KI
AGENG TEMBAYAT
Oleh:
Wahyuningsih Rahayu, S.Pd.,M.Pd
Tamba ati iku lima
perkarane… kaping pisan maca qur’an lan maknane, kaping pindo sholat wengi
lakonana, kaping telu wong kang sholeh kumpulana, kaping papat kudu weteng
ingkang luwih, kaping lima dzikir wengi ingkang suwe, salah sawijine sapa bisa
anglakoni…mugi-mugi gusti Allah nyembadani. ….Dewan yuri yang saya hormati,
hadirin yang berbahagia…syair lagu tadi mengingatkan kita terhadap penyebar
agama Islam di pulau Jawa ini yaitu
Sunan Kali Jaga. Salah satu muridnya bernama Ki Ageng Pandanarang atau Ki Ageng
Tembayat. Mau tahu kisah selengkapny?
Ikutilah cerita saya ini dengan saksama!
Ki Ageng Pandanarang
semula adalah seorang bupati Kabupaten Semarang. Ia menjadi Bupati yang sakti,
dipatuhi semua rakyat dan dikagumi bawahannya. Namun sayang, ia mementingkan
dirinya sendiri. Ia hanya mengejar kemewahan dan harta benda. Ia mengutamakan
hidup di dunia dan tidak memikirkan akhirat.
Ia juga terkenal kikir, serta tidak mengetahui kesulitan rakyatnya.
Sunan Kalijaga melihat
hal itu segera mengingatkannya. Ia menyamar sebagai penjual ilalang. Suatu hari
ia memasuki halaman rumah Ki Ageng.
“Maaf gusti Adipati,
hamba mengganggu!”
“Ya, apa maksudmu?
Tanya bupati tanpa menoleh karena
mengamati bunga mawar.
“Maukah gusti membeli
ilalang ini!”
“Sebenarnya aku tak
butuh, tapi asal murah ku beli!” jawan Bupati seenaknya.
Penjual ilalang itu
meletakkan ilalangya di kandang belakang. Setelah itu ia disuruh memperbaiki atap kandang kuda dengan menganyam ilalang.
Setelah selesai, bupati membayarnya dengan uang. Namun ia menolak, ia hanya
ingin dibayar dengan bunyi beduk di kabupaten Semarang. Ki Ageng tersinggung
dan marah. Penjual ilalang itu berusaha menunjukkan kesaktiannya. Ia
mencangkul, dan bongkahan tanah dari cangkulannya berupa emas sebesar kepala
kerbau. Para abdi menyaksikan hal tersebut dengan kagum.
Ki Ageng, dengan wajah pucat segera memeluk kaki orang
tua penjual ilalang itu. “Maafkan tuan, atas kelancanganku. Siapakah sebenarnya
tuan yang bijaksana dan sakti ini?”
“Angger Pandanarang,
aku tahu isi hatimu. Sudahlah berdirilah! Orang menyebutku Sunan kalijaga. Anakku
Pandanarang, aku hanya mengingatkan angger! Jangan mengejar harta saja,
ingatlah kewajibanmu selaku umat Allah. Aku minta bunyi beduk di kabupaten
Semarang ini“ Kata Sunan Kalijaga seraya meninggalkan tempat itu.
Waktu menjelang ashar.
Bupati segera menyuruh punggawa semua untuk membunyikan, dan menyerukan adzan
…..Allahuakbar allahuakbar …
Sejak saat itu penduduk
Kabupaten Semarang kemudian berbondong-bondong ke masjid untuk menjalankan
ibadah sholat setiap saat setelah mendengar adzan.
Pagi itu, Ki Ageng
sudah bulat tekadnya untuk meninggalkan kabupaten dan menuju gunung Jabalkat.
Istrinya ikut serta. Istrinya dilarang membawa harta benda, namun ia nekat
memasukkan ke dalam tongkat. Keduanya berjalan menyusuri hutan. Di tengah hutan
sang istri berjalan terlalu jauh dari Ki Ageng. Karena ia keberatan membaca
emas permata dalam tongkatnya.
Tiba-tiba saja ada
penyamun. “berhenti…!” ucap penyamun itu. Ki Ageng dengan tenan berkata, “Aku
tidak membawa apa-apa. Orang yang dibelakangku itu membawa emas permata.” Jawab
Ki Ageng sambil berlalu.
Penyamun itu mencegat
Nyi Ageng. Ketika berlari tongkat Nyi Ageng jatuh dan emas permatanyanya
berceceran. Penyamun itu segera mengambil harta benda itu, dan nyi Ageng berlari
dan menangis
Belum puas dengan harta
yang didapat, penyamun itu mengejar Ki Ageng dan ingin merebut tongkat yang
dibawanya. Namun karena kesaktian Kia Ageng, penyamun itu berubah menjadi domba.
Ia lalu diberi nama Syeh Domba, dan mengabdi pada Ki Ageng.
Mereka bertiga segera
melanjutkan perjalanan dengan menyusuri sawah, hutan, dan ladang. Sampailah
mereka pada gunung Jabalkat. Mereka menjadi murid Sunan Kalijaga. Mereka
menetap di Jabalkat. Mereka menerima segala ilmu agama Islam. Sejak di
padepokan Jabalkat ini, ki Ageng Pandanarang berganti nama menjadi Ki Ageng
Tembayat. Ki Ageng Tembayat setiap pagi berladang, malamnya mengaji. ….
Audhubillahiminasyaiton nirrojim…..bismilahhirohmannirohim….
Tanpa terasa lima tahun
telah berlalu. Suatu hari Ki Ageng Tembayat ingin melihat kabupaten Semarang.
Ia pergi seorang diri, dan menyamar sebagai rakyat biasa. Ia menjadi pelayan
dari seorang penjual kue serabi. Ia tinggal di gubuk reyot.
Ketika magrib telah
lewat, si bibi sedang menghitung uang hasil jualan. Lalu dimasukkan ke dalam
kantong. Mereka bercakap-cakap. Ki Ageng mengingatkan agar bibi ingat Allah,
dan sholat lima kali. Bibi itu sanggup menjalankan nasehat dari Ki Ageng.
Singkat cerita Ki Ageng
meninggalkan Semarang dan menjelajahi tanah Jawa untuk menyebarkan agama Islam.
Setelah wafat ia dimakamkan di puncak Jabalkat yang terletak di sebuah bukit di
Klaten. Daerah Jabalkat dan sekitarnya sekarang dikenal denga nama Tembayat
atau disebut Bayat.
Sedangkan kanjeng Sunan
Kalijaga terus mengembara mengembangkan agama Islam. Setelah wafat dimakamkan
di Kadilangu Demak.
Demikianlah kisah Ki
Ageng Tembayat, hikmah yang dapat kita petik dari cerita tersebut adalah…kita
harus selalu seimbang antara keperluan duniawi maupun akhirat. Setiap saat
harus kita menjalankan kewajiban sebagai manusia untuk ibadah dan saling
menolong, serta berbagi harta dengan fakir miskin. Terima kasih atas
perhatinnya… wasalam …..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar