Kisah Nyi Rara Kidul
Diceritakan Kembali Oleh: Wahyuningsih Rahayu, S.Pd.,M.Pd
Mendengar
nama Nyi Rara Kidul akan mengingatkan kita pada Laut Selatan. Mengapa? Karena
Nyi Rara Kidul indentik dengan ratu Laut Kidul. Ingin tahu, cerita
selengkapnya? Ikutilah kisah Nyi Rara Kidul dengan seksama!
Dahulu
kala, raja Mundangwangi memimpin kerajaan Pakuan Purba yang sangat makmur.
Rakytanya hidup tenang, bahagia, dan disegani kerajaan di sekitarnya.
Permaisurinya bernama Putri Rembulan. Raja dan perrmaisuri dikaruniai seorang
putri yang cantik jelita yang bernama Kadya Aditya, yang dipanggil Kadita.
Ketika senopati datang, raja berkata,” Wahai paman senopati, ayo kemarilah,
saksikan putriku yang cantik ini!”
Senopati
mengucapkan selamat. Keesokan harinya, Mamanda Lengser dan mengumumkan lahirnya
putri raja. Rakyat berbondong-bondong ke alun-alun.
Singkat
cerita, Kadita telah berusia 17 tahun. Permaisuri tidak memiliki putera lagi.
Hanya Kadita puteri satu-satunya. Sementara itu, Sang raja kini merasa kesepian
karena ia telah ditinggal wafat Mamanda Lengser dan tumenggungnya yang
bijaksana. Untuk mengisi kesepiannya, Ia sering berburu ke hutan.
Suatu
hari ia berburu dengan ditemani beberapa prajurit. Namun sesampai di tepi hutan
para prajurit disuruh tinggal, dan raja pergi seorang diri. Ketika sampai di
tengah hutan, dilihatnya kijang yang lincah. Raja hendak memanah kijang itu,
tapi hanya terkena sebagian tubuhnya. Kijang itupun berlari, menuju gubuk kecil
di tepi hutan. Di sana Kijang itu disambut seorang puteri yang cantik jelita.
Sang raja terkejut melihat hal tersebut.
Raja
kembali ke tepi hutan menemui para prajurit. Pagi harinya ia berdadan sebagai
raja menuju gubuk kecil itu. Sesampai digubuk itu, para prajurit menunggu di sekitarnya.
Raja memasuki gubuk itu. Iapun terpikat dengan kecantikan, gadis yang bernama
Mutiara.
Tak
lama kemudian, raja mengutus punggawa untuk melawar Mutiara. Putri Mutiara
menerima dengan syarat bila puteranya laki-laki diangkat menjadi putera
mahkota. Raja bimbang dan bingung, namun akhirnya beliau meminang Putri Mutiara
dengan persetujuan Dewi Rembulan dan
Putri Kadita.
Putri
Mutiara menjadi permaisuri kedua. Ia melahirkan seorang putri. Pupus sudah
harapannya untuk menjadikan puteranya sebagai putera mahkota. Namun dengan
hasutan Ken Darti seorang emban yang berhati jahat, Putri Mutiara terpengaruh.
Ia berbuat jahat, untuk dapat menyingkirkan Putri Rembulan dan Kadita. Akhirnya
dengan bantuan seorang sihir, Putri Rembulan dan Kadita sakit kulit yang
menjijikkan.
Raja
telah terkena pikatan sihir Putri Mutiara. Ia menuruti permintaan Putri
Mutiara. Putri Rembulan dan Kadita diusir dari kerajaan. Dengan bantuan dari
tumenggung, mereka meninggalkan kerajaan dan menetap di sebuah hutan yang
dijadikan perkampungan baru. Namun demikian, tidak kuat menahan derita, Putri
Rembulan akhirnya meninggal. Kesedihan yang tiada tara dirasakan oleh Kadita.
Kadita
berjalan terus ke selatan hingga sampai di tepi laut selatan. Kadita bertemu
seorang pemuda yang mengajaknya menceburkan diri di laut itu. Kadita memberanikan diri, dan
alangkah bahagianya, kulitnya sembuh seperti sediakala.
Suatu
hari, Kadita bertemu dengan seorang Ratu dengan kereta kencana. Kadita diajak
sebagai tamu istimewa dan dan sambut dengan hormat oleh seisi istana. Kadita
diangkat menajadi Ratu Muda Laut Kidul.
Setelah
itu, Kadita memiliki kekuatan yang luar biasa. Ia bisa hidup di tengah air laut
laksana ikan yang bergerak dengan santai dan bahagia. Kadita juga sering muncul
ke permukaan laut untuk menolong manusia. Bahkan ketika Permaisuri Mutiara
berbuat semena-mena kepada warga di tepi pantai, Kadita yang telah menjadi
penguasa laut selatan menolong warga. Hingga Putri Mutiara dan Ken Darti yang
jahat itu binasa karena mendapatkan pembalasan yang setimpal dengan
perbuatannya dulu kepada Kadita dan ibunya.
Hikmah
yang dapat dipetik dari cerita tersebut adalah bila kita berbuat baik akan
selalu mendapatkan pertolongan dari manusia maupun Sang Pencipta,dan bila
berbuat jahat maka akan mendapatkan balasan yang setimpal sesuai dengan amal
bakti kita! Beerbuatlah baik dan luhur
sebelum terlambat, maut menjemput kita!
Penulis ringkasan
dari buku ini: Wahyuningsih Rahayu, S.Pd.,M.Pd Kepala SD Negeri Batursari 3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar