Jumat, 28 Juni 2013

PANGERAN KATAK



PANGERAN KATAK 
Diceritakan Kembali oleh: Wahyuningsih Rahayu, S.Pd,M.Pd.
 
Judul Buku                  : Pangeran Katak
Penerbit                       : Gramedia
Tahun Terbit                : 2005
Jumlah Halaman          : 61

Ringkasan Cerita
Kisah Pangeran Katak terjadi di Pulau Bali. Konon masa itu di Tanah Bali dilanda bencana kemarau yang panjang. Hal ini karena raja-raja di sana selalu hidup mewah dan mementingkan diri sendiri. Mereka saling curiga dan congkak. Mereka lupa mengadakan upacara  dan sesaji terhadap Dewata. Maka bencana melanda mereka.
Rangda sang penguasa kejahatan dan kesengaraan hidup manusia, menyaksikan bencana ini sangat sukacita. Tak seorangpun yang mampu melawan Rangda. Masing-masing sibuk memikirkan keselatamannya sendiri. Ada seorang Pengeran yang tampan dan gagah perkasa, berani mengorbankan jiwanya untuk kepentingan negeri. Dia bernama Pangeran Putu Oka. Ia disihir oleh Rangda menjadi katak, Rangda berkata, “Ha ha ha… Katak buruk rupa, kau hanya akan menjadi manuisa lagi, manakala ada seorang yang congkak dan  sombong berubah menjadi baik hati penuh cinta kasih. Carilah ke ujung dunia bila masih ada manusia yang bijaksana, ha..ha…ha!”
Katak itu kini bersembunyi di balik batu. Setiap hari siang dan malam, Pengeran Katak selalu bernyanyi. Suaranya yang serak dan sumbang menggema ke seluruh negeri. Udara menjadi gerah, langit menjadi gelisah, hingga hujanpun kini tercurah. Air hujan menyirami gersangnya tanah.Tanaman di bumi mulai bermekaran, hingga negeri itu terbebas dari bencana kepalaran.
Pengeran Katak merasa bahagia atas pengorbanannya. Dengan melompat-lompat dia berpindah tempat, untuk mengalahkan kutukan Rangda. Ia sampailah pada suatu negeri yang indah permai. Rakyatnya tenteram dan damai. Sang raja yang adil dan bijaksana sangat dicintai rakyatnya di negeri ini. Ia memiliki seorang putri cantik yang sejak lahir telah ditinggalkan  ibunya.
Putri itu bernama Putri Putu Ayu. Ia sejak kecil dimanja, sehingga menjadi putri yang suka membantah dan berwatak congkak. Ia sulit dinasehati. Kecantikannya tidak sebanding dengan hatinya. Sang raja menyesal telah memanjakan Putri dengan berlebihan. Raja hanya berdoa agar putrinya diberikan hati yang baik dan bijaksana, kelak bila menjalani pimpinan di negerinya karena dia adalah putri mahkota, calon pengganti raja.
Suatu hari putri akan berjalan-jalan. Ia meminta selendang kepada dayang. Sudah bermacam-macam selendang diambilkan, namun tak satupun yang disukai Putri. Saat Dayang kebingungan, datanglah pengawal raja yang memberikan bingkisan dari negeri Cina yang harus dikenakan Putri dalam jamuan makan malam. Putri langsung membuka bingkisan itu. Ternyata selendang dari sutera yang bagus. Ia segera mengenakannya dan berjalan-jalan ke sekitar kolam. Angin berhembus dengan kuat, selendang itu terbawa angin. Dayang berusaha mengejar, namun selendang itu sudah masuk ke dalam kolam dan tidak kelihatan.
Putri marah-marah dan menyesal. Ia merasa takut bila selendang itu tidak dikenakan, maka akan terjadi bencana antara dua negera. Ia takut kepada ayanhnya. Ia berdoa, pada Dewata. Tak lama kemudian munculah katak yang membawa selendang itu di mulutnya.  
Si Katak berenang sambil menggigit selendang itu. Putri berkata, “Katak aku berjanji akan memberikan apa saja bila selendang itu kau kembalikan padaku!”.
Katak menyerahkan selendang itu, dan berkata, “Aku hanya ingin menjadi temanmu.”
Namun Putri tidak memenuhi permintaan Katak. Ia berlalu begitu saja, karena jijik melihat katak yang buruk rupa. Katakpun bernyanyi, “Seorang kesatria pantang ingkar terhadap ucapannya”.
Suatu malam ketika perjamuan, Putri Ayu mengenakan selendang sutra sesuai perintah ayahnya. Para utusan Cina merasa puas atas sambutan raja. Putri Ayu bersendagurau dengan ayahnya. Namun tiba-tiba terdengar suara aneh. Sang Raja membuka pintu. Dilihatnya seekor katak. Sang raja dengan ketajaman nalurinya meminta Putri Ayu untuk menepati janjinya. Akhirnya Putri Ayu berteman dengan si Katak. Putri selalu ditemani dan berbagi dengan si Katak.
Putri Ayu marah dan mengusir si Katak ketika dilihatnya Katak berada di tempat tidurnya.  Sang raja merasa aneh, karena Putri tidak lagi bermain dan berteman dengan katak. Akhirnya di seluruh negeri tidak ditemukan seekor katakpun. Musim kemarau melanda negeri ini. Sang Raja jatuh sakit, sudah berobat kemana-mana namun tak kunjung sembuh pula. Putri menjadi gelisah dan cemas melihat ayahnya sakit, lumbung padi juga menipis. Ia bersama para Dayang berkunjung ke sebuah pura tua. Sang Pedanda di pura tua itu terkenal bijaksana. Ketika Putri Ayu memohon wejangan, dia menjawab bahwa sakit Baginda Raja tidak bisa diseembuhkan dan kemarau yang panjang hanya bisa berakhir setelah katak kembali hadir.
Putri Ayu segera memerintahkan mencari katak ke seluruh pelosok negeri. Namun tak seekor katakpun yang dapat ditemukan. Putri Ayu kehabisan akal. Kini ia menyesali dirinya telah mengusir si Katak buruk rupa. Ia berharap pada Dewata agar katak itu kembali.
Suatu malam yang gelap gulita, ketika Putri Ayu dipinggir kolam. Tiba-tiba terdengar nyanyian “Seorang kesatria pantang mengingkari janjinya”. Suara itu  tak asing lagi di telinga Putri. Putri Ayu senang sekali lalu segera minta maaf dan berjanji akan berbuat baik pada katak. Katak memanggil teman-temannya. Beratus-ratus ekor katak datang dari segala penjuru mengelilingi katak buruk. Lalu mereka segera melompat ke seluruh negeri.
Tak lama kemudian hujanpun turun. Tanah kembali subur, bencana segera berakhir. Sang Raya juga sembuh ketika mendengar tetesan air hujan. Putri Ayu kini memegang janji. Ia berkawan baik dengan si Katak. Ia tak lagi mementingkan dirinya sendiri.  Hubungan Sang Putri dengan si Katak juga akrab. Ternyata di balik tubuhnya yang buruk, si Katak memiliki pengetahuan yang luas. Sang Putri heran dan bertanya-tanya, siapakah sebenarnya si Katak itu.
Ketika malam yang pekat, Putri Ayu mengikuti si Katak yang keluar dari istana. Tiba-tiba saja Katak itu tubuhnya bersinar. Asap berkepul udara menyelimuti, dan Katak berubah seketika menjadi seorang Pengeran yang gagah dan tampan. Putri Ayu menyaksikan itu dengan mata terbelalak. Ia terkejut karena kulit katak itu terlempar mengenai kakinya. 
Ketika fajar mulai bersinar, katak yang tak lain adalah Pangeran Putu Oka itu ingin menjelma menjadi katak lagi. Namun ia tidak menemukan kulitnya. Putri Ayu datang dan mengatakan kalau kulitnya telah dibakar. Pangeran itu berterimakasih pada Putri Ayu karena telah membebaskan kutukan Rangda dengan membakar kulitnya. Baginda Raja merasa bahagia memiliki putri mahkota yang kini sangat bijak dan didampingi seorang Pangeran yang tampan dan berbudi, yang selalu siap menemani.  Mereka adalah pasangan paling serasi kala itu di muka bumi!   ….

SELAMAT DATANG PESERTA DIDIK BARU SDN BATURSARI 3

SELAMAT DATANG PESERTA DIDIK BARU SD  NEGERI BATURSARI 3 TAHUN 2013/2014

Pendaftar sebanyak 67 selama satu jam
Jumlah diterima 50 Peserta didik...
Semoga  semakin sukses dan eksis!!!!

Jumat, 21 Juni 2013

Guru profesional



GURU PROFESIONAL  TAK TAKUT PERUBAHAN
Oleh: Wahyuningsih Rahayu

Mengapa harus galau? Guru profesional tak perlu galau dalam menghadapi perubahan. Karena pada hakikatnya “Teacher is agen of change” guru adalah agen perubahan. Perubahan yang selalu inovatif dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan tentunya. 
Penilaian Kinerja Guru
Tahun 2013 bisa dikatakan sebagai tahun galau bagi  sebagian guru. Hal ini karena tahun 2013 dimulai  Permenneg PAN & RB No. 16/2009 tentang penilaian kinerja guru. Secara formatif dan sumatif kinerja guru akan dinilai oleh assessor. Assesor bisa kepala sekolah maupun guru senior yang memiliki sertifikat sebagai assessor.   
Dimulainya penilaian kinerja guru tentunya akan semakin memacu semangat guru Indonesia untuk meningkatkan kinerjanya. Tanpa kinerja yang berkualitas dan meningkatkan pengembangan prosesi guru, maka guru akan terhambat dalam kepangkatannya. Namun, yang lebih utama peningkatan kinerja guru, bukan semata-mata untuk mengejar naik pangkat dan golongan. Peningkatan kinerja guru sebagai kewajiban untuk mendidik anak-anak dengan ikhlas sebagai tenaga profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Kurikulum 2013
Lantas bagaimana dengan perubahan kurikulum 2013, bila jadi ditetapkan Pemerintah? Guru harus siap berubah? Ya…..bila guru era sekarang masih mengidolakan lagu “Aku masih seperti yang dulu”, maka guru tersebut akan mengalami berbagai kendala dalam pembelajaran. Namun bila guru siap dengan perubahan apapun, maka dalam menjalankan tugas akan terasa ringan dan menyenangkan.  Rencana kurikulum yang baru, dengan pendekatan tematik dan integratif di SD kelas I-VI, mata pelajaran bagi SMP, mata pelajaran wajib dan pilihan bagi SMA, mata pelajaran wajib, pilihan, dan vokasi bagi SMK, guru harus mau dan mampu mempelajari serta melaksanakan dengan optimal. Sebagai agen perubahan, guru tidak perlu pesimis. Karena gurulah yang melaksanakan aplikasi kurikulum dalam proses pembelajaran, sehingga guru harus mau belajar dan berlatih lagi. Apalagi pemerintah berencana memfasilitasi pelatihan bagi guru-guru sebelum kurikulum dilaksanakan.
Asal guru mau belajar, mau membaca, semangat mencari informasi baru tentang model-model pembelajaran yang inovatif dan menyenangkan, maka tidak akan ada kata galau dalam menghadapi tahun 2013. Penilaian kinerja guru adalah hal yang wajar, perubahan kurikulum adalah hal yang biasa, bila guru selalu siap berubah. Perubahan yang sifatnya membangun mutu kinerja guru harus dilaksanakan semua guru di seluruh pelosok tanah air ini baik guru baru maupun senior, tersertifikasi maupun belum, guru negeri maupun swasta, serta semua pendidik yang bertanggung jawab secara moral kepada Tuhan yang Maha Esa. Perubahan untuk menerapkan pembelajaran yang lebih menekankan aspek kognitif, afektif, psikomotorik dan berkarakter, merupakan tugas utama guru professional.   Wahyuningsih Rahayu, Guru SDN Batursari 5 Demak

Kamis, 20 Juni 2013

SEJARAH KOTA DEMAK



SEJARAH DAN HARI JADI KABUPATEN DEMAK

WAHYUNINGSIH RAHAYU, S.Pd,M.Pd

Kota Demak  merupakan salah satu kota yang cukup mengukir sejarah di negara kita, kaitannya dengan penyebaran agama Islam di pulau Jawa. Demak merupakan kerajaan Islam yang pertama di pulau Jawa, karena pada masa pemerintahan kerajaan Demak, agama Islam berkembang pesat. Agama Islam yang pada mulanya disebarkan oleh para pedagang dari Pasai dan Malaka, ataupun dari negara lainnnya dapat diterima dan berkembang menjadi desa baru, dan pada akhirnya menjadi suatu daerah Demak yang cukup tenar sampai sekarang ini.
Kata Demak sendiri berasal dari berbagai kata yang mengandung arti dan makna yang berbeda. Menurut Poernatjaraka, kata Demak berasal dari bahasa Jawa “Delamak” yang berarti tempat berlumpur. Sedangkan menurut basa kawi, kata Demak berasal mengandung arti daerah yang dihadiahkan. Ada pula ahli yang menafsirkan kata Demak dilihat dari bahasa Arab, “Dama” yang berarti air mata. Semua  tafsir tentang nama Demak, disesuaikan dengan segi sejarah maupun daerahnya. Nama Demak sering  disebut secara lengkap dengan Demak Bintara, yang berarti Rawa Bintara.
Sebagai daerah pesisisr yang termasyur dengan pusat penyebaran agama Islam di pulau Jawa, terdapat bangunan yang megah dan agung, yakni masjid agung Demak. Pernahkah saudara sekalian berziarah ke sana? Bila kalian ke sana akan melihat betapa agungnya peninggalan jaman dulu yang masih dapat dimanfaatkan untuk tempat ibadah sampai sekarang ini.
Berdasarkan sumber  tradisi, masjid agung didirikan sekitar tahun 1475 M, oleh Raden Patah. Akan tetapi berbagai pendapat ada yang mengatakan bahwa masjid agung Demak dibangun tahun 1466 M, dan diresmikan pemugarannya tahun 1506 M. Sedangkan menurut cerita tradisi, masjid Demak didirikan oleh para Wali dalam satu malam. Menurut H.J. Graaf, masjid Demak dibangun dengan penuh kemujizatan, dalam hal ini Sunan Kalijaga memegang peranan penting. Masjid Demak terdapat empat tiang atau empat saka guru, yang dibuat oleh empat wali. Salah satunya dibuat oleh Sunan Kalijaga dari potongan kayu (basa Jawa tatal) sehingga dikenal dengan “saka tatal” yang terletak di sebelah timur laut. Tiang disebelah barat laut dibuat oleh Sunan   Bonang, tiang disebelah tenggara dibuat oleh Sunan Ngampel, dan tiang di bagian barat daya dibuat oleh Sunan Gunung Jati.
Bangunan masjid Demak, memiliki atap tumpang berjumlah tiga susun. Masjid yang asli berukuran 31 x 31 m, empat buah saka guru yanng masing-masing tingginya 19,5m, dan diameternya 11,45m. serambi masjid berukuran 31 x 20m  merupakan bangunan tambahan. Sekarang ini masjid Demak telah mengalami beberapa kali pemugaran, akan tetapi arsetekturnya tetap dipertahankan seperti aslinya yakni beratap tumpang, yang tetap mencerminkan cirikhas masjid-masjid kuno bangsa Indonesia.
Selain mengetahui tentang masjid agung Demak, kita juga harus mengetahui sejarah tentang berdirinya kota Wali ini. Menurut para ahli, pendiri kerajaan Demak adalah Raden Patah. Prof. DR. Slamet Mulyono, Raden Patah merupakan putra raja Kertabumi, dari Majapahit dengan istrinya Putri Cina atau Putri Campa. Beliau bernama pangeran Djin Bun, atau raden Hasan  yang lahir pada tahun 1455M. Putri Campa juga memiliki putera dari Arya Damar yang bernama Raden Timbal atau Raden Husen. Kedua pemuda ini, saling bekerja sama menyebarkan agama Islam di pulau Jawa.
Setelah Dewasa Raden, Patah dinikahkan dengan puteri gurunya Sunan Ngampel  yang bernama Nyai Ageng Maleka. Kemudian atas petunjuk Sunan Ngampel, mereka menetap di desa Glagahwangi, Bintara. Desa ini terkenal subur, dan makmur serta dijuluki desa Islam. Karena merasa kuatir akan ancaman desa ini, Raden Brawijaya mengutus Raden Timbal yang tidak lain adalah saudara kandung Raden Patah. Akhirnya Raden Timbal tidak pernah kembali ke Majapahit, dan membantu kakaknya mengembangkan  wilayah dan menyebarkan agama Islam di sana.
Raden Patah kemudian diangkat menjadi Adipati, dengan gelar Adipati Natapraja, sedangkan Raden Timbal ditempatkan sebagai penguasa di Terung dengan gelar Adipati Pecatanda. Setelah Majapahit runtuh, atas restu para Wali, Sunan Ngampel menobatkan adipati Natapraja menjadi raja dengan gelar Sutan Bintara. Pelantikan Raden Patah menjadi raja bertepatan dengan tanggal 12 Rabiulawal 1425 S/ 28 Maret 1503 M. Hal ini dikuatkan dengan Dhandanggula, Serat ke 67 dari Babat Loana, yang ditulis oleh RM. Ng. Ronggo Handoko, yang antara lain berbunyi:
Ilir-ilir aregang arangin
Asung sasmita adeging praja
Bintarum Demak kondange
Anyarengi grebeg Mulut
……………………
Maksud dari petikan serat itu adalah: bahwa penobatan raja Demak bersamaa dengan Grebek Mulut, yaitu kegiatan untuk menyambut maulud Nabi Muahammad SAW. Dalam kegiatan grebek mulut ini umumnya diadakan acara membaca syahadat tain, yang kemudian oleh Sunan Kalijaga disebut dengan Sekaten. Upacara sekaten ini sampai sekarang masih kita jumpai di bekas kerajaan Islam, seperti di keraton Surakarta. Sedangkan di Demak, kegiatan yang sampai sekarang masih turun temurun adalah “Grebeg Besar”, yaitu kegiatan yang diadakan untuk menyambut datangnya Idul Adha.
Setelah Raden Patah wafat, digantikan oleh puteranya yang bernama Pangeran Sabrang Lor, atau Pati Unus. Pati Unus berusaha melebarkan wilayahnya ke daerah lain, tetapi masih gagal, dan kemudian Beliau wafat dalam usianya yang masih cukup muda, tanpa meninggalkan putera.
Setelah itu Pangeran Trenggono naik tahta menggantikan kakaknya. Pada masa kekuasaan Dia kerajaan Demak mencapai jaman keemasan. Wilayahnya semakin luas, meliputi seluruh Jawa, Kalimantan Selatan, dan Selat Malaka. Pengaruh Islam semakin meluas ke daerah-daerah lain. Sultan Trenggono gugur dalam penyerangannya ke Blambangan, kemudian jenazahnya dimakankan di belakang masjid Agung Demak.
Sepeninggal Sultan Trenggono, karena merasa tidak dapat menyelasaikan kemelut, kedelapan raja yang berhak memilih pengganti Sultan Trenggono meninggalkan Demak. Akan tetapi tanpa sepengetahuan mereka, pembesar dari Jepara mengangkat Pate Sedayo penguasa Surabaya sebagai pengganti Sultan.
Namun demikian menurut sumber dari Babat tanah Jawi, yang menggantikan Sultan Trenggana adalah Sunan Prawata. Kemudian Sunan Prawata menyuruh membunuh pamannya Pangeran Seda Lepen. Sunan Prawata sendiri merupakan murid Sunan Kudus, bersama saudara sepupunya Arya Penanngsang dan Jaka Tingkir yang merupakan putera dari Adipati Pengging.
Setelah tahu ayahnya dibunuh oleh Sunan Prawata, maka Arya Penangsang  menyuruh hambanya untuk membunuh Sunan Prawata. Sunan Prawata dibunuh bersama istrinya. Adiknya Ratu Kalinyamat tidak terima dan minta keadilan pada sunan Kudus bersama suaminya. Akan tetapi mereka tidak mendapatkan keadilan, bahkan di tengah jalan  dicegat oleh suruhan Arya Penangsang.
Tidak terima akan kematian kakak dan suaminya, Ratu Kalinyamat menyingkir ke Jepara dan melakukan “tapa wuda” yakni  tapa telanjang, tanpa pakaian selembarpun, dan rambutnya di “ure” yakni tidak disanggul, dan bersumpah tidak akan memakai pakaian sebelum melihat Arya Penangsang  terbunuh.
Arya Penangsang yang sakti Mandraguna, dengan kerisnya kyai Setan Kober, terbunuh oleh Sutawijaya putera Ki Ageng Pemanahan. Akhirnya kerajaan dipindahkan ke Pajang. Secara politis Demak runtuh sesudah tahun 1549, tetapi tidak merubah wibawa religius masjid Agung dan Keturunan Sultan.
Pemimpin Pajang adalah Sultan Hadiwijaya, alias Jaka Tingkir atau Mas Karebet, yang merupakan salah satu putera Ki Ageng Pengging, yang ketika jaman kerajaan Demak tidak mau menghadap ke istana Demak, hingga akhirnya dibunuh oleh Sunan Kudus. Namun Jaka Tingkir diterima sebagai abdi dikerajaan ketika Sultan Trenggono memerintah karena kedikdayaannya.
Menurut sumber lain atas restu dari beberapa wali, Jaka Tingkir naik tahta setelah Sultan Trenggono wafat, karena Sunan Prawata tidak pernah menjadi raja sebab ia buta sejak kecil. Selama pemerintahan Hadiwijaya, kesusateraan dan kesenian berkembang pesat, pengaruh agama islam juga semakin luas. Peradapan di daerah Demak dan Jepara semakin Maju. Sultan Hadiwijaya mempertahankan kerajaab dengan sebaik-baiknya  di tanah Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jawa Timur.
Sepeninggal Hadiwijaya kekuasaaan Pajang dipegang oleh Arya Pangiri. Akan tetapi pangeran Benawa tidak terima, sehingga timbul peperangan. Pangeran Banawa dibantu oleh Laskar Mataram dan mendapat kemenangan. Ia dikukuhkan sebagai  penguasa Pajang. Sejak saat itu baik Pajang maupun Demak merupakan daerah bagian dari Mataram.
Adapun peninggalan yang tetap megah dan terkenal sampai sekarang ini adalah Masjid agung Demak, Masjid Moro Demak dan makam Kadilangu.
Dengan mengacu pada rentetan sejarah berdirinya kerajaan Demak, pendirian masjid Agung Demak,  dan beberapa preistiwa kepahlawanan raja-raja Demak, para ahli historis menggunakannya sebagai acuan untuk menentukan kapan  hari jadi kabupaten Demak itu.
Dari fakta-fakta sejarah, tentang perkembangan kekuasaan di Demak itu pula  telah memenuhi 5 kriteria untuk dijadikan alternatif pilihan hari jadi Kabupaten ini, yakni mengandung kriteria historis suatu daerah yang mencerminkan cerita kota, mengandung nilai kebangsaan, memiliki nilai edukatif, secara historis dapat dipertanggungjawabkan, serta dapat diterima oleh masyarakat.
Berdasarkan historis itu, mengacu pada tokoh pendiri kerajaan Demak, yakni raden Patah yang terbukti memiliki jiwa luhur, kepribadian kuat, dan dapat dijadikan suri teladan bagi masyarakat. Maka dari itu dipilihlah waktu penobatan Sultan Demak yang pertama, yaitu Raden Patah tanggal 12 Rabiulawal tahun 1425 S atau tanggal 28 Maret 1503 M, sebagai hari jadi Kabupaten Demak. Dirgahayu Kabupaten Demak yang ke 507, tahun 2010 ini semoga tetap eksis sebagai kota suci dan semakin maju dalam pembangunan. Terimakasih.WAHYUNINGSIH RAHAYU




Informasi Untuk Siswa SDN Batursari 3

Pengumuman untuk Siswa kelas I-V
1. Pengambilan buku laporan pendidikan tahun pelajaran 2012/2013, Jum'at, 21 Juni 2013
2. Buku Laporan pendidikan yang mengambil orang tua/wali murid
3. Libur kenaikan kelas tanggl 24-13 Juli 2013, Masuk tanggal 15  Juli 2013
4. Pendaftaran Peserta Didik baru Senin, 24  Juni  2013
5. Selama liburan ada petugas piket sesuai dengan jadwal 

Terimakasih atas perhatiannya

Wahyuningsih Rahayu
 

Rabu, 19 Juni 2013

PERPISAHAN SD NEGERI BATURSARI 3

Rabu, 18 Juni 2013  anak-anak kelas VI SD  Negeri Batursari 3 asyik menyelenggarakan perpisahan. Mereka menghimpun dana sendiri, menyiapkan acara sendiri,  dan guru hanya mengarahkan saja.  Acara perpisahan berjalan dengan lancar dan cukup meriah. Semoga cita-cita dan harapan  anak-anak tercapai,  sukses  anak-anakku, doa kami menyertai langkah kalian!!!!!

Selasa, 18 Juni 2013

MODEL PEMBELAJARAN



PERLU GURU MODEL DALAM
 PENDEKATAN TEMATIK INTEGRATIF

Oleh: Wahyuningsih Rahayu, S.Pd,M.Pd
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dilaksanakan di Sekolah Dasar (SD) menggunakan pendekatan mata pelajaran (kontekstual) untuk kelas empat sampai enam dan pendekatan tematik untuk kelas satu sampai kelas tiga. Kegiatan  pembelajara dengan pendekatan mata pelajara  memang tidak problem bagi guru-guru SD. Namun demikian, bagaimanakah dengan pendekatan tematik?
Apakah semua guru kelas satu sampai kelas tiga di Jawa Tengah khususnya sudah melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan tematik? Jawabnya tidaklah segampang membalikkan telapak tangan. Disinyalir masih ada guru yang belum melaksanakan pembelajaran di kelas satu sampai kelas tiga dengan pendekatan tematik secara sempurna. Mereka masih kadang-kadang melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan mata pelajaran dan kadang-kadang tematik. Sebagian besar guru memang memiliki Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang tematik, silabus tematik, namun praktik pembelajarannya masih menggunakan pendekatan mata pelajaran. Mengapa?
Banyak hal yang menyebabkan guru kelas satu sampai kelas tiga belum menerapkan pembelajaran dengan pendekatan tematik. Hal ini karena masih banyak guru yang belum memahami apa dan bagaimana pendekatan tematik itu. Prof.Dr. Rustono, M.Hum, guru besar fakultas Bahasa  dan Sastra Unnes, memaparkan bahwa salah satu penyebab kurang dilaksanakannya pembelajaran dengan pendekatan tematik di kelas satu sampai kelas tiga adalah kurangnya perbendaharaan guru SD tentang model-model pembelajaran. Guru masih banyak yang belum terbiasa membaca informasi baru tentang model-model pembelajaran yang dapat diaplikasikan  dalam pembelajaran dengan pendekatan tematik.  Keadaan ini menyebabkan ketika melakukan pembelajaran dengan pendekatan tematik, terasa dipaksakan. Tema yang diintegrasikan pada mata pelajaran dipaksakan untuk bisa dilaksanakan dalam beberapa kompetensi dasar dari masing-masing mata pelajaran. Terkesan guru mengajar dengan pendekatan tematik sekadar mengikuti mematuhi aturan saja, sebisa guru itu sendiri, yang penting judulnya pembelajaran tematik. Bahkan, tidak sedikit guru yang tidak mengetahui  apa itu jaring-jaring tema, sehingga mereka kurang bisa mengaitkan jarring-jaring materi yang disesuaikan dengan kompetensi dasar yang diharapkan. Mereka hanya sekadar copy paste RPP yang telah  disusun tematik yang dibuat orang lain, dibuat bersama-sama  dalam satu gugus atau satu kecamatan,  atau bahkan sekadar membeli dari penerbit tertentu. Akan tetapi, mereka  kesulitan mempraktikkan secara nyata  dalam pembelajaran di kelas. Padahal apabila pembelajaran dilaksanakan secara tematik dengan baik, akan menyenangkan, memberikan pengalaman baru yang lebih menarik  dan bermakna bagi peserta didik. Peserta didik akan mendapatkan pengalaman baru dari segi kognitif, afektik, maupun psikomotorik, bukan sekadar dijejali dengan materi yang cukup luas dan membosankan dari LKS yang digunakan guru.   
Rencana pemerintah, kurikulum 2013 akan menggunakan pendekatan tematik  integratif dalam pembelajaran mulai kelas satu sampai kelas enam SD. Pendekatan ini  dipilih  dengan harapan pembelajaran di SD dilakukan dengan  aktif, efektif, kreatif, inovatif, dan menyenangkan dengan  satu tema  dapat diaplikasikan dalam  beberapa mata pelajaran. Pembelajaran di SD diharapkan mampu menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter yang diharapkan pemerintah. Nilai-nilai pendidikan karakter yang ditanamkan di sekolah dasar mencakup aspek-aspek sebagai berikut: (1) religius, (2) jujur, (3) toleransi, (4) disiplin, (5) kerja keras, (6) kreatif, (7) mandiri, (8) demokratis, (9) rasa ingin tahu, (10) semangat kebangsaan, (11) cinta tanah air, (12) menghargai prestasi, (13) bersahabat atau komunikatif, (14) cinta damai, (15) gemar menyimak, (16) peduli lingkungan, (17) peduli sosial, dan (18) tanggung jawab.  Sikap yang baik  dari peserta  didik di  SD diharapkan tertanam  melalui pembelajaran yang dilaksanakan dengan pendekatan tematik integratif. Siapkah guru melaksanakan pembelajaran tersebut? Tentu jawabnya, “harus siap”.
Sejauh mana persiapan guru  SD  dalam menghadapi kurikulum  2013? Ada  yang  menanggapi dengan optimis dan ada yang pesimis. Untuk itu, Guru SD sekarang harus meningkatkan  kompetensinya agar mampu melaksanakan pembelajaran yang inovatif.  Kompetensi yang perlu ditingkatkan kaitannya dengan pembelajaran dengan pendekatan terintegratif ini khususnya kompetensi paedagogik. Kompetensi paedagogik merupakan kompetensi yang berkaitan dengan kesungguhan guru dalam mempersiapkan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, mengelola kelas, memanfaatkan metode dan media yang bervariasi, memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran, melakukan penilaian serta kemampuan membimbing peserta didik. Untuk dapat  meningkatkan kompetensi  tersebut,  guru harus mau membaca, membuka wawasan dari berbagai sumber,  mau belajar lagi, dan mengikuti perkembangan jaman. Guru yang malas akan tertinggal dan mengalami kendala dalam pembelajaran dengan pendekatan tematik integratif dengan baik sesuai tuntutan kurikulum.
Untuk dapat memenuhi tuntutan pembelajaran dengan pendekatan tematik integratif  di SD guru  perlu  model pembelajaran yang praktis yang  dapat mengaplikasikan  pembelajaran tersebut dengan mudah. Model pembelajaran menurut Joyce adalah rancangan pembelajaran yang membantu siswa memperoleh informasi, gagasan, skill, nilai, cara berpikir, dan tujuan mengkespresikan diri mereka sendiri, serta mengajari mereka untuk belajar. Model pembelajaran dapat dimanfaatkan guru sebagai pedoman untuk menyusun RPP. Peran guru dalam pembelajaran adalah mencetak para pembelajar yang handal (powerful learners).  Guru yang handal akan membawa peserta didik  sukses sejak proses dan hasil belajarnya.
Untuk dapat  mengaplikasikan model-model pembelajaran di kelas memang tidaklah mudah. Tidak semua guru dapat memahami berbagai teori  tentang model-model pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan contoh praktis terhadap aplikasi  model pembelajaran dengan pendekatan tematik integratif. Salah  satu cara yang dapat ditempuh adalah memanfaatkan guru model. 
Guru model dibutuhkan  era  sekarang ini sangat dibutuhkan dalam melaksanakan tuntutan kurikulum.  Guru model  yang mempraktikkan pembelajaran tematik integratif  dengan  benar, akan  sangat memberikan manfaat bagi guru lain ketimbang teori yang muluk-muluk yang sukar dipahami. Hal ini karena guru model akan memberikan teladan dalam melaksanakan tahapan-tahapan pembelajaran yang diharapkan dalam kurikulum yang berlaku mulai pereancanaan pembelajaran hingga penilaian dan tindak lanjut. Guru model  tidak sekadar memberikan teori  tetapi  juga praktik yang nyata untuk melakukan pembelajaran tematik integratif pada tema tertentu dan kelas tertentu pula.  
Guru model adalah guru yang berpengalaman dan  berwawasan luas dalam melaksanakan pembelajaran inovatif, khususnya dengan pendekatan tematik integratif. Model pembelajaran yang dipilih dalam pembelajaran ini yang praktis, mudah dilaksanakan di semua  wilayah sekolah, menyenangkan, dan bermanfaat. Dalam pelaksanaannya, guru model mempraktikkan pembelajaran sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah disusun secara tematik integrative atau memanfaatkan rekaman yang ditayangkan dengan LCD atau televisi. Tahapan pembelajaran dilakukan mulai dari  awal pembelajaran, tahapan  eksplorasi, elaborasi, konfirmasi, dan tahap penutup dalam pembelajaran. Guru model juga melakukan bagaimana  teknik penilaian yang  benar dalam tema tertentu dalam pembelajaran dengan pendekatan tematik integratif dari beberapa mata pelajaran.
Langkah pemanfaatann guru model ini dapat dilakukan di satu sekolah, beberapa kelompok sekolah (gugus), kelompok kerja guru, dan lain-lain. Kegiatan guru model dapat dilakukan  saat itu juga maupun menayangkan kegiatan pembelajaran di kelas yang telah direkam oleh guru model. Ketika guru model mempraktikkan pembelajaran, guru lainnya mengamati, mencacat tahapan kegiatan, kemudian memberikan umpan balik kelebihan maupun kekurangannya yang telah dilakukan oleh guru model. Dengan langkah ini, maka  guru akan mendapatkan pengetahuan yang nyata dan praktis  dalam penerapan pembelajaran dengan pendekatan tematik integratif  dengan tahapan yang  benar, sehingga guru SD tidak galau lagi  dalam menghadapi kurikulum baru.
Berbagai langkah baru memang harus dilaksanakan untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan  di negeri ini.  Guru adalah agen  perubahan  yang inovatif dalam menyelenggarakan pendidikan di kelas.  Tanpa guru yang kreatif dan inovatif, sebagus  apapun kurikulum disusun tiada hasil yang berarti. Oleh karena itu,  guru haruslah mau  dan mampu  menyelenggarakan pembelajaran yang senantiasa  dibutuhkan  peserta didik dengan aktif,  efektif, kreatif, inovatif, dan menyenangkan. Hanya guru yang  siap  dengan perubahan yang akan sukses  melakukan perubahan tersebut. Guru yang sukses  melakukan perubahan adalah guru yang mampu  menanamkan sikap  peserta didik  yang berkarakter, berwawasan s, dan berakhlak mulia.
Penulis: Wahyuningsih Rahayu, S.Pd, M.Pd. SDN Batursari 3 Mranggen Demak