AJI
SAKA
Oleh :
Wahyuningsih Rahayu, S.Pd.,M.Pd
Masih
ingatkah kalian tentang sebuah syair ha na ca ra ka ada utusan da ta sa wa
la berselisih paham pa da ja ya nya sama saktinya ma ga ba tha
nga sama binasa. Syair ini untuk mengenang kisah kesetiaan dua abdi Aji saka.
Mau tahu kisah selengkapnya? Ikutilah cerita saya ini dengan seksama!
Zaman
dahulu Kerajaan Medangkamulan merupakan kerajaan yanng cukup termasyur di tanah
Jawa. Rajanya bernama Prabu Dewatacengkar yang bertubuh tinggi besar, dan sakti
mandraguna. Suatu ketika Kerajaan Medangkamulan diserang oleh lawan dari
kerajaan Wurawari. Prabu Dewatacengkar memimpin rakyatnya melawan mereka. Raja
Wurawari gugur, dan rakyatnya menyerah. Mereka bukannya ditawan hidup-hidup dan
dipelihara sebagaimana mestinya, namun justru tetap diserang sampai binasa.
Kemudian Dewatacengkar berpesta pora.
Perilaku
Raja Dewatacengkar dianggap mencemarkan Medangkamulan sebagai sebuah kerajaan
yang beradab. Penasehat agung kerajaan Bhagawan Waskita berusaha mengingatkan
Raja. Dewatacengkar marah mendengar perkataan Bhagawan Waskita. Dewatacengkar
menikamkan keris ke tubuh Bhagawan Waskita. Saat itu juga meledak suara petir
di angkasa yang bergema memekakkan telinga. Hal ini merupakan sebuah peringatan
kepada rakyat Medangkamulan bahwa sesuatu yang buruk akan mengancam.
Kemudian
bergema suara, “Kekejaman sang Prabu benar-benar di luar batas kemanusiaan.
Sang Prabu bukanlah manusia yang welas asih, tetapi raksasa ganas yang menyengsarakan
rakyat. Kau ganas… bagaikan raksasa pemakan manusia.”
Mendengar
kutukan Bhagawan Waskita itu, para punggawa istana gemetar. Prabu Dewatacengkar
tertawa terbahak-bahak. Pada saat itu juga sekujur tubuhnya bergetar, bulu-bulu
hitam bermunculan dan tubuhnya membesar, serta tumbuh empat taring besar serta
suaranya menjadi serak dan parau. Kini Prabu Dewatacengkar menjadi seorang
raksasa yang ganas.
Rakyat
Mmedangkamulan semakin sengsara dan menderita. Setiap saat mereka terancam
untuk menjadi santapan raja. Negeri yang tadinya subur sentosa, kini menjadi
negara yang seram dan menakutkan.
Sementara
itu Ajisaka yang merupakan kesatria dari negeri Cola (India) sampailah di pulau Jawa. Ia bersama dengan dua
abdinya yang bernama Ki Dora dan Ki Sembada. Mereka bertemu dengan pengungsi dari
Medangkamulan. Ajisaka mendekati mereka dan menolonngnya.
Menyaksikan
rakyat Medangkamulan yang sengsara itu, tergugah hati Ajisaka untuk
menolongnya. Ia berniat damai ke kerajaan Medangkamulan. Maka dari itu ia titipkan
kerisnya pada Ki Sembada. Aji Saka berpesan, “Keris ini kutitipkan padamu,
jangan sampai lepas dari tanganmu sebelum aku sendiri yang meminta. Bila perlu
jagalah keris ini dengan jiwamu!:”
Setelah
itu Ajisaka dan Ki Dora menuju ke Medangkamulan. Ketika sampai diperbatasan
ibukota, dilihatlah seorang anak kecil yang dikejar-kejar para prajurit. Anak
itu kemudian berlindung di belakang Ajisaka. Prajurit menyerang Ajisaka, namun
mereka akhirnya kalah.
Ajisaka
dan Ki Dora sampai juga di hadapan Dewatacengkar. Ajisaka bersedia dimakan oleh
Dewatacengkar dengan sebuah permintaan. “Wahai Dewatacengkar, hamba bersedia
menjadi pengganti bocah itu namun hamba mohon agar paduka memberi tanah selebar
destar pengikat kepala hamba, sebagai tempat pengubur tulang belulang hamba.”
“Huaa
ha ha…jangankan selebar destarmu, sekantung emas pun kuberikan asal bisa makan
seorang pendeta seperti kamu” jawab Dewatacengkar senang.
Ajisaka
segera melepas destar dari ikatannya di kepala. Namun tiba-tiba destar itu
memanjang dan terus memanjang hingga menutupi alun-alun. Patih Julangjuling
segera memerintahkan prajurit agar menghentikan destar Ajisaka. Tapi usaha
mereka sia-sia. Lalu Ajisaka diringkus, diikat tubuhnya dan diseret ke hadapan
Raja. Ajisaka tidak gentar. Ia bahkan berseru, “Hai Dewatacengkar yang menentukan
hidup mati seseorang adalah Tuhan Yang Maha Esa, bukan kau. Bukalah lebar-lebar
matamu, akhir kejayaanmu sudah dekat. Penguasa alam akan menghukum kalian
semua”
Lembaran
destar itu bagaikan gelombang yang dasyat, hingga sampai pada Laut Selatan.
Ketika Dewatacengkar dan
pengikutnya menyentuh air Laut Selatan,
terdengarlah sebuah ledakan amat keras dan menimbulkan gelombang yang tinggi. Pada
saat gelombang mereda, tampaklah seekor buaya putih yang besar sekali yang
merupakan penjelmaan Dewatacengkar.
Setelah
melontarkan Dewatacengkar dan pengikutnya, destar itu mengecil lagi. Dengan
penuh syukur, Ajisaka mengikatkan kembali destarnya di kepala. Rakyat bersorak
sorai atas kemenangan Ajisaka dan atas kehendak rakyat Ajisaka naik tahta di
kerajaan Medangkamulan yang bergelar Sri Prabu Ajisaka. Tahun penobatannya
dikenal dengan tahun saka yang kemudian
dikenal tahun Jawa.
Beberapa
hari kemudian setelah menjadi raja, Ajisaka ingat keris pusakanya yang
dititipkan kepada Ki Sembada. Ia mengutus Ki Dora untuk mengambil dan mengajak Ki
Sembada ke istana. Namun Ki Semabada memegang janji yang telah diucapkan untuk
menjaga pusata itu dengan jiwanya. Mereka salah paham dan terjadinya
pertengkaran. Mereka sama-sama benar dan sama sakti. Mereka berkelai sampai
mati. Mendengar berita itu, Sri Prabu Ajisaka dilanda duka, lalu untuk
mengenangnya dibuatlah prasasti yang mengisahkan tragedi kematian mereka. Dari
zaman ke zaman huruf ini terus diucapkan dan dipergunakan sebagai huruf Jawa
sampai sekarang ini.
Hikmah
yang dapat dipetik dari cerita ini adalah bahwa manusia itu tidak boleh
serakah, harus mencintai sesama, dan menolong terhadap yang membutuhkan. Jiwa
yang bijaksana akan menuju hidup yang mulia dan bahagia yang selalu akan
dilindungi Tuhan Yang Maha Esa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar