Sabtu, 27 Desember 2014

CERITA SINGKAT AJI SAKA

AJI SAKA

Oleh : 
Wahyuningsih Rahayu, S.Pd.,M.Pd

Masih ingatkah kalian tentang sebuah syair ha na ca ra ka ada utusan da ta sa wa la  berselisih paham  pa da ja ya nya sama saktinya ma ga ba tha nga sama binasa. Syair ini untuk mengenang kisah kesetiaan dua abdi Aji saka. Mau tahu kisah selengkapnya? Ikutilah cerita saya ini dengan seksama!
Zaman dahulu Kerajaan Medangkamulan merupakan kerajaan yanng cukup termasyur di tanah Jawa. Rajanya bernama Prabu Dewatacengkar yang bertubuh tinggi besar, dan sakti mandraguna. Suatu ketika Kerajaan Medangkamulan diserang oleh lawan dari kerajaan Wurawari. Prabu Dewatacengkar memimpin rakyatnya melawan mereka. Raja Wurawari gugur, dan rakyatnya menyerah. Mereka bukannya ditawan hidup-hidup dan dipelihara sebagaimana mestinya, namun justru tetap diserang sampai binasa. Kemudian Dewatacengkar berpesta pora.
Perilaku Raja Dewatacengkar dianggap mencemarkan Medangkamulan sebagai sebuah kerajaan yang beradab. Penasehat agung kerajaan Bhagawan Waskita berusaha mengingatkan Raja. Dewatacengkar marah mendengar perkataan Bhagawan Waskita. Dewatacengkar menikamkan keris ke tubuh Bhagawan Waskita. Saat itu juga meledak suara petir di angkasa yang bergema memekakkan telinga. Hal ini merupakan sebuah peringatan kepada rakyat Medangkamulan bahwa sesuatu yang buruk akan mengancam.
Kemudian bergema suara, “Kekejaman sang Prabu benar-benar di luar batas kemanusiaan. Sang Prabu bukanlah manusia yang welas asih, tetapi raksasa ganas yang menyengsarakan rakyat. Kau ganas… bagaikan raksasa pemakan manusia.”
Mendengar kutukan Bhagawan Waskita itu, para punggawa istana gemetar. Prabu Dewatacengkar tertawa terbahak-bahak. Pada saat itu juga sekujur tubuhnya bergetar, bulu-bulu hitam bermunculan dan tubuhnya membesar, serta tumbuh empat taring besar serta suaranya menjadi serak dan parau. Kini Prabu Dewatacengkar menjadi seorang raksasa yang ganas.
Rakyat Mmedangkamulan semakin sengsara dan menderita. Setiap saat mereka terancam untuk menjadi santapan raja. Negeri yang tadinya subur sentosa, kini menjadi negara yang seram dan menakutkan.
Sementara itu Ajisaka yang merupakan kesatria dari negeri Cola (India)  sampailah di pulau Jawa. Ia bersama dengan dua abdinya yang bernama Ki Dora dan Ki Sembada. Mereka bertemu dengan pengungsi dari Medangkamulan. Ajisaka mendekati mereka dan menolonngnya.
Menyaksikan rakyat Medangkamulan yang sengsara itu, tergugah hati Ajisaka untuk menolongnya. Ia berniat damai ke kerajaan Medangkamulan. Maka dari itu ia titipkan kerisnya pada Ki Sembada. Aji Saka berpesan, “Keris ini kutitipkan padamu, jangan sampai lepas dari tanganmu sebelum aku sendiri yang meminta. Bila perlu jagalah keris ini dengan jiwamu!:”
Setelah itu Ajisaka dan Ki Dora menuju ke Medangkamulan. Ketika sampai diperbatasan ibukota, dilihatlah seorang anak kecil yang dikejar-kejar para prajurit. Anak itu kemudian berlindung di belakang Ajisaka. Prajurit menyerang Ajisaka, namun mereka akhirnya kalah.
Ajisaka dan Ki Dora sampai juga di hadapan Dewatacengkar. Ajisaka bersedia dimakan oleh Dewatacengkar dengan sebuah permintaan. “Wahai Dewatacengkar, hamba bersedia menjadi pengganti bocah itu namun hamba mohon agar paduka memberi tanah selebar destar pengikat kepala hamba, sebagai tempat pengubur tulang belulang hamba.”
“Huaa ha ha…jangankan selebar destarmu, sekantung emas pun kuberikan asal bisa makan seorang pendeta seperti kamu” jawab Dewatacengkar senang.
Ajisaka segera melepas destar dari ikatannya di kepala. Namun tiba-tiba destar itu memanjang dan terus memanjang hingga menutupi alun-alun. Patih Julangjuling segera memerintahkan prajurit agar menghentikan destar Ajisaka. Tapi usaha mereka sia-sia. Lalu Ajisaka diringkus, diikat tubuhnya dan diseret ke hadapan Raja. Ajisaka tidak gentar. Ia bahkan berseru, “Hai Dewatacengkar yang menentukan hidup mati seseorang adalah Tuhan Yang Maha Esa, bukan kau. Bukalah lebar-lebar matamu, akhir kejayaanmu sudah dekat. Penguasa alam akan menghukum kalian semua”
Lembaran destar itu bagaikan gelombang yang dasyat, hingga sampai pada Laut Selatan. Ketika  Dewatacengkar dan pengikutnya  menyentuh air Laut Selatan, terdengarlah sebuah ledakan amat keras dan menimbulkan gelombang yang tinggi. Pada saat gelombang mereda, tampaklah seekor buaya putih yang besar sekali yang merupakan penjelmaan Dewatacengkar.
Setelah melontarkan Dewatacengkar dan pengikutnya, destar itu mengecil lagi. Dengan penuh syukur, Ajisaka mengikatkan kembali destarnya di kepala. Rakyat bersorak sorai atas kemenangan Ajisaka dan atas kehendak rakyat Ajisaka naik tahta di kerajaan Medangkamulan yang bergelar Sri Prabu Ajisaka. Tahun penobatannya dikenal dengan tahun saka  yang kemudian dikenal tahun Jawa.
Beberapa hari kemudian setelah menjadi raja, Ajisaka ingat keris pusakanya yang dititipkan kepada Ki Sembada. Ia mengutus Ki Dora untuk mengambil dan mengajak Ki Sembada ke istana. Namun Ki Semabada memegang janji yang telah diucapkan untuk menjaga pusata itu dengan jiwanya. Mereka salah paham dan terjadinya pertengkaran. Mereka sama-sama benar dan sama sakti. Mereka berkelai sampai mati. Mendengar berita itu, Sri Prabu Ajisaka dilanda duka, lalu untuk mengenangnya dibuatlah prasasti yang mengisahkan tragedi kematian mereka. Dari zaman ke zaman huruf ini terus diucapkan dan dipergunakan sebagai huruf Jawa sampai sekarang ini.

Hikmah yang dapat dipetik dari cerita ini adalah bahwa manusia itu tidak boleh serakah, harus mencintai sesama, dan menolong terhadap yang membutuhkan. Jiwa yang bijaksana akan menuju hidup yang mulia dan bahagia yang selalu akan dilindungi Tuhan Yang Maha Esa. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar