PANGERAN KATAK
Diceritakan Kembali oleh: Wahyuningsih Rahayu, S.Pd,M.Pd.
Judul
Buku : Pangeran Katak
Penerbit
: Gramedia
Tahun
Terbit : 2005
Jumlah
Halaman : 61
Ringkasan Cerita
Kisah Pangeran Katak
terjadi di Pulau Bali. Konon masa itu di Tanah Bali dilanda bencana kemarau
yang panjang. Hal ini karena raja-raja di sana selalu hidup mewah dan
mementingkan diri sendiri. Mereka saling curiga dan congkak. Mereka lupa
mengadakan upacara dan sesaji terhadap
Dewata. Maka bencana melanda mereka.
Rangda sang penguasa
kejahatan dan kesengaraan hidup manusia, menyaksikan bencana ini sangat
sukacita. Tak seorangpun yang mampu melawan Rangda. Masing-masing sibuk
memikirkan keselatamannya sendiri. Ada seorang Pengeran yang tampan dan gagah
perkasa, berani mengorbankan jiwanya untuk kepentingan negeri. Dia bernama
Pangeran Putu Oka. Ia disihir oleh Rangda menjadi katak, Rangda berkata, “Ha ha
ha… Katak buruk rupa, kau hanya akan menjadi manuisa lagi, manakala ada seorang
yang congkak dan sombong berubah menjadi
baik hati penuh cinta kasih. Carilah ke ujung dunia bila masih ada manusia yang
bijaksana, ha..ha…ha!”
Katak itu kini
bersembunyi di balik batu. Setiap hari siang dan malam, Pengeran Katak selalu
bernyanyi. Suaranya yang serak dan sumbang menggema ke seluruh negeri. Udara
menjadi gerah, langit menjadi gelisah, hingga hujanpun kini tercurah. Air hujan
menyirami gersangnya tanah.Tanaman di bumi mulai bermekaran, hingga negeri itu terbebas
dari bencana kepalaran.
Pengeran Katak merasa
bahagia atas pengorbanannya. Dengan melompat-lompat dia berpindah tempat, untuk
mengalahkan kutukan Rangda. Ia sampailah pada suatu negeri yang indah permai.
Rakyatnya tenteram dan damai. Sang raja yang adil dan bijaksana sangat dicintai
rakyatnya di negeri ini. Ia memiliki seorang putri cantik yang sejak lahir
telah ditinggalkan ibunya.
Putri itu bernama Putri
Putu Ayu. Ia sejak kecil dimanja, sehingga menjadi putri yang suka membantah
dan berwatak congkak. Ia sulit dinasehati. Kecantikannya tidak sebanding dengan
hatinya. Sang raja menyesal telah memanjakan Putri dengan berlebihan. Raja hanya
berdoa agar putrinya diberikan hati yang baik dan bijaksana, kelak bila
menjalani pimpinan di negerinya karena dia adalah putri mahkota, calon
pengganti raja.
Suatu hari putri akan
berjalan-jalan. Ia meminta selendang kepada dayang. Sudah bermacam-macam
selendang diambilkan, namun tak satupun yang disukai Putri. Saat Dayang
kebingungan, datanglah pengawal raja yang memberikan bingkisan dari negeri Cina
yang harus dikenakan Putri dalam jamuan makan malam. Putri langsung membuka
bingkisan itu. Ternyata selendang dari sutera yang bagus. Ia segera
mengenakannya dan berjalan-jalan ke sekitar kolam. Angin berhembus dengan kuat,
selendang itu terbawa angin. Dayang berusaha mengejar, namun selendang itu
sudah masuk ke dalam kolam dan tidak kelihatan.
Putri marah-marah dan
menyesal. Ia merasa takut bila selendang itu tidak dikenakan, maka akan terjadi
bencana antara dua negera. Ia takut kepada ayanhnya. Ia berdoa, pada Dewata.
Tak lama kemudian munculah katak yang membawa selendang itu di mulutnya.
Si Katak berenang
sambil menggigit selendang itu. Putri berkata, “Katak aku berjanji akan
memberikan apa saja bila selendang itu kau kembalikan padaku!”.
Katak menyerahkan
selendang itu, dan berkata, “Aku hanya ingin menjadi temanmu.”
Namun Putri tidak
memenuhi permintaan Katak. Ia berlalu begitu saja, karena jijik melihat katak
yang buruk rupa. Katakpun bernyanyi, “Seorang kesatria pantang ingkar terhadap
ucapannya”.
Suatu malam ketika
perjamuan, Putri Ayu mengenakan selendang sutra sesuai perintah ayahnya. Para
utusan Cina merasa puas atas sambutan raja. Putri Ayu bersendagurau dengan
ayahnya. Namun tiba-tiba terdengar suara aneh. Sang Raja membuka pintu.
Dilihatnya seekor katak. Sang raja dengan ketajaman nalurinya meminta Putri Ayu
untuk menepati janjinya. Akhirnya Putri Ayu berteman dengan si Katak. Putri selalu
ditemani dan berbagi dengan si Katak.
Putri Ayu marah dan
mengusir si Katak ketika dilihatnya Katak berada di tempat tidurnya. Sang raja merasa aneh, karena Putri tidak
lagi bermain dan berteman dengan katak. Akhirnya di seluruh negeri tidak
ditemukan seekor katakpun. Musim kemarau melanda negeri ini. Sang Raja jatuh
sakit, sudah berobat kemana-mana namun tak kunjung sembuh pula. Putri menjadi
gelisah dan cemas melihat ayahnya sakit, lumbung padi juga menipis. Ia bersama
para Dayang berkunjung ke sebuah pura tua. Sang Pedanda di pura tua itu
terkenal bijaksana. Ketika Putri Ayu memohon wejangan, dia menjawab bahwa sakit
Baginda Raja tidak bisa diseembuhkan dan kemarau yang panjang hanya bisa
berakhir setelah katak kembali hadir.
Putri Ayu segera
memerintahkan mencari katak ke seluruh pelosok negeri. Namun tak seekor katakpun
yang dapat ditemukan. Putri Ayu kehabisan akal. Kini ia menyesali dirinya telah
mengusir si Katak buruk rupa. Ia berharap pada Dewata agar katak itu kembali.
Suatu malam yang gelap
gulita, ketika Putri Ayu dipinggir kolam. Tiba-tiba terdengar nyanyian “Seorang
kesatria pantang mengingkari janjinya”. Suara itu tak asing lagi di telinga Putri. Putri Ayu
senang sekali lalu segera minta maaf dan berjanji akan berbuat baik pada katak.
Katak memanggil teman-temannya. Beratus-ratus ekor katak datang dari segala
penjuru mengelilingi katak buruk. Lalu mereka segera melompat ke seluruh
negeri.
Tak lama kemudian
hujanpun turun. Tanah kembali subur, bencana segera berakhir. Sang Raya juga
sembuh ketika mendengar tetesan air hujan. Putri Ayu kini memegang janji. Ia
berkawan baik dengan si Katak. Ia tak lagi mementingkan dirinya sendiri. Hubungan Sang Putri dengan si Katak juga
akrab. Ternyata di balik tubuhnya yang buruk, si Katak memiliki pengetahuan
yang luas. Sang Putri heran dan bertanya-tanya, siapakah sebenarnya si Katak
itu.
Ketika malam yang
pekat, Putri Ayu mengikuti si Katak yang keluar dari istana. Tiba-tiba saja
Katak itu tubuhnya bersinar. Asap berkepul udara menyelimuti, dan Katak berubah
seketika menjadi seorang Pengeran yang gagah dan tampan. Putri Ayu menyaksikan
itu dengan mata terbelalak. Ia terkejut karena kulit katak itu terlempar
mengenai kakinya.
Ketika fajar mulai
bersinar, katak yang tak lain adalah Pangeran Putu Oka itu ingin menjelma
menjadi katak lagi. Namun ia tidak menemukan kulitnya. Putri Ayu datang dan
mengatakan kalau kulitnya telah dibakar. Pangeran itu berterimakasih pada Putri
Ayu karena telah membebaskan kutukan Rangda dengan membakar kulitnya. Baginda
Raja merasa bahagia memiliki putri mahkota yang kini sangat bijak dan
didampingi seorang Pangeran yang tampan dan berbudi, yang selalu siap
menemani. Mereka adalah pasangan paling
serasi kala itu di muka bumi! ….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar