SEJARAH DAN HARI JADI
KABUPATEN DEMAK
WAHYUNINGSIH RAHAYU, S.Pd,M.Pd
Kota Demak
merupakan salah satu kota yang cukup mengukir sejarah di negara kita,
kaitannya dengan penyebaran agama Islam di pulau Jawa. Demak merupakan kerajaan
Islam yang pertama di pulau Jawa, karena pada masa pemerintahan kerajaan Demak,
agama Islam berkembang pesat. Agama Islam yang pada mulanya disebarkan oleh
para pedagang dari Pasai dan Malaka, ataupun dari negara lainnnya dapat
diterima dan berkembang menjadi desa baru, dan pada akhirnya menjadi suatu
daerah Demak yang cukup tenar sampai sekarang ini.
Kata Demak sendiri berasal dari berbagai
kata yang mengandung arti dan makna yang berbeda. Menurut Poernatjaraka, kata
Demak berasal dari bahasa Jawa “Delamak” yang berarti tempat berlumpur.
Sedangkan menurut basa kawi, kata Demak berasal mengandung arti daerah yang
dihadiahkan. Ada pula ahli yang menafsirkan kata Demak dilihat dari bahasa
Arab, “Dama” yang berarti air mata. Semua
tafsir tentang nama Demak, disesuaikan dengan segi sejarah maupun
daerahnya. Nama Demak sering disebut
secara lengkap dengan Demak Bintara, yang berarti Rawa Bintara.
Sebagai daerah pesisisr yang termasyur
dengan pusat penyebaran agama Islam di pulau Jawa, terdapat bangunan yang megah
dan agung, yakni masjid agung Demak. Pernahkah saudara sekalian berziarah ke
sana? Bila kalian ke sana akan melihat betapa agungnya peninggalan jaman dulu
yang masih dapat dimanfaatkan untuk tempat ibadah sampai sekarang ini.
Berdasarkan sumber tradisi, masjid agung didirikan sekitar tahun
1475 M, oleh Raden Patah. Akan tetapi berbagai pendapat ada yang mengatakan
bahwa masjid agung Demak dibangun tahun 1466 M, dan diresmikan pemugarannya
tahun 1506 M. Sedangkan menurut cerita tradisi, masjid Demak didirikan oleh
para Wali dalam satu malam. Menurut H.J. Graaf, masjid Demak dibangun dengan
penuh kemujizatan, dalam hal ini Sunan Kalijaga memegang peranan penting.
Masjid Demak terdapat empat tiang atau empat saka guru, yang dibuat oleh empat
wali. Salah satunya dibuat oleh Sunan Kalijaga dari potongan kayu (basa Jawa
tatal) sehingga dikenal dengan “saka tatal” yang terletak di sebelah timur
laut. Tiang disebelah barat laut dibuat oleh Sunan Bonang, tiang disebelah tenggara dibuat oleh
Sunan Ngampel, dan tiang di bagian barat daya dibuat oleh Sunan Gunung Jati.
Bangunan masjid Demak, memiliki atap
tumpang berjumlah tiga susun. Masjid yang asli berukuran 31 x 31 m, empat buah
saka guru yanng masing-masing tingginya 19,5m, dan diameternya 11,45m. serambi
masjid berukuran 31 x 20m merupakan
bangunan tambahan. Sekarang ini masjid Demak telah mengalami beberapa kali
pemugaran, akan tetapi arsetekturnya tetap dipertahankan seperti aslinya yakni
beratap tumpang, yang tetap mencerminkan cirikhas masjid-masjid kuno bangsa
Indonesia.
Selain mengetahui tentang masjid agung
Demak, kita juga harus mengetahui sejarah tentang berdirinya kota Wali ini.
Menurut para ahli, pendiri kerajaan Demak adalah Raden Patah. Prof. DR. Slamet
Mulyono, Raden Patah merupakan putra raja Kertabumi, dari Majapahit dengan
istrinya Putri Cina atau Putri Campa. Beliau bernama pangeran Djin Bun, atau
raden Hasan yang lahir pada tahun 1455M.
Putri Campa juga memiliki putera dari Arya Damar yang bernama Raden Timbal atau
Raden Husen. Kedua pemuda ini, saling bekerja sama menyebarkan agama Islam di pulau
Jawa.
Setelah Dewasa Raden, Patah dinikahkan
dengan puteri gurunya Sunan Ngampel yang
bernama Nyai Ageng Maleka. Kemudian atas petunjuk Sunan Ngampel, mereka menetap
di desa Glagahwangi, Bintara. Desa ini terkenal subur, dan makmur serta
dijuluki desa Islam. Karena merasa kuatir akan ancaman desa ini, Raden
Brawijaya mengutus Raden Timbal yang tidak lain adalah saudara kandung Raden
Patah. Akhirnya Raden Timbal tidak pernah kembali ke Majapahit, dan membantu
kakaknya mengembangkan wilayah dan
menyebarkan agama Islam di sana.
Raden Patah kemudian diangkat menjadi
Adipati, dengan gelar Adipati Natapraja, sedangkan Raden Timbal ditempatkan
sebagai penguasa di Terung dengan gelar Adipati Pecatanda. Setelah Majapahit
runtuh, atas restu para Wali, Sunan Ngampel menobatkan adipati Natapraja
menjadi raja dengan gelar Sutan Bintara. Pelantikan Raden Patah menjadi raja
bertepatan dengan tanggal 12 Rabiulawal 1425 S/ 28 Maret 1503 M. Hal ini
dikuatkan dengan Dhandanggula, Serat ke 67 dari Babat Loana, yang ditulis oleh
RM. Ng. Ronggo Handoko, yang antara lain berbunyi:
Ilir-ilir aregang arangin
Asung
sasmita adeging praja
Bintarum
Demak kondange
Anyarengi
grebeg Mulut
……………………
Maksud
dari petikan serat itu adalah: bahwa penobatan raja Demak bersamaa dengan Grebek
Mulut, yaitu kegiatan untuk menyambut maulud Nabi Muahammad SAW. Dalam kegiatan
grebek mulut ini umumnya diadakan acara membaca syahadat tain, yang kemudian
oleh Sunan Kalijaga disebut dengan Sekaten. Upacara sekaten ini sampai sekarang
masih kita jumpai di bekas kerajaan Islam, seperti di keraton Surakarta. Sedangkan di Demak, kegiatan yang
sampai sekarang masih turun temurun adalah “Grebeg Besar”, yaitu kegiatan yang
diadakan untuk menyambut datangnya Idul Adha.
Setelah
Raden Patah wafat, digantikan oleh puteranya yang bernama Pangeran Sabrang Lor,
atau Pati Unus. Pati Unus berusaha melebarkan wilayahnya ke daerah lain, tetapi
masih gagal, dan kemudian Beliau wafat dalam usianya yang masih cukup muda,
tanpa meninggalkan putera.
Setelah
itu Pangeran Trenggono naik tahta menggantikan kakaknya. Pada masa kekuasaan
Dia kerajaan Demak mencapai jaman keemasan. Wilayahnya semakin luas, meliputi seluruh Jawa, Kalimantan Selatan, dan
Selat Malaka. Pengaruh Islam semakin meluas ke daerah-daerah lain. Sultan Trenggono
gugur dalam penyerangannya ke Blambangan, kemudian jenazahnya dimakankan di
belakang masjid Agung Demak.
Sepeninggal Sultan Trenggono, karena
merasa tidak dapat menyelasaikan kemelut, kedelapan raja yang berhak memilih
pengganti Sultan Trenggono meninggalkan Demak. Akan tetapi tanpa sepengetahuan
mereka, pembesar dari Jepara mengangkat Pate Sedayo penguasa Surabaya sebagai
pengganti Sultan.
Namun
demikian menurut sumber dari Babat tanah Jawi, yang menggantikan Sultan
Trenggana adalah Sunan Prawata. Kemudian
Sunan Prawata menyuruh membunuh pamannya Pangeran Seda Lepen. Sunan Prawata
sendiri merupakan murid Sunan Kudus, bersama saudara sepupunya Arya Penanngsang
dan Jaka Tingkir yang merupakan putera dari Adipati Pengging.
Setelah tahu ayahnya dibunuh oleh Sunan
Prawata, maka Arya Penangsang menyuruh
hambanya untuk membunuh Sunan Prawata. Sunan Prawata dibunuh bersama istrinya.
Adiknya Ratu Kalinyamat tidak terima dan minta keadilan pada sunan Kudus
bersama suaminya. Akan tetapi mereka tidak mendapatkan keadilan, bahkan di
tengah jalan dicegat oleh suruhan Arya
Penangsang.
Tidak terima akan kematian kakak dan
suaminya, Ratu Kalinyamat menyingkir ke Jepara dan melakukan “tapa wuda”
yakni tapa telanjang, tanpa pakaian
selembarpun, dan rambutnya di “ure” yakni tidak disanggul, dan bersumpah tidak
akan memakai pakaian sebelum melihat Arya Penangsang terbunuh.
Arya Penangsang yang sakti Mandraguna,
dengan kerisnya kyai Setan Kober, terbunuh oleh Sutawijaya putera Ki Ageng
Pemanahan. Akhirnya kerajaan dipindahkan ke Pajang. Secara politis Demak runtuh
sesudah tahun 1549, tetapi tidak merubah wibawa religius masjid Agung dan
Keturunan Sultan.
Pemimpin Pajang adalah Sultan Hadiwijaya,
alias Jaka Tingkir atau Mas Karebet, yang merupakan salah satu putera Ki Ageng
Pengging, yang ketika jaman kerajaan Demak tidak mau menghadap ke istana Demak,
hingga akhirnya dibunuh oleh Sunan Kudus. Namun Jaka Tingkir diterima sebagai
abdi dikerajaan ketika Sultan Trenggono memerintah karena kedikdayaannya.
Menurut sumber lain atas restu dari
beberapa wali, Jaka Tingkir naik tahta setelah Sultan Trenggono wafat, karena
Sunan Prawata tidak pernah menjadi raja sebab ia buta sejak kecil. Selama
pemerintahan Hadiwijaya, kesusateraan dan kesenian berkembang pesat, pengaruh
agama islam juga semakin luas. Peradapan di daerah Demak dan Jepara semakin
Maju. Sultan Hadiwijaya mempertahankan kerajaab dengan sebaik-baiknya di tanah Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jawa
Timur.
Sepeninggal
Hadiwijaya kekuasaaan Pajang dipegang oleh Arya Pangiri. Akan tetapi pangeran Benawa tidak terima, sehingga
timbul peperangan. Pangeran Banawa dibantu oleh Laskar Mataram dan mendapat
kemenangan. Ia dikukuhkan sebagai
penguasa Pajang. Sejak saat itu baik Pajang maupun Demak merupakan
daerah bagian dari Mataram.
Adapun peninggalan yang tetap megah dan
terkenal sampai sekarang ini adalah Masjid agung Demak, Masjid Moro Demak dan
makam Kadilangu.
Dengan mengacu pada rentetan sejarah
berdirinya kerajaan Demak, pendirian masjid Agung Demak, dan beberapa preistiwa kepahlawanan raja-raja
Demak, para ahli historis menggunakannya sebagai acuan untuk menentukan
kapan hari jadi kabupaten Demak itu.
Dari fakta-fakta sejarah, tentang
perkembangan kekuasaan di Demak itu pula
telah memenuhi 5 kriteria untuk dijadikan alternatif pilihan hari jadi
Kabupaten ini, yakni mengandung kriteria historis suatu daerah yang
mencerminkan cerita kota, mengandung nilai kebangsaan, memiliki nilai edukatif,
secara historis dapat dipertanggungjawabkan, serta dapat diterima oleh
masyarakat.
Berdasarkan historis itu, mengacu pada
tokoh pendiri kerajaan Demak, yakni raden Patah yang terbukti memiliki jiwa
luhur, kepribadian kuat, dan dapat dijadikan suri teladan bagi masyarakat. Maka
dari itu dipilihlah waktu penobatan Sultan Demak yang pertama, yaitu Raden
Patah tanggal 12 Rabiulawal tahun 1425 S atau tanggal 28 Maret 1503 M, sebagai
hari jadi Kabupaten Demak. Dirgahayu Kabupaten Demak yang ke 507, tahun 2010
ini semoga tetap eksis sebagai kota suci dan semakin maju dalam pembangunan.
Terimakasih.WAHYUNINGSIH RAHAYU
Tidak ada komentar:
Posting Komentar