu.
Penyamun itu mencegat Nyi Ageng. Ketika berlari tongkat Nyi Ageng jatuh dan emas permatanyanya berceceran. Penyamun itu segera mengambil harta benda itu, dan nyi Ageng berlari dan menangis
Belum puas dengan harta yang didapat, penyamun itu mengejar Ki Ageng dan ingin merebut tongkat yang dibawanya. Namun karena kesaktian Kia Ageng, penyamun itu berubah menjadi domba. Ia lalu diberi nama Syeh Domba, dan mengabdi pada Ki Ageng.
Mereka bertiga segera melanjutkan perjalanan dengan menyusuri sawah, hutan, dan ladang. Sampailah mereka pada gunung Jabalkat. Mereka menjadi murid Sunan Kalijaga. Mereka menetap di Jabalkat. Mereka menerima segala ilmu agama Islam. Sejak di padepokan Jabalkat ini, ki Ageng Pandanarang berganti nama menjadi Ki Ageng Tembayat. Ki Ageng Tembayat setiap pagi berladang, malamnya mengaji. …. Audhubillahiminasyaiton nirrojim…..bismilahhirohmannirohim….
Tanpa terasa lima tahun telah berlalu. Suatu hari Ki Ageng Tembayat ingin melihat kabupaten Semarang. Ia pergi seorang diri, dan menyamar sebagai rakyat biasa. Ia menjadi pelayan dari seorang penjual kue serabi. Ia tinggal di gubuk reyot.
Ketika magrib telah lewat, si bibi sedang menghitung uang hasil jualan. Lalu dimasukkan ke dalam kantong. Mereka bercakap-cakap. Ki Ageng mengingatkan agar bibi ingat Allah, dan sholat lima kali. Bibi itu sanggup menjalankan nasehat dari Ki Ageng.
Singkat cerita Ki Ageng meninggalkan Semarang dan menjelajahi tanah Jawa untuk menyebarkan agama Islam. Setelah wafat ia dimakamkan di puncak Jabalkat yang terletak di sebuah bukit di Klaten. Daerah Jabalkat dan sekitarnya sekarang dikenal denga nama Tembayat atau disebut Bayat.
Sedangkan kanjeng Sunan Kalijaga terus mengembara mengembangkan agama Islam. Setelah wafat dimakamkan di Kadilangu Demak.
Demikianlah kisah Ki Ageng Tembayat, hikmah yang dapat kita petik dari cerita tersebut adalah…kita harus selalu seimbang antara keperluan duniawi maupun akhirat. Setiap saat harus kita menjalankan kewajiban sebagai manusia untuk ibadah dan saling menolong, serta berbagi harta dengan fakir miskin. Terima kasih atas perhatinnya… wasalam …..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar