Jumat, 19 Desember 2014

KISAH NYI RARA KIDUL



Kisah Nyi Rara Kidul

Diceritakan Kembali Oleh: Wahyuningsih Rahayu, S.Pd.,M.Pd

Mendengar nama Nyi Rara Kidul akan mengingatkan kita pada Laut Selatan. Mengapa? Karena Nyi Rara Kidul indentik dengan ratu Laut Kidul. Ingin tahu, cerita selengkapnya? Ikutilah kisah Nyi Rara Kidul dengan seksama!
Dahulu kala, raja Mundangwangi memimpin kerajaan Pakuan Purba yang sangat makmur. Rakytanya hidup tenang, bahagia, dan disegani kerajaan di sekitarnya. Permaisurinya bernama Putri Rembulan. Raja dan perrmaisuri dikaruniai seorang putri yang cantik jelita yang bernama Kadya Aditya, yang dipanggil Kadita. Ketika senopati datang, raja berkata,” Wahai paman senopati, ayo kemarilah, saksikan putriku yang cantik ini!”
Senopati mengucapkan selamat. Keesokan harinya, Mamanda Lengser dan mengumumkan lahirnya putri raja. Rakyat berbondong-bondong ke alun-alun.
Singkat cerita, Kadita telah berusia 17 tahun. Permaisuri tidak memiliki putera lagi. Hanya Kadita puteri satu-satunya. Sementara itu, Sang raja kini merasa kesepian karena ia telah ditinggal wafat Mamanda Lengser dan tumenggungnya yang bijaksana. Untuk mengisi kesepiannya, Ia sering berburu ke hutan.
Suatu hari ia berburu dengan ditemani beberapa prajurit. Namun sesampai di tepi hutan para prajurit disuruh tinggal, dan raja pergi seorang diri. Ketika sampai di tengah hutan, dilihatnya kijang yang lincah. Raja hendak memanah kijang itu, tapi hanya terkena sebagian tubuhnya. Kijang itupun berlari, menuju gubuk kecil di tepi hutan. Di sana Kijang itu disambut seorang puteri yang cantik jelita. Sang raja terkejut melihat hal tersebut.
Raja kembali ke tepi hutan menemui para prajurit. Pagi harinya ia berdadan sebagai raja menuju gubuk kecil itu. Sesampai digubuk itu, para prajurit menunggu di sekitarnya. Raja memasuki gubuk itu. Iapun terpikat dengan kecantikan, gadis yang bernama Mutiara.
Tak lama kemudian, raja mengutus punggawa untuk melawar Mutiara. Putri Mutiara menerima dengan syarat bila puteranya laki-laki diangkat menjadi putera mahkota. Raja bimbang dan bingung, namun akhirnya beliau meminang Putri Mutiara dengan persetujuan Dewi Rembulan  dan Putri Kadita.
Putri Mutiara menjadi permaisuri kedua. Ia melahirkan seorang putri. Pupus sudah harapannya untuk menjadikan puteranya sebagai putera mahkota. Namun dengan hasutan Ken Darti seorang emban yang berhati jahat, Putri Mutiara terpengaruh. Ia berbuat jahat, untuk dapat menyingkirkan Putri Rembulan dan Kadita. Akhirnya dengan bantuan seorang sihir, Putri Rembulan dan Kadita sakit kulit yang menjijikkan.
Raja telah terkena pikatan sihir Putri Mutiara. Ia menuruti permintaan Putri Mutiara. Putri Rembulan dan Kadita diusir dari kerajaan. Dengan bantuan dari tumenggung, mereka meninggalkan kerajaan dan menetap di sebuah hutan yang dijadikan perkampungan baru. Namun demikian, tidak kuat menahan derita, Putri Rembulan akhirnya meninggal. Kesedihan yang tiada tara dirasakan oleh Kadita.
Kadita berjalan terus ke selatan hingga sampai di tepi laut selatan. Kadita bertemu seorang pemuda yang mengajaknya menceburkan diri  di laut itu. Kadita memberanikan diri, dan alangkah bahagianya, kulitnya sembuh seperti sediakala.
Suatu hari, Kadita bertemu dengan seorang Ratu dengan kereta kencana. Kadita diajak sebagai tamu istimewa dan dan sambut dengan hormat oleh seisi istana. Kadita diangkat menajadi Ratu Muda Laut Kidul.
Setelah itu, Kadita memiliki kekuatan yang luar biasa. Ia bisa hidup di tengah air laut laksana ikan yang bergerak dengan santai dan bahagia. Kadita juga sering muncul ke permukaan laut untuk menolong manusia. Bahkan ketika Permaisuri Mutiara berbuat semena-mena kepada warga di tepi pantai, Kadita yang telah menjadi penguasa laut selatan menolong warga. Hingga Putri Mutiara dan Ken Darti yang jahat itu binasa karena mendapatkan pembalasan yang setimpal dengan perbuatannya dulu kepada Kadita dan ibunya.
Hikmah yang dapat dipetik dari cerita tersebut adalah bila kita berbuat baik akan selalu mendapatkan pertolongan dari manusia maupun Sang Pencipta,dan bila berbuat jahat maka akan mendapatkan balasan yang setimpal sesuai dengan amal bakti kita! Beerbuatlah baik dan luhur  sebelum terlambat, maut menjemput kita! 

Penulis ringkasan dari buku ini: Wahyuningsih Rahayu, S.Pd.,M.Pd Kepala SD Negeri Batursari 3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar