Jumat, 28 Juni 2013

PANGERAN KATAK



PANGERAN KATAK 
Diceritakan Kembali oleh: Wahyuningsih Rahayu, S.Pd,M.Pd.
 
Judul Buku                  : Pangeran Katak
Penerbit                       : Gramedia
Tahun Terbit                : 2005
Jumlah Halaman          : 61

Ringkasan Cerita
Kisah Pangeran Katak terjadi di Pulau Bali. Konon masa itu di Tanah Bali dilanda bencana kemarau yang panjang. Hal ini karena raja-raja di sana selalu hidup mewah dan mementingkan diri sendiri. Mereka saling curiga dan congkak. Mereka lupa mengadakan upacara  dan sesaji terhadap Dewata. Maka bencana melanda mereka.
Rangda sang penguasa kejahatan dan kesengaraan hidup manusia, menyaksikan bencana ini sangat sukacita. Tak seorangpun yang mampu melawan Rangda. Masing-masing sibuk memikirkan keselatamannya sendiri. Ada seorang Pengeran yang tampan dan gagah perkasa, berani mengorbankan jiwanya untuk kepentingan negeri. Dia bernama Pangeran Putu Oka. Ia disihir oleh Rangda menjadi katak, Rangda berkata, “Ha ha ha… Katak buruk rupa, kau hanya akan menjadi manuisa lagi, manakala ada seorang yang congkak dan  sombong berubah menjadi baik hati penuh cinta kasih. Carilah ke ujung dunia bila masih ada manusia yang bijaksana, ha..ha…ha!”
Katak itu kini bersembunyi di balik batu. Setiap hari siang dan malam, Pengeran Katak selalu bernyanyi. Suaranya yang serak dan sumbang menggema ke seluruh negeri. Udara menjadi gerah, langit menjadi gelisah, hingga hujanpun kini tercurah. Air hujan menyirami gersangnya tanah.Tanaman di bumi mulai bermekaran, hingga negeri itu terbebas dari bencana kepalaran.
Pengeran Katak merasa bahagia atas pengorbanannya. Dengan melompat-lompat dia berpindah tempat, untuk mengalahkan kutukan Rangda. Ia sampailah pada suatu negeri yang indah permai. Rakyatnya tenteram dan damai. Sang raja yang adil dan bijaksana sangat dicintai rakyatnya di negeri ini. Ia memiliki seorang putri cantik yang sejak lahir telah ditinggalkan  ibunya.
Putri itu bernama Putri Putu Ayu. Ia sejak kecil dimanja, sehingga menjadi putri yang suka membantah dan berwatak congkak. Ia sulit dinasehati. Kecantikannya tidak sebanding dengan hatinya. Sang raja menyesal telah memanjakan Putri dengan berlebihan. Raja hanya berdoa agar putrinya diberikan hati yang baik dan bijaksana, kelak bila menjalani pimpinan di negerinya karena dia adalah putri mahkota, calon pengganti raja.
Suatu hari putri akan berjalan-jalan. Ia meminta selendang kepada dayang. Sudah bermacam-macam selendang diambilkan, namun tak satupun yang disukai Putri. Saat Dayang kebingungan, datanglah pengawal raja yang memberikan bingkisan dari negeri Cina yang harus dikenakan Putri dalam jamuan makan malam. Putri langsung membuka bingkisan itu. Ternyata selendang dari sutera yang bagus. Ia segera mengenakannya dan berjalan-jalan ke sekitar kolam. Angin berhembus dengan kuat, selendang itu terbawa angin. Dayang berusaha mengejar, namun selendang itu sudah masuk ke dalam kolam dan tidak kelihatan.
Putri marah-marah dan menyesal. Ia merasa takut bila selendang itu tidak dikenakan, maka akan terjadi bencana antara dua negera. Ia takut kepada ayanhnya. Ia berdoa, pada Dewata. Tak lama kemudian munculah katak yang membawa selendang itu di mulutnya.  
Si Katak berenang sambil menggigit selendang itu. Putri berkata, “Katak aku berjanji akan memberikan apa saja bila selendang itu kau kembalikan padaku!”.
Katak menyerahkan selendang itu, dan berkata, “Aku hanya ingin menjadi temanmu.”
