Kamis, 20 Juni 2013

SEJARAH KOTA DEMAK



SEJARAH DAN HARI JADI KABUPATEN DEMAK

WAHYUNINGSIH RAHAYU, S.Pd,M.Pd

Kota Demak  merupakan salah satu kota yang cukup mengukir sejarah di negara kita, kaitannya dengan penyebaran agama Islam di pulau Jawa. Demak merupakan kerajaan Islam yang pertama di pulau Jawa, karena pada masa pemerintahan kerajaan Demak, agama Islam berkembang pesat. Agama Islam yang pada mulanya disebarkan oleh para pedagang dari Pasai dan Malaka, ataupun dari negara lainnnya dapat diterima dan berkembang menjadi desa baru, dan pada akhirnya menjadi suatu daerah Demak yang cukup tenar sampai sekarang ini.
Kata Demak sendiri berasal dari berbagai kata yang mengandung arti dan makna yang berbeda. Menurut Poernatjaraka, kata Demak berasal dari bahasa Jawa “Delamak” yang berarti tempat berlumpur. Sedangkan menurut basa kawi, kata Demak berasal mengandung arti daerah yang dihadiahkan. Ada pula ahli yang menafsirkan kata Demak dilihat dari bahasa Arab, “Dama” yang berarti air mata. Semua  tafsir tentang nama Demak, disesuaikan dengan segi sejarah maupun daerahnya. Nama Demak sering  disebut secara lengkap dengan Demak Bintara, yang berarti Rawa Bintara.
Sebagai daerah pesisisr yang termasyur dengan pusat penyebaran agama Islam di pulau Jawa, terdapat bangunan yang megah dan agung, yakni masjid agung Demak. Pernahkah saudara sekalian berziarah ke sana? Bila kalian ke sana akan melihat betapa agungnya peninggalan jaman dulu yang masih dapat dimanfaatkan untuk tempat ibadah sampai sekarang ini.
Berdasarkan sumber  tradisi, masjid agung didirikan sekitar tahun 1475 M, oleh Raden Patah. Akan tetapi berbagai pendapat ada yang mengatakan bahwa masjid agung Demak dibangun tahun 1466 M, dan diresmikan pemugarannya tahun 1506 M. Sedangkan menurut cerita tradisi, masjid Demak didirikan oleh para Wali dalam satu malam. Menurut H.J. Graaf, masjid Demak dibangun dengan penuh kemujizatan, dalam hal ini Sunan Kalijaga memegang peranan penting. Masjid Demak terdapat empat tiang atau empat saka guru, yang dibuat oleh empat wali. Salah satunya dibuat oleh Sunan Kalijaga dari potongan kayu (basa Jawa tatal) sehingga dikenal dengan “saka tatal” yang terletak di sebelah timur laut. Tiang disebelah barat laut dibuat oleh Sunan   Bonang, tiang disebelah tenggara dibuat oleh Sunan Ngampel, dan tiang di bagian barat daya dibuat oleh Sunan Gunung Jati.
Bangunan masjid Demak, memiliki atap tumpang berjumlah tiga susun. Masjid yang asli berukuran 31 x 31 m, empat buah saka guru yanng masing-masing tingginya 19,5m, dan diameternya 11,45m. serambi masjid berukuran 31 x 20m  merupakan bangunan tambahan. Sekarang ini masjid Demak telah mengalami beberapa kali pemugaran, akan tetapi arsetekturnya tetap dipertahankan seperti aslinya yakni beratap tumpang, yang tetap mencerminkan cirikhas masjid-masjid kuno bangsa Indonesia.
Selain mengetahui tentang masjid agung Demak, kita juga harus mengetahui sejarah tentang berdirinya kota Wali ini. Menurut para ahli, pendiri kerajaan Demak adalah Raden Patah. Prof. DR. Slamet Mulyono, Raden Patah merupakan putra raja Kertabumi, dari Majapahit dengan istrinya Putri Cina atau Putri Campa. Beliau bernama pangeran Djin Bun, atau raden Hasan  yang lahir pada tahun 1455M. Putri Campa juga memiliki putera dari Arya Damar yang bernama Raden Timbal atau Raden Husen. Kedua pemuda ini, saling bekerja sama menyebarkan agama Islam di pulau Jawa.
Setelah Dewasa Raden, Patah dinikahkan dengan puteri gurunya Sunan Ngampel  yang bernama Nyai Ageng Maleka. Kemudian atas petunjuk Sunan Ngampel, mereka menetap di desa Glagahwangi, Bintara. Desa ini terkenal subur, dan makmur serta dijuluki desa Islam. Karena merasa kuatir akan ancaman desa ini, Raden Brawijaya mengutus Raden Timbal yang tidak lain adalah saudara kandung Raden Patah. Akhirnya Raden Timbal tidak pernah kembali ke Majapahit, dan membantu kakaknya mengembangkan  wilayah dan menyebarkan agama Islam di sana.
Raden Patah kemudian diangkat menjadi Adipati, dengan gelar Adipati Natapraja, sedangkan Raden Timbal ditempatkan sebagai penguasa di Terung dengan gelar Adipati Pecatanda. Setelah Majapahit runtuh, atas restu para Wali, Sunan Ngampel menobatkan adipati Natapraja menjadi raja dengan gelar Sutan Bintara. Pelantikan Raden Patah menjadi raja bertepatan dengan tanggal 12 Rabiulawal 1425 S/ 28 Maret 1503 M. Hal ini dikuatkan dengan Dhandanggula, Serat ke 67 dari Babat Loana, yang ditulis oleh RM. Ng. Ronggo Handoko, yang antara lain berbunyi:
Ilir-ilir aregang arangin
Asung sasmita adeging praja
Bintarum Demak kondange
Anyarengi grebeg Mulut
……………………
Maksud dari petikan serat itu adalah: bahwa penobatan raja Demak bersamaa dengan Grebek Mulut, yaitu kegiatan untuk menyambut maulud Nabi Muahammad SAW. Dalam kegiatan grebek mulut ini umumnya diadakan acara membaca syahadat tain, yang kemudian oleh Sunan Kalijaga disebut dengan Sekaten. Upacara sekaten ini sampai sekarang masih kita jumpai di bekas kerajaan Islam, seperti di keraton Surakarta. Sedangkan di Demak, kegiatan yang sampai sekarang masih turun temurun adalah “Grebeg Besar”, yaitu kegiatan yang diadakan untuk menyambut datangnya Idul Adha.
Setelah Raden Patah wafat, digantikan oleh puteranya yang bernama Pangeran Sabrang Lor, atau Pati Unus. Pati Unus berusaha melebarkan wilayahnya ke daerah lain, tetapi masih gagal, dan kemudian Beliau wafat dalam usianya yang masih cukup muda, tanpa meninggalkan putera.
Setelah itu Pangeran Trenggono naik tahta menggantikan kakaknya. Pada masa kekuasaan Dia kerajaan Demak mencapai jaman keemasan. Wilayahnya semakin luas, meliputi seluruh Jawa, Kalimantan Selatan, dan Selat Malaka. Pengaruh Islam semakin meluas ke daerah-daerah lain. Sultan Trenggono gugur dalam penyerangannya ke Blambangan, kemudian jenazahnya dimakankan di belakang masjid Agung Demak.
Sepeninggal Sultan Trenggono, karena merasa tidak dapat menyelasaikan kemelut, kedelapan raja yang berhak memilih pengganti Sultan Trenggono meninggalkan Demak. Akan tetapi tanpa sepengetahuan mereka, pembesar dari Jepara mengangkat Pate Sedayo penguasa Surabaya sebagai pengganti Sultan.
Namun demikian menurut sumber dari Babat tanah Jawi, yang menggantikan Sultan Trenggana adalah Sunan Prawata. Kemudian Sunan Prawata menyuruh membunuh pamannya Pangeran Seda Lepen. Sunan Prawata sendiri merupakan murid Sunan Kudus, bersama saudara sepupunya Arya Penanngsang dan Jaka Tingkir yang merupakan putera dari Adipati Pengging.
Setelah tahu ayahnya dibunuh oleh Sunan Prawata, maka Arya Penangsang  menyuruh hambanya untuk membunuh Sunan Prawata. Sunan Prawata dibunuh bersama istrinya. Adiknya Ratu Kalinyamat tidak terima dan minta keadilan pada sunan Kudus bersama suaminya. Akan tetapi mereka tidak mendapatkan keadilan, bahkan di tengah jalan  dicegat oleh suruhan Arya Penangsang.
Tidak terima akan kematian kakak dan suaminya, Ratu Kalinyamat menyingkir ke Jepara dan melakukan “tapa wuda” yakni  tapa telanjang, tanpa pakaian selembarpun, dan rambutnya di “ure” yakni tidak disanggul, dan bersumpah tidak akan memakai pakaian sebelum melihat Arya Penangsang  terbunuh.
Arya Penangsang yang sakti Mandraguna, dengan kerisnya kyai Setan Kober, terbunuh oleh Sutawijaya putera Ki Ageng Pemanahan. Akhirnya kerajaan dipindahkan ke Pajang. Secara politis Demak runtuh sesudah tahun 1549, tetapi tidak merubah wibawa religius masjid Agung dan Keturunan Sultan.
Pemimpin Pajang adalah Sultan Hadiwijaya, alias Jaka Tingkir atau Mas Karebet, yang merupakan salah satu putera Ki Ageng Pengging, yang ketika jaman kerajaan Demak tidak mau menghadap ke istana Demak, hingga akhirnya dibunuh oleh Sunan Kudus. Namun Jaka Tingkir diterima sebagai abdi dikerajaan ketika Sultan Trenggono memerintah karena kedikdayaannya.
Menurut sumber lain atas restu dari beberapa wali, Jaka Tingkir naik tahta setelah Sultan Trenggono wafat, karena Sunan Prawata tidak pernah menjadi raja sebab ia buta sejak kecil. Selama pemerintahan Hadiwijaya, kesusateraan dan kesenian berkembang pesat, pengaruh agama islam juga semakin luas. Peradapan di daerah Demak dan Jepara semakin Maju. Sultan Hadiwijaya mempertahankan kerajaab dengan sebaik-baiknya  di tanah Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jawa Timur.
Sepeninggal Hadiwijaya kekuasaaan Pajang dipegang oleh Arya Pangiri. Akan tetapi pangeran Benawa tidak terima, sehingga timbul peperangan. Pangeran Banawa dibantu oleh Laskar Mataram dan mendapat kemenangan. Ia dikukuhkan sebagai  penguasa Pajang. Sejak saat itu baik Pajang maupun Demak merupakan daerah bagian dari Mataram.
Adapun peninggalan yang tetap megah dan terkenal sampai sekarang ini adalah Masjid agung Demak, Masjid Moro Demak dan makam Kadilangu.
Dengan mengacu pada rentetan sejarah berdirinya kerajaan Demak, pendirian masjid Agung Demak,  dan beberapa preistiwa kepahlawanan raja-raja Demak, para ahli historis menggunakannya sebagai acuan untuk menentukan kapan  hari jadi kabupaten Demak itu.
Dari fakta-fakta sejarah, tentang perkembangan kekuasaan di Demak itu pula  telah memenuhi 5 kriteria untuk dijadikan alternatif pilihan hari jadi Kabupaten ini, yakni mengandung kriteria historis suatu daerah yang mencerminkan cerita kota, mengandung nilai kebangsaan, memiliki nilai edukatif, secara historis dapat dipertanggungjawabkan, serta dapat diterima oleh masyarakat.
Berdasarkan historis itu, mengacu pada tokoh pendiri kerajaan Demak, yakni raden Patah yang terbukti memiliki jiwa luhur, kepribadian kuat, dan dapat dijadikan suri teladan bagi masyarakat. Maka dari itu dipilihlah waktu penobatan Sultan Demak yang pertama, yaitu Raden Patah tanggal 12 Rabiulawal tahun 1425 S atau tanggal 28 Maret 1503 M, sebagai hari jadi Kabupaten Demak. Dirgahayu Kabupaten Demak yang ke 507, tahun 2010 ini semoga tetap eksis sebagai kota suci dan semakin maju dalam pembangunan. Terimakasih.WAHYUNINGSIH RAHAYU




Tidak ada komentar:

Posting Komentar