Sabtu, 27 Desember 2014

RINGKASAN CERITA KI AGENG TEMBAYAT

KI AGENG TEMBAYAT
Oleh: Wahyuningsih Rahayu, S.Pd.,M.Pd

Tamba ati iku lima perkarane… kaping pisan maca qur’an lan maknane, kaping pindo sholat wengi lakonana, kaping telu wong kang sholeh kumpulana, kaping papat kudu weteng ingkang luwih, kaping lima dzikir wengi ingkang suwe, salah sawijine sapa bisa anglakoni…mugi-mugi gusti Allah nyembadani. ….Dewan yuri yang saya hormati, hadirin yang berbahagia…syair lagu tadi mengingatkan kita terhadap penyebar agama Islam di pulau Jawa ini  yaitu Sunan Kali Jaga. Salah satu muridnya bernama Ki Ageng Pandanarang atau Ki Ageng Tembayat.  Mau tahu kisah selengkapny? Ikutilah cerita saya ini dengan saksama!
Ki Ageng Pandanarang semula adalah seorang bupati Kabupaten Semarang. Ia menjadi Bupati yang sakti, dipatuhi semua rakyat dan dikagumi bawahannya. Namun sayang, ia mementingkan dirinya sendiri. Ia hanya mengejar kemewahan dan harta benda. Ia mengutamakan hidup di dunia dan tidak memikirkan akhirat.  Ia juga terkenal kikir, serta tidak mengetahui kesulitan rakyatnya.
Sunan Kalijaga melihat hal itu segera mengingatkannya. Ia menyamar sebagai penjual ilalang. Suatu hari ia memasuki halaman rumah Ki Ageng.
“Maaf gusti Adipati, hamba mengganggu!”
“Ya, apa maksudmu? Tanya bupati  tanpa menoleh karena mengamati bunga mawar.
“Maukah gusti membeli ilalang ini!”
“Sebenarnya aku tak butuh, tapi asal murah ku beli!” jawan Bupati seenaknya.
Penjual ilalang itu meletakkan ilalangya di kandang belakang. Setelah itu ia disuruh memperbaiki  atap kandang kuda dengan menganyam ilalang. Setelah selesai, bupati membayarnya dengan uang. Namun ia menolak, ia hanya ingin dibayar dengan bunyi beduk di kabupaten Semarang. Ki Ageng tersinggung dan marah. Penjual ilalang itu berusaha menunjukkan kesaktiannya. Ia mencangkul, dan bongkahan tanah dari cangkulannya berupa emas sebesar kepala kerbau. Para abdi menyaksikan hal tersebut dengan kagum.
Ki Ageng,  dengan wajah pucat segera memeluk kaki orang tua penjual ilalang itu. “Maafkan tuan, atas kelancanganku. Siapakah sebenarnya tuan yang bijaksana dan sakti ini?”
“Angger Pandanarang, aku tahu isi hatimu. Sudahlah berdirilah! Orang menyebutku Sunan kalijaga. Anakku Pandanarang, aku hanya mengingatkan angger! Jangan mengejar harta saja, ingatlah kewajibanmu selaku umat Allah. Aku minta bunyi beduk di kabupaten Semarang ini“ Kata Sunan Kalijaga seraya meninggalkan tempat itu.
Waktu menjelang ashar. Bupati segera menyuruh punggawa semua untuk membunyikan, dan menyerukan adzan …..Allahuakbar allahuakbar …
Sejak saat itu penduduk Kabupaten Semarang kemudian berbondong-bondong ke masjid untuk menjalankan ibadah sholat setiap saat setelah mendengar adzan.
Pagi itu, Ki Ageng sudah bulat tekadnya untuk meninggalkan kabupaten dan menuju gunung Jabalkat. Istrinya ikut serta. Istrinya dilarang membawa harta benda, namun ia nekat memasukkan ke dalam tongkat. Keduanya berjalan menyusuri hutan. Di tengah hutan sang istri berjalan terlalu jauh dari Ki Ageng. Karena ia keberatan membaca emas permata dalam tongkatnya.
Tiba-tiba saja ada penyamun. “berhenti…!” ucap penyamun itu. Ki Ageng dengan tenan berkata, “Aku tidak membawa apa-apa. Orang yang dibelakangku itu membawa emas permata.” Jawab Ki Ageng sambil berlalu.
Penyamun itu mencegat Nyi Ageng. Ketika berlari tongkat Nyi Ageng jatuh dan emas permatanyanya berceceran. Penyamun itu segera mengambil harta benda itu, dan nyi Ageng berlari dan menangis
Belum puas dengan harta yang didapat, penyamun itu mengejar Ki Ageng dan ingin merebut tongkat yang dibawanya. Namun karena kesaktian Kia Ageng, penyamun itu berubah menjadi domba. Ia lalu diberi nama Syeh Domba, dan mengabdi pada Ki Ageng.
Mereka bertiga segera melanjutkan perjalanan dengan menyusuri sawah, hutan, dan ladang. Sampailah mereka pada gunung Jabalkat. Mereka menjadi murid Sunan Kalijaga. Mereka menetap di Jabalkat. Mereka menerima segala ilmu agama Islam. Sejak di padepokan Jabalkat ini, ki Ageng Pandanarang berganti nama menjadi Ki Ageng Tembayat. Ki Ageng Tembayat setiap pagi berladang, malamnya mengaji. …. Audhubillahiminasyaiton nirrojim…..bismilahhirohmannirohim….
Tanpa terasa lima tahun telah berlalu. Suatu hari Ki Ageng Tembayat ingin melihat kabupaten Semarang. Ia pergi seorang diri, dan menyamar sebagai rakyat biasa. Ia menjadi pelayan dari seorang penjual kue serabi. Ia tinggal di gubuk reyot.
Ketika magrib telah lewat, si bibi sedang menghitung uang hasil jualan. Lalu dimasukkan ke dalam kantong. Mereka bercakap-cakap. Ki Ageng mengingatkan agar bibi ingat Allah, dan sholat lima kali. Bibi itu sanggup menjalankan nasehat dari Ki Ageng.
Singkat cerita Ki Ageng meninggalkan Semarang dan menjelajahi tanah Jawa untuk menyebarkan agama Islam. Setelah wafat ia dimakamkan di puncak Jabalkat yang terletak di sebuah bukit di Klaten. Daerah Jabalkat dan sekitarnya sekarang dikenal denga nama Tembayat atau disebut Bayat.
Sedangkan kanjeng Sunan Kalijaga terus mengembara mengembangkan agama Islam. Setelah wafat dimakamkan di Kadilangu Demak.
Demikianlah kisah Ki Ageng Tembayat, hikmah yang dapat kita petik dari cerita tersebut adalah…kita harus selalu seimbang antara keperluan duniawi maupun akhirat. Setiap saat harus kita menjalankan kewajiban sebagai manusia untuk ibadah dan saling menolong, serta berbagi harta dengan fakir miskin. Terima kasih atas perhatinnya… wasalam …..


CERITA SINGKAT AJI SAKA

AJI SAKA

Oleh : 
Wahyuningsih Rahayu, S.Pd.,M.Pd

Masih ingatkah kalian tentang sebuah syair ha na ca ra ka ada utusan da ta sa wa la  berselisih paham  pa da ja ya nya sama saktinya ma ga ba tha nga sama binasa. Syair ini untuk mengenang kisah kesetiaan dua abdi Aji saka. Mau tahu kisah selengkapnya? Ikutilah cerita saya ini dengan seksama!
Zaman dahulu Kerajaan Medangkamulan merupakan kerajaan yanng cukup termasyur di tanah Jawa. Rajanya bernama Prabu Dewatacengkar yang bertubuh tinggi besar, dan sakti mandraguna. Suatu ketika Kerajaan Medangkamulan diserang oleh lawan dari kerajaan Wurawari. Prabu Dewatacengkar memimpin rakyatnya melawan mereka. Raja Wurawari gugur, dan rakyatnya menyerah. Mereka bukannya ditawan hidup-hidup dan dipelihara sebagaimana mestinya, namun justru tetap diserang sampai binasa. Kemudian Dewatacengkar berpesta pora.
Perilaku Raja Dewatacengkar dianggap mencemarkan Medangkamulan sebagai sebuah kerajaan yang beradab. Penasehat agung kerajaan Bhagawan Waskita berusaha mengingatkan Raja. Dewatacengkar marah mendengar perkataan Bhagawan Waskita. Dewatacengkar menikamkan keris ke tubuh Bhagawan Waskita. Saat itu juga meledak suara petir di angkasa yang bergema memekakkan telinga. Hal ini merupakan sebuah peringatan kepada rakyat Medangkamulan bahwa sesuatu yang buruk akan mengancam.
Kemudian bergema suara, “Kekejaman sang Prabu benar-benar di luar batas kemanusiaan. Sang Prabu bukanlah manusia yang welas asih, tetapi raksasa ganas yang menyengsarakan rakyat. Kau ganas… bagaikan raksasa pemakan manusia.”
Mendengar kutukan Bhagawan Waskita itu, para punggawa istana gemetar. Prabu Dewatacengkar tertawa terbahak-bahak. Pada saat itu juga sekujur tubuhnya bergetar, bulu-bulu hitam bermunculan dan tubuhnya membesar, serta tumbuh empat taring besar serta suaranya menjadi serak dan parau. Kini Prabu Dewatacengkar menjadi seorang raksasa yang ganas.
Rakyat Mmedangkamulan semakin sengsara dan menderita. Setiap saat mereka terancam untuk menjadi santapan raja. Negeri yang tadinya subur sentosa, kini menjadi negara yang seram dan menakutkan.
Sementara itu Ajisaka yang merupakan kesatria dari negeri Cola (India)  sampailah di pulau Jawa. Ia bersama dengan dua abdinya yang bernama Ki Dora dan Ki Sembada. Mereka bertemu dengan pengungsi dari Medangkamulan. Ajisaka mendekati mereka dan menolonngnya.
Menyaksikan rakyat Medangkamulan yang sengsara itu, tergugah hati Ajisaka untuk menolongnya. Ia berniat damai ke kerajaan Medangkamulan. Maka dari itu ia titipkan kerisnya pada Ki Sembada. Aji Saka berpesan, “Keris ini kutitipkan padamu, jangan sampai lepas dari tanganmu sebelum aku sendiri yang meminta. Bila perlu jagalah keris ini dengan jiwamu!:”
Setelah itu Ajisaka dan Ki Dora menuju ke Medangkamulan. Ketika sampai diperbatasan ibukota, dilihatlah seorang anak kecil yang dikejar-kejar para prajurit. Anak itu kemudian berlindung di belakang Ajisaka. Prajurit menyerang Ajisaka, namun mereka akhirnya kalah.
Ajisaka dan Ki Dora sampai juga di hadapan Dewatacengkar. Ajisaka bersedia dimakan oleh Dewatacengkar dengan sebuah permintaan. “Wahai Dewatacengkar, hamba bersedia menjadi pengganti bocah itu namun hamba mohon agar paduka memberi tanah selebar destar pengikat kepala hamba, sebagai tempat pengubur tulang belulang hamba.”
“Huaa ha ha…jangankan selebar destarmu, sekantung emas pun kuberikan asal bisa makan seorang pendeta seperti kamu” jawab Dewatacengkar senang.
Ajisaka segera melepas destar dari ikatannya di kepala. Namun tiba-tiba destar itu memanjang dan terus memanjang hingga menutupi alun-alun. Patih Julangjuling segera memerintahkan prajurit agar menghentikan destar Ajisaka. Tapi usaha mereka sia-sia. Lalu Ajisaka diringkus, diikat tubuhnya dan diseret ke hadapan Raja. Ajisaka tidak gentar. Ia bahkan berseru, “Hai Dewatacengkar yang menentukan hidup mati seseorang adalah Tuhan Yang Maha Esa, bukan kau. Bukalah lebar-lebar matamu, akhir kejayaanmu sudah dekat. Penguasa alam akan menghukum kalian semua”
Lembaran destar itu bagaikan gelombang yang dasyat, hingga sampai pada Laut Selatan. Ketika  Dewatacengkar dan pengikutnya  menyentuh air Laut Selatan, terdengarlah sebuah ledakan amat keras dan menimbulkan gelombang yang tinggi. Pada saat gelombang mereda, tampaklah seekor buaya putih yang besar sekali yang merupakan penjelmaan Dewatacengkar.
Setelah melontarkan Dewatacengkar dan pengikutnya, destar itu mengecil lagi. Dengan penuh syukur, Ajisaka mengikatkan kembali destarnya di kepala. Rakyat bersorak sorai atas kemenangan Ajisaka dan atas kehendak rakyat Ajisaka naik tahta di kerajaan Medangkamulan yang bergelar Sri Prabu Ajisaka. Tahun penobatannya dikenal dengan tahun saka  yang kemudian dikenal tahun Jawa.
Beberapa hari kemudian setelah menjadi raja, Ajisaka ingat keris pusakanya yang dititipkan kepada Ki Sembada. Ia mengutus Ki Dora untuk mengambil dan mengajak Ki Sembada ke istana. Namun Ki Semabada memegang janji yang telah diucapkan untuk menjaga pusata itu dengan jiwanya. Mereka salah paham dan terjadinya pertengkaran. Mereka sama-sama benar dan sama sakti. Mereka berkelai sampai mati. Mendengar berita itu, Sri Prabu Ajisaka dilanda duka, lalu untuk mengenangnya dibuatlah prasasti yang mengisahkan tragedi kematian mereka. Dari zaman ke zaman huruf ini terus diucapkan dan dipergunakan sebagai huruf Jawa sampai sekarang ini.

Hikmah yang dapat dipetik dari cerita ini adalah bahwa manusia itu tidak boleh serakah, harus mencintai sesama, dan menolong terhadap yang membutuhkan. Jiwa yang bijaksana akan menuju hidup yang mulia dan bahagia yang selalu akan dilindungi Tuhan Yang Maha Esa. 

ARTIKEL BANGUN DATAR TIANGGA


PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR  MATERI MENGENAL UNSUR-UNSUR BANGUN DATAR MELALUI PEMBELAJARAN DENGAN MEDIA  BANGUN DATAR DAN METODE DISKUSI DI KELAS II SDN BATURSARI 3 SEMESTER 2 TAHUN PELAJARAN 2013/2014

Oleh: 
TINGGA DIGDA

Abstrak
Permasalahan penelitian ini adalah bagaimanakah peningkatan aktivitas dan hasil belajar Matematika materi Mengenal Sudut  Bangun datar dengan pembelajaran yang memanfaatkan media bangun datar dan metode drill di kelas II SD Batursari 3 semester 2 tahun pelajaran 2013/2014?
Tujuan penelitian ini mendeskripsikan peningkatan aktivitas dan hasil belajar Matematika dengan memanfaatkan metode drill   dan media bangun datar bagi  siswa kelas II Sekolah Dasar Negeri Batursari 3 tahun 2013/2014 pada materi Mengenal sudut bangun datar. Selain itu juga untuk meningkatkan kemampuan dan aktivitas  belajar siswa dalam pembelajaran Matematika. Adapun tujuan perbaikan pembelajaran bagi guru yakni untuk meningkatkan kinerja dan kompetensinya.
Pelaksanaan penelitian ini dilakukan selama dua siklus, dengan perbaikan pembelajaran dengan memanfaatkan media bangun datar dan metode drill Analisis data menggunakan deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbaikan pembelajarann dengan memanfaatkan media bangun datar dan metode drill dalam pembelajaran Matematika materi  mengenal sudut bangun datar. Siklus satu menunjukkan rata-rata nilai 70,71 dengan peserta didik yang tuntas menjadi 31 dan masih ada 8 peserta didik yang belum mencapai KKM. Siklus 2  menunjukkan adanya peningkatan dari pada siklus 1, yaitu rata-rata kelas menjadi 80,87, yang mencapai KKM sebanyak 39 peserta didik. Tidak ada peserta didik yang belum tuntas.
Simpulan dalam penelitian ini adalah Pemanfaatan metode drill dan macam-macam bangun datar  dalam materi mengenal sudut bangun datar  dalam pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Matematika materi tentang hitung mengenal sudut bangun datar  di kelas  II  Semester 2 SD Negeri Batursari 3   tahun  pembelajaran 2013/2014.

Kata kunci: Peningkatan aktivitas dan hasil belajar, media bangun datar, dan metode drill.

PENDAHULUAN

Pembelajaran yang efektif dan menyenangkan diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pembelajaran efektif ini hendaknya memanfaatkan media dan metode yang bervariasi sehingga mampu meningkatkan motivasi siswa untuk belajar dengan baik untuk semua mata pelajaran. Pembelajaran diharapkan dapat mengkondisikan anak didik untuk menguasahi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Yang terjadi saat ini, pembelajaran lebih menitik beratkan pada aspek kognitif saja, sehingga siswa kurang tertarik dan malas belajar.
Pelajaran Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang  kurang diminati siswa, hal ini terbukti dengan hasil belajar Matematika yang cenderung menurun. Apalagi apabila cara penyampaian guru cenderung dengan metode ceramah saja dan tanpa memanfaatkana media pembelajaran. Berdasarkan pengamatan dan analisis peneliti, anak didik sebagian besar malas untuk mengulangi dan mengerjakan latihan dalam materi pelajaran Matematika.  Selain itu hasil belajar anak didik juga cenderung lebih rendah bila dibandingkan dengan nilai mata pelajaran lainnya. Berdasarkan ulangan yang peneliti laksanakan pada semeter dua tahun pembelajaran 2013/2014 di kelas II SD Negeri Batursari 3, dengan pokok materi “Mengenal sudut bangun datar” menunjukkan bahwa hanya 14 anak  (36%) yang mencapai tingkat ketuntasan belajar dan masih 64% dari 39 siswa yang belum tuntas. Tingkat ketuntasan belajar anak di SD Negeri Batursari 3 berdasarkan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang ditentukan, yakni 70.
Berdasarkan penngamatan dan kondisi lapangan tersebut,  seorang guru hendaknya menciptakan kegiatan pembelajaran yang dapat menarik minat dan aktivitas  peserta didik dalam belajar Matematika. Untuk meningkatkan aktivitas, perlu upaya guru menciptakan pembelajaran yang aktif, efektif, dan menyenangkan bagi peserta didik. Oleh karena itu pemilihan metode yang relevan akan membantu keberhasilan usaha guru. Maka pemilihan metode yang menyenangkan bagi peserta didik merupakan cara mengatasi permasalahan yang dapat di gunakan guru untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Salah satu metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran Matematika adalah metode drill dan media bangun datar  dan metode drill. Metode drill merupakan teknik penyampaian materi pelajaran dengan cara merupakan cara penyampaian materi dengan menunjukkan teknik-teknik tertentu secara kelompok maupun klasikal kemudian diulang-ulang secara sistematis dengan menggunakan media yang relevan yaitu bangun datar.
Penggunaan media benda-benda bangun datar dan metode drill akan diterapkan secara variasi dalam bentuk pembelajaran Matematika di kelas II SD Negeri Batursari 3 melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan selama beberapa pertemuan, dan dibagi dalam dua siklus. Kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan Media bangun datar  dan metode drill ini merupakan tindak lanjut perbaikan pembelajaran yang dilakukan peneliti untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap mata pelajaran Matematika.

Perumusan Masalah

Berdasarkan deskripsi dalam identifikasi dan analisis masalah di atas maka peneliti merumuskan permasalahan yang difokuskan dalam penelitian tindakan kelas. Adapun permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: Bagaimanakah peningkatan aktivitas dan hasil belajar Matematika materi Mengenal Sudut  Bangun datar dengan pembelajaran yang memanfaatkan media bangun datar dan metode drill di kelas II SD Batursari 3 semester 2 tahun pelajaran 2013/2014?

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan aktivitas dan hasil belajar Matematika dengan memanfaatkan metode drill   dan media bangun datar bagi  siswa kelas II Sekolah Dasar Negeri Batursari 3 tahun 2013/2014 pada materi Mengenal sudut bangun datar. Selain itu juga untuk meningkatkan kemampuan dan aktivitas  belajar siswa dalam pembelajaran Matematika. Adapun tujuan perbaikan pembelajaran bagi guru yakni untuk meningkatkan kinerja dan kompetensinya.

LANDASAN TEORETIS DAN HIPOTESIS

Pembelajaran

Model pembelajaran didefinisikan dengan berbagai pengertian oleh beberapa ahli. Joyce (2011:7) mendefinisikan model pembelajaran adalah rancangan pembelajaran yang membantu peserta didik memperoleh informasi, gagasan, skill, nilai, cara berpikir, dan tujuan mengkespresikan diri mereka sendiri, serta mengajari mereka untuk belajar. Peran guru dalam pembelajaran adalah mencetak para pembelajar yang handal (powerful learners). Model pembelajaran yang akan dikembangkan ini meliputi: skenario pembelajaran, sintaks, sistem sosial, sistem pendukung, dampak instruksional, dan dampak pengiring.
Pembelajaran merupakan kegiatan bertemu muka dengan siswa dalam rangka belajar dan mengajar. Tim Mata Kuliah Dasar Khusus (MKDK) IKIP Semarang (1992:15) menjelaskan bahwa pembelajaran adalah  usaha sadar yang dilakukan oleh guru untuk membantu siswa atau anak didik agar mereka dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan minatnya. Guru berfungsi sebagai fasilitator, yaitu orang yang menyediakan fasilitas dan menciptakan situasi yang mendukung agar siswa dapat mewujudkan kemampuan belajarnya. Sedangkan belajar pada dasarnya merupakan aktifitas yang secara sadar dilakukan siswa. The Liang Gie menyatakan bahwa belajar adalah segenap rangkaian atau aktivitas yang dilakukan secara sadar oleh seseorang dan mengakibatkan perubahan dirinya, berupa penambahan atau kemahiran yang sifatnya sedikit banyak permanen. (Liang Gie, 1982; 61).
Berdasarkan pernyataan di atas maka peneliti merumuskan pembelajaran adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seorang guru untuk dapat menciptakan kegiatan belajar mengajar bagi siswa. Sedangkan belajar merupakan kegiatan peserta didik untuk dapat mengembangkan potensi dirinya menjadi lebih berkualitas. Dalam penelitian ini pembelajaran yang dimaksud adalah pembelajaran Matematika dengan materi mengenal sudut-sudut bangun datar di kelas II  Sekolah Dasar Batursari 3.
Pembelajaran Matematika  
Pembelajaran di sekolah dilakukan guru dalam berbagai mata pelajaran sesuai dengan kurikulum yang digunakannya. Hampir setiap lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, memuat pelajaran Matematika. Menurut Johnson dan Myklebust (1967: 244) dalam Mulyono (1999: 252) Matematika adalah bahasa simbolis yang fungsi praktisnya untuk mengekpresikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keuangan sedangkan teoritisnya adalah untuk memudahkan berpikir. Ada beberapa alasan perlunya siswa belajar Matematika menurut penuturan Conelius dalam Mulyono (1999: 252), yaitu: (1) sarana berpikir yang jelas dan logis, (2) sarana untuk memecahkan kehidupan sehari-hari, (3) sarana mengenal pola-pola hubungan dan generalisasi pengalaman, (4) sarana untuk mengembangkan kreativitas, dan (5) sarana untuk meningkatkan perkembangan budaya.
Berdasarkan prinsip di atas, maka pembelajaran Matematika khususnya Materi mengenal sudut bangun datar , perlu adanya media yang bervariasi, dan  metode yang menarik untuk menanamkan konsep terhadap diri peserta didik.
Hasil Belajar
Hasil belajar siswa dapat dikatakan sebagai prestasi belajar. Prestasi belajar merupakan hasil belajar yang diperoleh siswa selama belajar. Syaifuddin (1996:164) mendefinisikan prestasi belajar dengan, Perolehan pengetahuan dan kecakapan baru yang dapat dioperasikan dalam bentuk indikator berupa nilai raport, indeks prestasi, angka kelulusan, predikat keberhasilan dan semacamnya.
Untuk mengetahui prestasi belajar siswa perlu adanya evaluasi sebagai alat untuk mengukur hasil belajar. Pemberian nilai menurut Suharsismi (1997: 274) merupakan suatu pekerjaan yang memberikan suatu feed back (umpan balik) yang mencerminkan seberapa jauh seorang siswa telah mencapai tujuan yang ditetapkan dalam pengajaran atau sistem instruksional.
Prestasi belajar yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Matematika khususnya pada materi mengenal sudut-sudut bangun datar.

Metode Belajar
Metode adalah cara yang telah diatur dan terpikir  untuk mencapai tujuan. B. Simanjutak (1983:13) menyatakan bahwa metode adalah cara yang sistematis yang digunakan untuk mencapai tujuan. Metode belajar yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah Metode drill. 
Menurut Djamarah (2006) metode drill ialah cara penyajian pelajaran dengan meragakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik sebenarnya ataupun tiruan yang sering disertai dengan penjelasan lisan. Dengan metode drill, proses penerimaan siswa terhadap pelajaran akan lebih berkesan secara mendalam, sehingga membentuk pengertian dengan baik dan sempurna. Juga siswa dapat mengamati dan memperhatikan apa yang diperhatikan selama pelajaran berlangsung.
Metode drill baik yang digunakan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang hal-hal yang berhubungan dengan proses mengatur suatu proses membuat suatu proses bekerjanya suatu, proses pengerjaan atau menggunakannya. Komponen-komponen yang membentuk sesuatu, membandingkan sesuatu cara dengan cara dan mengetahui atau melihat kebenaran sesuatu.
Metode drill mempunyai kelebihan dan kekurangan, antara lain sebagai berikut :
a.       Kelebihan Metode Drill
·         Dapat membuat pengajaran menjadi lebih jelas dan lebih konkrit, sehingga menghindari verbalisme (pemahaman secara kata-kata atau kalimat)
·         Siswa lebih mudah memahami apa yang dipelajari
·         Proses pengajaran lebih menarik
·         Siswa ditantang untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dengan kenyataan, dan mencoba melakukannya sendiri
b.      Kekurangan Metode Drill
·         Memerlukan keterampilan guru secara khusus, karena tanpa ditunjang hal itu, pelaksanaan drill akan tidak efektif.
·         Fasilitas seperti peralatan, tempat dan biaya yang memadai tak selalu tersedia dengan baik.
·         Memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang di samping waktu yang cukup panjang
·         (Djamarah, 2006 : 90 – 91).
Dalam penelitian ini dipilih metode drill dipilih sebagai cara untuk meningkatkan motivasi belajar siswa  dalam pembelajaran Matematika materi materi menganl sudut-sudut bangun datar di kelas  2 SD  Negeri Batursari 3  dengan memanfaatkan macam-macam bangun datar .

Media Pengajaran
Media pengajaran merupakan bagian integral dari proses pendidikan. Maka dari itu media pengajaran merupakan faktor penting yang menentukan keberhasilan pendidikan. Umar Hamalik (1994:12) mendefinisikan media pendidikan adalah alat, metode dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah.
Media pembelajaran dapat dikategorikan sebagai  bersumber belajar. Mudhoffir (1992:5) mengartikan sumber belajar adalah, segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan belajar. Yang termasuk dalam sumber belajar adalah: orang, bahan/alat, pesan, teknik dan lingkungan. Sumber belajar yang berkaitan dengan lingkungan meliputi: halaman sekolah, kebun, UKS, perpustakaan, laboratorium, museum dan lain-lain yang ada kaitannya dengan lingkungan sekitar sekolah.
Media yang digunakan dalam pembelajaran ada bermacam-macam, mulai dari media yang sederhana hingga media yang rumit dan modern. Media pengajaran merupakan alat bantu dalam mengajar. Media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang akan menyebabkan hasil belajar yang tinggi pula. Media dalam kegiatan pembelajaran ini adalah macam-macam bangun datar.


Kerangka Berpikir
Pemanfaatan metode drill macam-macam bangun datar  dalam pembelajaran Matematika di kelas II SD, merupakan tindakan yang dipilih untuk mengatasi masalah penanaman konsep cara menentukan Materi menganl sudut-sudut bangun datar dalam pembelajaran Matematika. Ada beberapa pendekatan yang digunakan dalam pengajaran Matematika. Menurut Mulyono (1999: 155) ada empat pendekatan yang paling berpengaruh dalam pengajaran Matematika, yaitu: (1) urutan belajar yang bersifat perkembangan, (2) belajar tuntas, (3) strategi belajar, dan (4) pemecahan masalah. Apabila metode dan media yang digunakan guru selalu monoton maka siswa akan bosan dan hasil belajar siswa rendah. Sebaliknya apabila metode dan media yang dipilih guru bervariasi maka prestasi  belajar siswa akan lebih baik pula.
Kerangka berpikir dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Pembelajaran  Matematika
Variabel X
Media Macam-macam bangun datar dan metode drill
Hasil Belajar (Variabel Y)
 

 


Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: Pemanfaatan metode Drill dan macam-macam bangun datar  dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Matematika materi tentang Materi menganl sudut-sudut bangun datar di kelas II  Semester 2 SD Batursari 3  tahun  pembelajaran 2013/2014.
PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Subjek Penelitian
Subyek penelitian adalah siswa kelas II SD  Negeri Batursari 3  yang jumlahnya sebanyak 39 siswa, yang terdiri atas 17 siswa laki-laki dan 22 perempuan. Fokus pembelajaran pada materi mengenal sudut bangun datar. Penelitian ini dibagi dalam dua siklus. Peneliti  selama melakukan penelitian sebagai guru yang melaksanakan kegiatan pembelajaran.
Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan selama satu semester, yakni Semester 2 tahun pelajaran 2013/2014, mulai tanggal 29 Maret sebagai pra siklus. Siklus pertama dilaksanakan pada tanggal  3 April 2014  dan siklus ke dua dilaksanakan pada tanggal 10 April 2014.
Karakteristik siswa
Siswa kelas II  SD  Negeri Batursari 3   terdiri atas 39 siswa. Masing-masing siswa berasal dari latar belakang keluarga yang tidak sama. Pekerjaan orang tua siswa terdiri atas pegawai negeri,  pedagang, maupun pegawai swasta.Usia mereka rata-rata 6-7 tahun. Tempat tinggal siswa kelas II SD Negeri Batursari 3    di sekitar  lokasi SD yaitu perumahan Pucanggading dan sekitarnya.

Prosedur Penelitian
       Siklus 1 dan siklus 2 terdiri atas:
Perencanaan
Berdasarkan refleksi permasalahan yang telah dideskripsikan, peneliti  menyusun rencana pembelajaran berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dilaksanakan di SD Negeri Batursari 3. Guru mendesain program pembelajaran dengan langkah-langkah: 1) Menentukan standar kompetensi, 2) Menentukan kompetensi dasar, 3) Menentukan indikator, 4) Menetukan tujuan yang hendak dicapai, 5) Menentukan materi yang  disesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai, 6) Menentukan media yaitu macam-macam bangun datar,7) Menentukan metode drill yang akan digunakan untuk menyampaikan pembelajaran, dan 8) Menentukan alat evaluasi.
Pelaksanaan
Prosedur yang dilakukan untuk memperbaiki pembelajaran yang dilakukan siswa terdiri atas:1) Proses pelaksanaan  (tindakan/perlakuan), 2) Pengukuran hasil tindakan (evaluasi), dilakukan melalui tes formatif,  dan 3) Analisis hasil evaluasi secara prosentase keberhasilan peserta didik, dengan menganalisis hasil tes formatif, kemudian dibandingkan dengan nilai peserta didik sebelum tindakan diberikan serta 4) analisis dan refleksi hasil kegiatan pembelajaran.
Adapun langkah-langkah kegiatan guru yang dilakukan pada siklus 1 pada pembelajaran Matematika kelas II  tahun pelajaran 2013/2014 adalah sebagai berikut: 1) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran; 2) guru dan siswa tanya jawab seputar lagu Bangun Tidur Terus Mandi dan dikaitkan dengan materi.
a.       Guru menjelaskan materi sudut bangun datar
b.      Guru mendrillkan sudut-sudut bangun datar.
c.       Siswa mencoba mencari sudut bangun datar.
d.      Guru menjelaskan materi bangun datar
e.       Siswa maju mencari bangun datar ke depan dengan tuntunan guru.
h. Siswa meneuju kelompoknya.
i.           Siswa bersama kelompoknya mengerjakan lembar kerja siswa.
j.        Guru memantau tiap kelompok dan memberi bimbingan pada kelompok yang mengalami kesulitan.
k.      Siswa melaporkan hasil tugas.
l.        Guru dan siswa membahas hasil kerja kelompok.
m.    Guru memajang hasil kerja kelompok di papan pajangan.
Pengamatan
Guru sambil melaksanakan pembelajaran melakukan observasi terhadap kegiatan siswa. Selain itu teman sejawat ikut serta sebagai observer. Teman sejawat mencatat semua temuan selama tindakan diberikan kepada siswa, membahas kekurangan dan memberikan masukan kepada guru baik secara lesan maupun tertulis.

Refleksi
Pelaksanaan refleksi dimaksudkan untuk mencatat semua temuan dalam pembelajaran baik kelemahan maupun kelebihan yang ada pada perbaikan pembelajaran siklus 1, untuk ditindaklanjuti pada pembelajaran di siklus 2.

     
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Deskripsi Prasiklus
Pembelajaran Matematika  kelas  II dilakukan oleh guru kelas, sesuai dengan jadwal pelajaran yang telah disusun. Pembelajaran perbaikan dilakukan dengan tujuan agar hasil belajar siswa meningkat. Tindakan perbaikan pembelajaran dengan memanfaatkan metode drill dilakukan pada siklus 1 dan siklus 2 pada kelas II Semester 2 SD Negeri Batursari 3   yang  terdiri atas 39 siswa diperoleh data apabila disusun dalam bentuk distribusi frekuensi menurut aturan Sturges (Nar Herhyanto, 2004: 212) hasilnya sebagai berikut:
                                                  Tabel 1. Hasil Nilai Tes sebelum perbaikan
No
Rentan Nilai
Jumlah Siswa
Persentase (%)
1
40
4
10,3
2
50
13
33,3
3
60
8
20,5
4
70
10
25,6
5
80
4
10,3
6
90


7
100


              JUMLAH
39
100

 Berdasarkan analisis dari hasil di atas, dapat dilihat bahwa nilai siswa sebelum kegiatan perbaikan  pembelajaran sebanyak 25 (64%) siswa meraih nilai di bawah KKM yakni di bawah 70 dan siswa yang mencapai tingkat ketuntasan sebanyak 14 (36%) siswa. Nilai tertinggi yang dicapai siswa 80 dan nilai terendah siswa 39. Nilai rata-rata kelas 60,8.




 Dari data tersebut dapat digambarkan dalam diagram sebagai berikut:









Dari kegiatan pra siklus tersebut disusun rencana perbaikan  pembelajaran untuk siswa kelas II mata pelajaran Matematika, lembar observasi, dan lembar tugas siswa. Dalam kegiatan pembelajaran digunakan metode drill dengan  macam-macam bangun datar . Rencana kegiatan pembelajaran difokuskan : Strategi pembelajaran Matematika dengan memanfaatkan metode drill dan macam-macam bangun datar.

Deskripsi Siklus 1
Perencanaan Tindakan
Langkah-langkah perencanaan dalam perbaikan pembelajaran ini adalah: 1) Menentukan standar kompetensi, 2) Menentukan kompetensi dasar, 3) Menentukan indikator, 4) Menetukan tujuan yang hendak dicapai, 5) Menentukan materi yang  disesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai, 6) Menentukan media manic-manik,7) Menentukan metode drill yang akan digunakan untuk menyampaikan pembelajaran, dan 8) Menentukan alat evaluasi.
Hasil Pelaksanaan
 Kegiatan  pembelajaran dalam siklus 1 ini dilakukan pada tanggal  3 April 2014 pada  materi mengenal sudut bangun datar dengan metode drill dan macam-macam bangun datar. Langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan pada siklus 1  pembelajaran Matematika kelas II  tahun pelajaran 2013/2014 adalah sebagai berikut: 1) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, 2) Guru dan siswa tanya jawab seputar lagu Bangun Tidur Terus Mandi dan dikaitkan dengan materi, 3) Guru menjelaskan materi sudut bangun datar, 4) Guru mendrillkan sudut-sudut bangun datar, 5) Siswa mencoba mencari sudut bangun datar, 6) Guru menjelaskan jenis-jenis sudut, 7) Siswa maju mencari sudut pada bangun datar dengan tuntunan guru, 8) Siswa meneuju kelompoknya, 9) Siswa bersama kelompoknya mengerjakan lembar kerja siswa, 10)Guru memantau tiap kelompok dan memberi bimbingan pada kelompok yang mengalami kesulitan, 11) Siswa melaporkan hasil tugas, 12) Guru dan siswa membahas hasil kerja kelompok, 13) Guru memajang hasil kerja kelompok di papan pajangan. Hasil pembelajaran yang didapatkan apabila disusun dalam bentuk distribusi frekuensi menurut aturan Sturges (Nar Herrhyanto, 2004: 212) hasilnya sebagai berikut:
                                                Tabel 2. Hasil Nilai Tes Siklus 1
No
Rentan Nilai
Jumlah Siswa
Persentase (%)
1
40
0
0
2
50
3
7,5
3
60
5
12,5
4
70
19
47,5
5
80
8
20
6
90
4
12,5
7
100


JUMLAH
40
100

Berdasarkan analisis dari hasil di atas, dapat dilihat bahwa nilai siswa  pada siklus 1 sebanyak 8 (20%) siswa meraih nilai di bawah KKM yakni di bawah 70 dan 31 (80%)  siswa tuntas.  Nilai terendah yang dicapai siswa adalah 50 dan nilai tertinggi adalah 90, dengan rata-rata kelas 70,71.




          Data tersebut dapat disajikan dalam grafik sebagai berikut:


           







Hasil Pengamatan
Setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran Matematika dengan materi  hitung mengenal sudut bangun datar ,  ternyata masih ada 8 siswa yang belum dapat menguasai konsep tentang  sudut bangun datar  yang ditunjukkan melalui metode macam-macam bangun datar  dan metode drill dengan media macam sudut bangun datar . Siswa masih ada yang belum optimal dalam mengerjakan tugas dan latihan. Selain itu siswa masih belum berani menanyakan apabila mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal.


Hasil Refleksi
Dari pelaksanaan perbaikan pembelajaran, serta masukan dari teman sejawat, hasil refleksi dalam pembelajaran ini adalah: Media macam-macam bangun datar   dan metode drill kurang optimal, pemanfaatan media hitung mengenal sudut bangun datar  masih kurang efektif. Guru kurang menguasai kelas atau mengkondisikan kelas. Guru kurang jelas dalam menanamkan konsep dasar tentang  mengenal sudut bangun datar . Kelebihannya adalah guru telah melaksanakan pembelajaran dengan langkah-langkah yang sistematis dan menyenangkan siswa sehingga hasil belajar meningkat.

Deskripsi Siklus 2
Hasil Perencanaan
Berdasarkan hasil dari refleksi pembelajaran siklus 1, maka disusun rencana pembelajaran berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dilaksanakan di SD Negeri Batursari 3   Guru mendesain program pembelajaran dengan langkah-langkah: 1) Menentukan standar kompetensi, 2) Menentukan kompetensi dasar, 3) Menentukan indikator, 4) Menentukan tujuan yang hendak dicapai, 5) Menentukan materi yang  disesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai, 6) Menentukan media yang relevan, 7) Menentukan metode yang akan digunakan untuk menyampaikan pembelajaran yaitu metode drill dan drill, dan 8) Menentukan alat evaluasi.

Hasil Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus 2 ini pada tanggal  10 April 2014 dengan langkah pembelajaran sebagai berikut: 1) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, 2) Guru dan siswa tanya jawab seputar lagu “Bangun Tidur Terus Mandi”dan dikaitkan dengan materi, 3) Guru menjelaskan materi sudut bangun datar, 4) Guru mendrillkan sudut-sudut bangun datar, 5) Siswa mencoba mencari sudut bangun datar, 6) Guru menjelaskan jenis-jenis sudut, 7) Siswa maju mencari sudut pada bangun datar dengan tuntunan guru, 8) Siswa meneuju kelompoknya, 9) Siswa bersama kelompoknya mengerjakan lembar kerja siswa, 10)Guru memantau tiap kelompok dan memberi bimbingan pada kelompok yang mengalami kesulitan, 11) Siswa melaporkan hasil tugas, 12) Guru dan siswa membahas hasil kerja kelompok, 13) Guru memajang hasil kerja kelompok di papan pajangan.
Hasil belajar siswa pada siklus 2 dapat dipaparkan sebagai berikut:
Data hasil nilai evaluasi pada siklus 2tersebut apabila disusun dalam bentuk distribusi frekuensi menurut aturan Sturges (Nar Herrhyanto, 2004: 212) hasilnya sebagai berikut:

Tabel 3. Hasil Nilai Tes Siklus 2
No
Rentan Nilai
Jumlah Siswa
Persentase (%)
1
40
0
0
2
50
0
0
3
60
0
0
4
70
14
35
5
80
11
27.5
6
90
11
30
7
100
3
7.5
JUMLAH
39
100

Berdasarkan analisis dari hasil di atas, dapat dilihat bahwa nilai siswa  pada siklus 2 sebanyak 0 siswa meraih nilai di bawah KKM yakni di bawah 70 dan 39 siswa tuntas.  Nilai tertinggi yang dicapai siswa adalah 100 dan nilai terendah adalah 70, dengan nilai rata-rata 80,87. Dari data tersebut dapat digambarkan dalam grafik sebagai berikut:









Hasil  Pengamatan Tindakan
Dari pelaksanaan pembelajaran yang diamati oleh teman sejawat, dapat diuraikan sebagai berikut:  Sebagian besar siswa sudah berhasil mencapai nilai di atas KKM yang ditentukan, yakni di atas 70, sebanyak 40 siswa  dan tidak ada ada siswa yang belum dapat mencapai KKM. Sedangkan siswa  39 (100%)  tuntas dalam pembelajaran dengan mencapai nilai di atas 70.  Kegiatan pembelajaran pada siklus 2 ini berlangsung aktif, dan siswa termotivasi untuk menyelesaikan latihan soal-soal.

Hasil Refleksi
Refleksi dari kegiatan perbaikan pembelajaran adalah sebagai berikut:  Metode yang digunakan guru dilaksanakan secara sistematis, memanfaatkan media hitung mengenal sudut bangun datar  dan metode deonstrassi serta drill dalam pembelajaran secara optimal,  dan Penugasan  melalui LKS dilaksanakan secara efektif. Dari data-data dari pra siklus, siklus 1, dan siklus 2 tersebut dapat direkapitulasi seperti pada tabel 4 di bawah ini:
               Tabel 4. Hasil Rekapitulasi Nilai Evaluasi Hasil Pembelajaran Siswa
No
Kegiatan

Juml
Siswa
Nilai
Rata2
Nilai
Tertinggi
Nilai
Terendah
Tuntas

Tidak
Tuntas
Ketuntasan(%)
1
Pra
Siklus
39
60,80
80
40
14
25
45
2
Siklus 1
39
70,71
90
50
31
8
80
3
Siklus 2
39
80,87
100
70
39
0
100

Dari hasil rekapitulasi tersebut, dapat dibuat grafik perbandingan hasil evaluasi pembelajaran Matematika pada materi mengenal sudut bangun datar siswa kelas II SD Batursari 3   dari sebelum kegiatan perbaikan sampai siklus 1 dan 2 dilaksanakan sebagai berikut:







Pembahasan
Perbaikan pembelajaran dilakukan setelah pembelajaran hasil pra siklus dianalisis. Sebelum kegiatan pembelajaran perbaikan dilakukan terdapat 25 siswa yang mengalami tidak tuntas sesuai dengan batas KKM yang ditentukan yakni 70, dan baru 14 siswa yang mencapai ketuntasan. Persiapan kegiatan pembelajaran  disusun guru dengan berdasarkan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang dijadikan pedoman dalam kegiatan pembelajaran di SD Negeri Batursari 3. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) juga dikonsultasikan dengan teman sejawat guna mendapatkan masukan dan saran yang bersifat membangun untuk kemajuan dan peningkatan hasil belajar siswa.
Kegiatan perbaikan pembelajaran dilakukan pada siklus 1 dan 2. Pada siklus 1 kegiatan perbaikan pembelajaran dengan memanfaatkan metode bermain dan drill serta media gambar dalam  hitung mengenal sudut bangun datar, berdasarkan pengamatan peneliti dan hasil analisis ulangan pada siklus pertama, dapat dikatakan bahwa tanggapan siswa terhadap tindakan yang diberikan positif, terbukti dari hasil nilai ulangan yang meningkat ( dari rata-rata 60,80 menjadi rata-rata 70,71) dibandingkan dengan nilai sebelumnya. Anak-anak antusias dan semangat dalam mengikuti pembelajaran Matematika pada materi “mengenal sudut bangun datar.
Setelah kegiatan perbaikan pembelajaran pada siklus 1 dilakukan kelemahan dan kekurangannya dianalisis. Kemudian disusun rencana perbaikan pembelajaran pada siklus 2. Pada tindakan ke dua ini, peneliti berusaha mengantisipasi terhadap kelemahan yang terjadi pada tindakan pertama. Materi pembelajaran pada siklus ini masih mengacu pada kompetensi dasar yang sama namun dilengkapi dengan menggunakan media pembelajaran. Siklus 2 hasilnya lebih meningkat dari pada siklus 1, yakni dari 39 siswa yang tuntas dengan nilai KKM di atas 70 sebanyak 39 siswa  (100 %) sedangkan yang nilainya di bawah KKM sebanyak 0  anak (0%).
Berdasarkan histogram tersebut di atas dapat dikatakan bahwa ada perbedaan yang signifikan dari hasil belajar peserta didik antara kegiatan pembelajaran yang dilakukan sebelumnya dengan pembelajaran setelah dikenai tindakan (pemanfaatan  metode drill dan macam-macam bangun datar  dalam materi  hitung mengenal sudut bangun datar  di kelas II SD Negeri Batursari 3). Maka dari itu pembelajaran dengan memanfaatkan  metode drill serta macam-macam bangun datar  materi hitung mengenal sudut bangun datar  dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran. Oleh karena  itu hipotesis yang diajukan diterima, yakni pembelajaraan dengan memanfaatkan metode macam-macam bangun datar   dan metode drill materi  mengenal sudut bangun datar  dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas II SD Negeri Batursari 3   pada materi mengenal sudut bangun datar.

SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Pemanfaatan metode drill dan macam-macam bangun datar  dalam materi mengenal sudut bangun datar  dalam pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Matematika materi tentang hitung mengenal sudut bangun datar  di kelas  II  Semester 2 SD Negeri Batursari 3   tahun  pembelajaran 2013/2014. Hal ini dapat dilihat pada rata-rata nilai yang diperoleh peserta didik setelah tindakan diberikan dalam ulangan  yang mencapai tingkat ketuntasan lebih banyak sesuai dengan KKM  yang ditentukan. Ada pengaruh positif antara memanfaatkan macam-macam bangun datar dan metode drill terhadap hasil belajar mata pelajaran Matematika materi tentang mengenal sudut bangun datar  bagi peserta didik kelas II SD Negeri Batursari 3   tahun pelajaran 2013/2014.

Saran
Untuk mengintensifkan pemanfaatan metode dan media pembelajaran dapat disarankan sebagai berikut: Kepada Guru hendaknya meningkatkan kemampuannya dan mengembangkan  kreativitas dalam pembelajaran dengan memanfaatkan berbagai media dan metode yang bervariasi. Pihak sekolah sebagai tempat dan penyelenggara pendidikan hendaknya melengkapi fasilitas dan kebutuhan yang diperlukan peserta didik dalam kegiatan belajar-mengajar.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, M.  1994. Jurnal Pendidikan. Jakarta: Depdikbud.
Arikunto, Suharsimi. 1997. Dasar EvIaluasi Pendidikan. Jakarta: Bina Aksara.
-----. 1997. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Depdikbud. 1998. Pedoman Pembuatan dan Penggunaan Alat peraga/ Media Pembelajaran Sekolah Dasar. Jakarta: Ditektorat sarana Pendidikan Depdikbud.
-----1992. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: IKIP Press
Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Depdiknas.
Hamalik, Oemar. 1994. Media pendidikan. Bandung: Citra Adi Karya.
Hadi, Sutrisno. 1997. Metode Penelitan. Yogyakarta: Andi Ofset.
Mudhofir. 1986. Teknologi Instruksional. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mustaqim.  Wahib, Abdul. 1990. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Nasution, S. 1995. Metode Research. Jakarta: Bumi Aksara.
Nasution, S. Kurikulum Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Rachman, Maman.1993. Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sadiman, Arief S. 1993. Media Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Sudjana, Nana. 1992. Media Pengajaran. Bandung: Sinar baru.
Syah, Muhibbin, 1997. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya
Tim MKDK IKIP Semarang. 1996. Belajar dan pembelajaran. Semarang: IKIP press.