Namun Putri tidak memenuhi permintaan Katak. Ia berlalu begitu saja, karena jijik melihat katak yang buruk rupa. Katakpun bernyanyi, “Seorang kesatria pantang ingkar terhadap ucapannya”.
Suatu malam ketika perjamuan, Putri Ayu mengenakan selendang sutra sesuai perintah ayahnya. Para utusan Cina merasa puas atas sambutan raja. Putri Ayu bersendagurau dengan ayahnya. Namun tiba-tiba terdengar suara aneh. Sang Raja membuka pintu. Dilihatnya seekor katak. Sang raja dengan ketajaman nalurinya meminta Putri Ayu untuk menepati janjinya. Akhirnya Putri Ayu berteman dengan si Katak. Putri selalu ditemani dan berbagi dengan si Katak.
Putri Ayu marah dan mengusir si Katak ketika dilihatnya Katak berada di tempat tidurnya.  Sang raja merasa aneh, karena Putri tidak lagi bermain dan berteman dengan katak. Akhirnya di seluruh negeri tidak ditemukan seekor katakpun. Musim kemarau melanda negeri ini. Sang Raja jatuh sakit, sudah berobat kemana-mana namun tak kunjung sembuh pula. Putri menjadi gelisah dan cemas melihat ayahnya sakit, lumbung padi juga menipis. Ia bersama para Dayang berkunjung ke sebuah pura tua. Sang Pedanda di pura tua itu terkenal bijaksana. Ketika Putri Ayu memohon wejangan, dia menjawab bahwa sakit Baginda Raja tidak bisa diseembuhkan dan kemarau yang panjang hanya bisa berakhir setelah katak kembali hadir.
Putri Ayu segera memerintahkan mencari katak ke seluruh pelosok negeri. Namun tak seekor katakpun yang dapat ditemukan. Putri Ayu kehabisan akal. Kini ia menyesali dirinya telah mengusir si Katak buruk rupa. Ia berharap pada Dewata agar katak itu kembali.
Suatu malam yang gelap gulita, ketika Putri Ayu dipinggir kolam. Tiba-tiba terdengar nyanyian “Seorang kesatria pantang mengingkari janjinya”. Suara itu  tak asing lagi di telinga Putri. Putri Ayu senang sekali lalu segera minta maaf dan berjanji akan berbuat baik pada katak. Katak memanggil teman-temannya. Beratus-ratus ekor katak datang dari segala penjuru mengelilingi katak buruk. Lalu mereka segera melompat ke seluruh negeri.
Tak lama kemudian hujanpun turun. Tanah kembali subur, bencana segera berakhir. Sang Raya juga sembuh ketika mendengar tetesan air hujan. Putri Ayu kini memegang janji. Ia berkawan baik dengan si Katak. Ia tak lagi mementingkan dirinya sendiri.  Hubungan Sang Putri dengan si Katak juga akrab. Ternyata di balik tubuhnya yang buruk, si Katak memiliki pengetahuan yang luas. Sang Putri heran dan bertanya-tanya, siapakah sebenarnya si Katak itu.
Ketika malam yang pekat, Putri Ayu mengikuti si Katak yang keluar dari istana. Tiba-tiba saja Katak itu tubuhnya bersinar. Asap berkepul udara menyelimuti, dan Katak berubah seketika menjadi seorang Pengeran yang gagah dan tampan. Putri Ayu menyaksikan itu dengan mata terbelalak. Ia terkejut karena kulit katak itu terlempar mengenai kakinya. 
Ketika fajar mulai bersinar, katak yang tak lain adalah Pangeran Putu Oka itu ingin menjelma menjadi katak lagi. Namun ia tidak menemukan kulitnya. Putri Ayu datang dan mengatakan kalau kulitnya telah dibakar. Pangeran itu berterimakasih pada Putri Ayu karena telah membebaskan kutukan Rangda dengan membakar kulitnya. Baginda Raja merasa bahagia memiliki putri mahkota yang kini sangat bijak dan didampingi seorang Pangeran yang tampan dan berbudi, yang selalu siap menemani.  Mereka adalah pasangan paling serasi kala itu di muka bumi!   ….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar