PERSONAL KEPEGAWAIAN SD NEGERI BATURSARI 3 TAHUN PELAJARAN 2013/2014
1. Kepala Sekolah : Wahyuningsih Rahayu, S.Pd,M.Pd.
2. Guru Kelas I : Yohana Intarti, S.Pd.SD
3. Guru Kelas II : Suyatmi, S.Pd.SD
4. Guru Kelas III : Haryati,S.Pd.SD
5. Guru Kelas IV : Sarjana, S.Pd.SD
6. Guru Kelas V : Sukarman, S.Pd.
7. Guru Kelas VI : Bambang Irianto, S.Pd.SD
8. Guru PAI : Siti Aminah
9. Guru Penjaskes : Dedy dan Tiangga Digda
10. Penjaga : Sukamdi
Jumlah peserta didik tahun pelajaran 2013/2014 sebanyak 276.
Rabu, 02 Oktober 2013
Jumat, 28 Juni 2013
PANGERAN KATAK
PANGERAN KATAK
Diceritakan Kembali oleh: Wahyuningsih Rahayu, S.Pd,M.Pd.
Judul
Buku : Pangeran Katak
Penerbit
: Gramedia
Tahun
Terbit : 2005
Jumlah
Halaman : 61
Ringkasan Cerita
Kisah Pangeran Katak
terjadi di Pulau Bali. Konon masa itu di Tanah Bali dilanda bencana kemarau
yang panjang. Hal ini karena raja-raja di sana selalu hidup mewah dan
mementingkan diri sendiri. Mereka saling curiga dan congkak. Mereka lupa
mengadakan upacara dan sesaji terhadap
Dewata. Maka bencana melanda mereka.
Rangda sang penguasa
kejahatan dan kesengaraan hidup manusia, menyaksikan bencana ini sangat
sukacita. Tak seorangpun yang mampu melawan Rangda. Masing-masing sibuk
memikirkan keselatamannya sendiri. Ada seorang Pengeran yang tampan dan gagah
perkasa, berani mengorbankan jiwanya untuk kepentingan negeri. Dia bernama
Pangeran Putu Oka. Ia disihir oleh Rangda menjadi katak, Rangda berkata, “Ha ha
ha… Katak buruk rupa, kau hanya akan menjadi manuisa lagi, manakala ada seorang
yang congkak dan sombong berubah menjadi
baik hati penuh cinta kasih. Carilah ke ujung dunia bila masih ada manusia yang
bijaksana, ha..ha…ha!”
Katak itu kini
bersembunyi di balik batu. Setiap hari siang dan malam, Pengeran Katak selalu
bernyanyi. Suaranya yang serak dan sumbang menggema ke seluruh negeri. Udara
menjadi gerah, langit menjadi gelisah, hingga hujanpun kini tercurah. Air hujan
menyirami gersangnya tanah.Tanaman di bumi mulai bermekaran, hingga negeri itu terbebas
dari bencana kepalaran.
Pengeran Katak merasa
bahagia atas pengorbanannya. Dengan melompat-lompat dia berpindah tempat, untuk
mengalahkan kutukan Rangda. Ia sampailah pada suatu negeri yang indah permai.
Rakyatnya tenteram dan damai. Sang raja yang adil dan bijaksana sangat dicintai
rakyatnya di negeri ini. Ia memiliki seorang putri cantik yang sejak lahir
telah ditinggalkan ibunya.
Putri itu bernama Putri
Putu Ayu. Ia sejak kecil dimanja, sehingga menjadi putri yang suka membantah
dan berwatak congkak. Ia sulit dinasehati. Kecantikannya tidak sebanding dengan
hatinya. Sang raja menyesal telah memanjakan Putri dengan berlebihan. Raja hanya
berdoa agar putrinya diberikan hati yang baik dan bijaksana, kelak bila
menjalani pimpinan di negerinya karena dia adalah putri mahkota, calon
pengganti raja.
Suatu hari putri akan
berjalan-jalan. Ia meminta selendang kepada dayang. Sudah bermacam-macam
selendang diambilkan, namun tak satupun yang disukai Putri. Saat Dayang
kebingungan, datanglah pengawal raja yang memberikan bingkisan dari negeri Cina
yang harus dikenakan Putri dalam jamuan makan malam. Putri langsung membuka
bingkisan itu. Ternyata selendang dari sutera yang bagus. Ia segera
mengenakannya dan berjalan-jalan ke sekitar kolam. Angin berhembus dengan kuat,
selendang itu terbawa angin. Dayang berusaha mengejar, namun selendang itu
sudah masuk ke dalam kolam dan tidak kelihatan.
Putri marah-marah dan
menyesal. Ia merasa takut bila selendang itu tidak dikenakan, maka akan terjadi
bencana antara dua negera. Ia takut kepada ayanhnya. Ia berdoa, pada Dewata.
Tak lama kemudian munculah katak yang membawa selendang itu di mulutnya.
Si Katak berenang
sambil menggigit selendang itu. Putri berkata, “Katak aku berjanji akan
memberikan apa saja bila selendang itu kau kembalikan padaku!”.
Katak menyerahkan
selendang itu, dan berkata, “Aku hanya ingin menjadi temanmu.”
Namun Putri tidak
memenuhi permintaan Katak. Ia berlalu begitu saja, karena jijik melihat katak
yang buruk rupa. Katakpun bernyanyi, “Seorang kesatria pantang ingkar terhadap
ucapannya”.
Suatu malam ketika
perjamuan, Putri Ayu mengenakan selendang sutra sesuai perintah ayahnya. Para
utusan Cina merasa puas atas sambutan raja. Putri Ayu bersendagurau dengan
ayahnya. Namun tiba-tiba terdengar suara aneh. Sang Raja membuka pintu.
Dilihatnya seekor katak. Sang raja dengan ketajaman nalurinya meminta Putri Ayu
untuk menepati janjinya. Akhirnya Putri Ayu berteman dengan si Katak. Putri selalu
ditemani dan berbagi dengan si Katak.
Putri Ayu marah dan
mengusir si Katak ketika dilihatnya Katak berada di tempat tidurnya. Sang raja merasa aneh, karena Putri tidak
lagi bermain dan berteman dengan katak. Akhirnya di seluruh negeri tidak
ditemukan seekor katakpun. Musim kemarau melanda negeri ini. Sang Raja jatuh
sakit, sudah berobat kemana-mana namun tak kunjung sembuh pula. Putri menjadi
gelisah dan cemas melihat ayahnya sakit, lumbung padi juga menipis. Ia bersama
para Dayang berkunjung ke sebuah pura tua. Sang Pedanda di pura tua itu
terkenal bijaksana. Ketika Putri Ayu memohon wejangan, dia menjawab bahwa sakit
Baginda Raja tidak bisa diseembuhkan dan kemarau yang panjang hanya bisa
berakhir setelah katak kembali hadir.
Putri Ayu segera
memerintahkan mencari katak ke seluruh pelosok negeri. Namun tak seekor katakpun
yang dapat ditemukan. Putri Ayu kehabisan akal. Kini ia menyesali dirinya telah
mengusir si Katak buruk rupa. Ia berharap pada Dewata agar katak itu kembali.
Suatu malam yang gelap
gulita, ketika Putri Ayu dipinggir kolam. Tiba-tiba terdengar nyanyian “Seorang
kesatria pantang mengingkari janjinya”. Suara itu tak asing lagi di telinga Putri. Putri Ayu
senang sekali lalu segera minta maaf dan berjanji akan berbuat baik pada katak.
Katak memanggil teman-temannya. Beratus-ratus ekor katak datang dari segala
penjuru mengelilingi katak buruk. Lalu mereka segera melompat ke seluruh
negeri.
Tak lama kemudian
hujanpun turun. Tanah kembali subur, bencana segera berakhir. Sang Raya juga
sembuh ketika mendengar tetesan air hujan. Putri Ayu kini memegang janji. Ia
berkawan baik dengan si Katak. Ia tak lagi mementingkan dirinya sendiri. Hubungan Sang Putri dengan si Katak juga
akrab. Ternyata di balik tubuhnya yang buruk, si Katak memiliki pengetahuan
yang luas. Sang Putri heran dan bertanya-tanya, siapakah sebenarnya si Katak
itu.
Ketika malam yang
pekat, Putri Ayu mengikuti si Katak yang keluar dari istana. Tiba-tiba saja
Katak itu tubuhnya bersinar. Asap berkepul udara menyelimuti, dan Katak berubah
seketika menjadi seorang Pengeran yang gagah dan tampan. Putri Ayu menyaksikan
itu dengan mata terbelalak. Ia terkejut karena kulit katak itu terlempar
mengenai kakinya.
Ketika fajar mulai
bersinar, katak yang tak lain adalah Pangeran Putu Oka itu ingin menjelma
menjadi katak lagi. Namun ia tidak menemukan kulitnya. Putri Ayu datang dan
mengatakan kalau kulitnya telah dibakar. Pangeran itu berterimakasih pada Putri
Ayu karena telah membebaskan kutukan Rangda dengan membakar kulitnya. Baginda
Raja merasa bahagia memiliki putri mahkota yang kini sangat bijak dan
didampingi seorang Pangeran yang tampan dan berbudi, yang selalu siap
menemani. Mereka adalah pasangan paling
serasi kala itu di muka bumi! ….
SELAMAT DATANG PESERTA DIDIK BARU SDN BATURSARI 3
SELAMAT DATANG PESERTA DIDIK BARU SD NEGERI BATURSARI 3 TAHUN 2013/2014
Pendaftar sebanyak 67 selama satu jam
Jumlah diterima 50 Peserta didik...
Semoga semakin sukses dan eksis!!!!
Pendaftar sebanyak 67 selama satu jam
Jumlah diterima 50 Peserta didik...
Semoga semakin sukses dan eksis!!!!
Jumat, 21 Juni 2013
Guru profesional
GURU PROFESIONAL TAK TAKUT PERUBAHAN
Oleh:
Wahyuningsih Rahayu
Mengapa
harus galau? Guru profesional tak perlu galau dalam menghadapi perubahan.
Karena pada hakikatnya “Teacher is agen of change” guru adalah agen perubahan.
Perubahan yang selalu inovatif dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan tentunya.
Penilaian
Kinerja Guru
Tahun
2013 bisa dikatakan sebagai tahun galau bagi
sebagian guru. Hal ini karena tahun 2013 dimulai Permenneg PAN & RB No. 16/2009 tentang
penilaian kinerja guru. Secara formatif dan sumatif kinerja guru akan dinilai
oleh assessor. Assesor bisa kepala sekolah maupun guru senior yang memiliki
sertifikat sebagai assessor.
Dimulainya penilaian
kinerja guru tentunya akan semakin memacu semangat guru Indonesia untuk
meningkatkan kinerjanya. Tanpa kinerja yang berkualitas dan meningkatkan
pengembangan prosesi guru, maka guru akan terhambat dalam kepangkatannya.
Namun, yang lebih utama peningkatan kinerja guru, bukan semata-mata untuk
mengejar naik pangkat dan golongan. Peningkatan kinerja guru sebagai kewajiban
untuk mendidik anak-anak dengan ikhlas sebagai tenaga profesional untuk
meningkatkan mutu pendidikan.
Kurikulum
2013
Lantas bagaimana dengan
perubahan kurikulum 2013, bila jadi ditetapkan Pemerintah? Guru harus siap berubah?
Ya…..bila guru era sekarang masih mengidolakan lagu “Aku masih seperti yang
dulu”, maka guru tersebut akan mengalami berbagai kendala dalam pembelajaran.
Namun bila guru siap dengan perubahan apapun, maka dalam menjalankan tugas akan
terasa ringan dan menyenangkan. Rencana kurikulum
yang baru, dengan pendekatan tematik dan integratif di SD kelas I-VI, mata
pelajaran bagi SMP, mata pelajaran wajib dan pilihan bagi SMA, mata pelajaran
wajib, pilihan, dan vokasi bagi SMK, guru harus mau dan mampu mempelajari serta
melaksanakan dengan optimal. Sebagai agen perubahan, guru tidak perlu pesimis.
Karena gurulah yang melaksanakan aplikasi kurikulum dalam proses pembelajaran,
sehingga guru harus mau belajar dan berlatih lagi. Apalagi pemerintah berencana
memfasilitasi pelatihan bagi guru-guru sebelum kurikulum dilaksanakan.
Asal guru mau belajar,
mau membaca, semangat mencari informasi baru tentang model-model pembelajaran
yang inovatif dan menyenangkan, maka tidak akan ada kata galau dalam menghadapi
tahun 2013. Penilaian kinerja guru adalah hal yang wajar, perubahan kurikulum
adalah hal yang biasa, bila guru selalu siap berubah. Perubahan yang sifatnya
membangun mutu kinerja guru harus dilaksanakan semua guru di seluruh pelosok
tanah air ini baik guru baru maupun senior, tersertifikasi maupun belum, guru
negeri maupun swasta, serta semua pendidik yang bertanggung jawab secara moral
kepada Tuhan yang Maha Esa. Perubahan untuk menerapkan pembelajaran yang lebih
menekankan aspek kognitif, afektif, psikomotorik dan berkarakter, merupakan
tugas utama guru professional. Wahyuningsih Rahayu, Guru SDN Batursari 5
Demak
Kamis, 20 Juni 2013
SEJARAH KOTA DEMAK
SEJARAH DAN HARI JADI
KABUPATEN DEMAK
WAHYUNINGSIH RAHAYU, S.Pd,M.Pd
Kota Demak
merupakan salah satu kota yang cukup mengukir sejarah di negara kita,
kaitannya dengan penyebaran agama Islam di pulau Jawa. Demak merupakan kerajaan
Islam yang pertama di pulau Jawa, karena pada masa pemerintahan kerajaan Demak,
agama Islam berkembang pesat. Agama Islam yang pada mulanya disebarkan oleh
para pedagang dari Pasai dan Malaka, ataupun dari negara lainnnya dapat
diterima dan berkembang menjadi desa baru, dan pada akhirnya menjadi suatu
daerah Demak yang cukup tenar sampai sekarang ini.
Kata Demak sendiri berasal dari berbagai
kata yang mengandung arti dan makna yang berbeda. Menurut Poernatjaraka, kata
Demak berasal dari bahasa Jawa “Delamak” yang berarti tempat berlumpur.
Sedangkan menurut basa kawi, kata Demak berasal mengandung arti daerah yang
dihadiahkan. Ada pula ahli yang menafsirkan kata Demak dilihat dari bahasa
Arab, “Dama” yang berarti air mata. Semua
tafsir tentang nama Demak, disesuaikan dengan segi sejarah maupun
daerahnya. Nama Demak sering disebut
secara lengkap dengan Demak Bintara, yang berarti Rawa Bintara.
Sebagai daerah pesisisr yang termasyur
dengan pusat penyebaran agama Islam di pulau Jawa, terdapat bangunan yang megah
dan agung, yakni masjid agung Demak. Pernahkah saudara sekalian berziarah ke
sana? Bila kalian ke sana akan melihat betapa agungnya peninggalan jaman dulu
yang masih dapat dimanfaatkan untuk tempat ibadah sampai sekarang ini.
Berdasarkan sumber tradisi, masjid agung didirikan sekitar tahun
1475 M, oleh Raden Patah. Akan tetapi berbagai pendapat ada yang mengatakan
bahwa masjid agung Demak dibangun tahun 1466 M, dan diresmikan pemugarannya
tahun 1506 M. Sedangkan menurut cerita tradisi, masjid Demak didirikan oleh
para Wali dalam satu malam. Menurut H.J. Graaf, masjid Demak dibangun dengan
penuh kemujizatan, dalam hal ini Sunan Kalijaga memegang peranan penting.
Masjid Demak terdapat empat tiang atau empat saka guru, yang dibuat oleh empat
wali. Salah satunya dibuat oleh Sunan Kalijaga dari potongan kayu (basa Jawa
tatal) sehingga dikenal dengan “saka tatal” yang terletak di sebelah timur
laut. Tiang disebelah barat laut dibuat oleh Sunan Bonang, tiang disebelah tenggara dibuat oleh
Sunan Ngampel, dan tiang di bagian barat daya dibuat oleh Sunan Gunung Jati.
Bangunan masjid Demak, memiliki atap
tumpang berjumlah tiga susun. Masjid yang asli berukuran 31 x 31 m, empat buah
saka guru yanng masing-masing tingginya 19,5m, dan diameternya 11,45m. serambi
masjid berukuran 31 x 20m merupakan
bangunan tambahan. Sekarang ini masjid Demak telah mengalami beberapa kali
pemugaran, akan tetapi arsetekturnya tetap dipertahankan seperti aslinya yakni
beratap tumpang, yang tetap mencerminkan cirikhas masjid-masjid kuno bangsa
Indonesia.
Selain mengetahui tentang masjid agung
Demak, kita juga harus mengetahui sejarah tentang berdirinya kota Wali ini.
Menurut para ahli, pendiri kerajaan Demak adalah Raden Patah. Prof. DR. Slamet
Mulyono, Raden Patah merupakan putra raja Kertabumi, dari Majapahit dengan
istrinya Putri Cina atau Putri Campa. Beliau bernama pangeran Djin Bun, atau
raden Hasan yang lahir pada tahun 1455M.
Putri Campa juga memiliki putera dari Arya Damar yang bernama Raden Timbal atau
Raden Husen. Kedua pemuda ini, saling bekerja sama menyebarkan agama Islam di pulau
Jawa.
Setelah Dewasa Raden, Patah dinikahkan
dengan puteri gurunya Sunan Ngampel yang
bernama Nyai Ageng Maleka. Kemudian atas petunjuk Sunan Ngampel, mereka menetap
di desa Glagahwangi, Bintara. Desa ini terkenal subur, dan makmur serta
dijuluki desa Islam. Karena merasa kuatir akan ancaman desa ini, Raden
Brawijaya mengutus Raden Timbal yang tidak lain adalah saudara kandung Raden
Patah. Akhirnya Raden Timbal tidak pernah kembali ke Majapahit, dan membantu
kakaknya mengembangkan wilayah dan
menyebarkan agama Islam di sana.
Raden Patah kemudian diangkat menjadi
Adipati, dengan gelar Adipati Natapraja, sedangkan Raden Timbal ditempatkan
sebagai penguasa di Terung dengan gelar Adipati Pecatanda. Setelah Majapahit
runtuh, atas restu para Wali, Sunan Ngampel menobatkan adipati Natapraja
menjadi raja dengan gelar Sutan Bintara. Pelantikan Raden Patah menjadi raja
bertepatan dengan tanggal 12 Rabiulawal 1425 S/ 28 Maret 1503 M. Hal ini
dikuatkan dengan Dhandanggula, Serat ke 67 dari Babat Loana, yang ditulis oleh
RM. Ng. Ronggo Handoko, yang antara lain berbunyi:
Ilir-ilir aregang arangin
Asung
sasmita adeging praja
Bintarum
Demak kondange
Anyarengi
grebeg Mulut
……………………
Maksud
dari petikan serat itu adalah: bahwa penobatan raja Demak bersamaa dengan Grebek
Mulut, yaitu kegiatan untuk menyambut maulud Nabi Muahammad SAW. Dalam kegiatan
grebek mulut ini umumnya diadakan acara membaca syahadat tain, yang kemudian
oleh Sunan Kalijaga disebut dengan Sekaten. Upacara sekaten ini sampai sekarang
masih kita jumpai di bekas kerajaan Islam, seperti di keraton Surakarta. Sedangkan di Demak, kegiatan yang
sampai sekarang masih turun temurun adalah “Grebeg Besar”, yaitu kegiatan yang
diadakan untuk menyambut datangnya Idul Adha.
Setelah
Raden Patah wafat, digantikan oleh puteranya yang bernama Pangeran Sabrang Lor,
atau Pati Unus. Pati Unus berusaha melebarkan wilayahnya ke daerah lain, tetapi
masih gagal, dan kemudian Beliau wafat dalam usianya yang masih cukup muda,
tanpa meninggalkan putera.
Setelah
itu Pangeran Trenggono naik tahta menggantikan kakaknya. Pada masa kekuasaan
Dia kerajaan Demak mencapai jaman keemasan. Wilayahnya semakin luas, meliputi seluruh Jawa, Kalimantan Selatan, dan
Selat Malaka. Pengaruh Islam semakin meluas ke daerah-daerah lain. Sultan Trenggono
gugur dalam penyerangannya ke Blambangan, kemudian jenazahnya dimakankan di
belakang masjid Agung Demak.
Sepeninggal Sultan Trenggono, karena
merasa tidak dapat menyelasaikan kemelut, kedelapan raja yang berhak memilih
pengganti Sultan Trenggono meninggalkan Demak. Akan tetapi tanpa sepengetahuan
mereka, pembesar dari Jepara mengangkat Pate Sedayo penguasa Surabaya sebagai
pengganti Sultan.
Namun
demikian menurut sumber dari Babat tanah Jawi, yang menggantikan Sultan
Trenggana adalah Sunan Prawata. Kemudian
Sunan Prawata menyuruh membunuh pamannya Pangeran Seda Lepen. Sunan Prawata
sendiri merupakan murid Sunan Kudus, bersama saudara sepupunya Arya Penanngsang
dan Jaka Tingkir yang merupakan putera dari Adipati Pengging.
Setelah tahu ayahnya dibunuh oleh Sunan
Prawata, maka Arya Penangsang menyuruh
hambanya untuk membunuh Sunan Prawata. Sunan Prawata dibunuh bersama istrinya.
Adiknya Ratu Kalinyamat tidak terima dan minta keadilan pada sunan Kudus
bersama suaminya. Akan tetapi mereka tidak mendapatkan keadilan, bahkan di
tengah jalan dicegat oleh suruhan Arya
Penangsang.
Tidak terima akan kematian kakak dan
suaminya, Ratu Kalinyamat menyingkir ke Jepara dan melakukan “tapa wuda”
yakni tapa telanjang, tanpa pakaian
selembarpun, dan rambutnya di “ure” yakni tidak disanggul, dan bersumpah tidak
akan memakai pakaian sebelum melihat Arya Penangsang terbunuh.
Arya Penangsang yang sakti Mandraguna,
dengan kerisnya kyai Setan Kober, terbunuh oleh Sutawijaya putera Ki Ageng
Pemanahan. Akhirnya kerajaan dipindahkan ke Pajang. Secara politis Demak runtuh
sesudah tahun 1549, tetapi tidak merubah wibawa religius masjid Agung dan
Keturunan Sultan.
Pemimpin Pajang adalah Sultan Hadiwijaya,
alias Jaka Tingkir atau Mas Karebet, yang merupakan salah satu putera Ki Ageng
Pengging, yang ketika jaman kerajaan Demak tidak mau menghadap ke istana Demak,
hingga akhirnya dibunuh oleh Sunan Kudus. Namun Jaka Tingkir diterima sebagai
abdi dikerajaan ketika Sultan Trenggono memerintah karena kedikdayaannya.
Menurut sumber lain atas restu dari
beberapa wali, Jaka Tingkir naik tahta setelah Sultan Trenggono wafat, karena
Sunan Prawata tidak pernah menjadi raja sebab ia buta sejak kecil. Selama
pemerintahan Hadiwijaya, kesusateraan dan kesenian berkembang pesat, pengaruh
agama islam juga semakin luas. Peradapan di daerah Demak dan Jepara semakin
Maju. Sultan Hadiwijaya mempertahankan kerajaab dengan sebaik-baiknya di tanah Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jawa
Timur.
Sepeninggal
Hadiwijaya kekuasaaan Pajang dipegang oleh Arya Pangiri. Akan tetapi pangeran Benawa tidak terima, sehingga
timbul peperangan. Pangeran Banawa dibantu oleh Laskar Mataram dan mendapat
kemenangan. Ia dikukuhkan sebagai
penguasa Pajang. Sejak saat itu baik Pajang maupun Demak merupakan
daerah bagian dari Mataram.
Adapun peninggalan yang tetap megah dan
terkenal sampai sekarang ini adalah Masjid agung Demak, Masjid Moro Demak dan
makam Kadilangu.
Dengan mengacu pada rentetan sejarah
berdirinya kerajaan Demak, pendirian masjid Agung Demak, dan beberapa preistiwa kepahlawanan raja-raja
Demak, para ahli historis menggunakannya sebagai acuan untuk menentukan
kapan hari jadi kabupaten Demak itu.
Dari fakta-fakta sejarah, tentang
perkembangan kekuasaan di Demak itu pula
telah memenuhi 5 kriteria untuk dijadikan alternatif pilihan hari jadi
Kabupaten ini, yakni mengandung kriteria historis suatu daerah yang
mencerminkan cerita kota, mengandung nilai kebangsaan, memiliki nilai edukatif,
secara historis dapat dipertanggungjawabkan, serta dapat diterima oleh
masyarakat.
Berdasarkan historis itu, mengacu pada
tokoh pendiri kerajaan Demak, yakni raden Patah yang terbukti memiliki jiwa
luhur, kepribadian kuat, dan dapat dijadikan suri teladan bagi masyarakat. Maka
dari itu dipilihlah waktu penobatan Sultan Demak yang pertama, yaitu Raden
Patah tanggal 12 Rabiulawal tahun 1425 S atau tanggal 28 Maret 1503 M, sebagai
hari jadi Kabupaten Demak. Dirgahayu Kabupaten Demak yang ke 507, tahun 2010
ini semoga tetap eksis sebagai kota suci dan semakin maju dalam pembangunan.
Terimakasih.WAHYUNINGSIH RAHAYU
Informasi Untuk Siswa SDN Batursari 3
Pengumuman untuk Siswa kelas I-V
1. Pengambilan buku laporan pendidikan tahun pelajaran 2012/2013, Jum'at, 21 Juni 2013
2. Buku Laporan pendidikan yang mengambil orang tua/wali murid
3. Libur kenaikan kelas tanggl 24-13 Juli 2013, Masuk tanggal 15 Juli 2013
4. Pendaftaran Peserta Didik baru Senin, 24 Juni 2013
5. Selama liburan ada petugas piket sesuai dengan jadwal
Terimakasih atas perhatiannya
Wahyuningsih Rahayu
Rabu, 19 Juni 2013
PERPISAHAN SD NEGERI BATURSARI 3
Rabu, 18 Juni 2013 anak-anak kelas VI SD Negeri Batursari 3 asyik menyelenggarakan perpisahan. Mereka menghimpun dana sendiri, menyiapkan acara sendiri, dan guru hanya mengarahkan saja. Acara perpisahan berjalan dengan lancar dan cukup meriah. Semoga cita-cita dan harapan anak-anak tercapai, sukses anak-anakku, doa kami menyertai langkah kalian!!!!!
Selasa, 18 Juni 2013
MODEL PEMBELAJARAN

PERLU
GURU MODEL DALAM
PENDEKATAN TEMATIK INTEGRATIF
Oleh:
Wahyuningsih Rahayu, S.Pd,M.Pd
Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dilaksanakan di Sekolah Dasar (SD)
menggunakan pendekatan mata pelajaran (kontekstual) untuk kelas empat sampai
enam dan pendekatan tematik untuk kelas satu sampai kelas tiga. Kegiatan pembelajara dengan pendekatan mata pelajara memang tidak problem bagi guru-guru SD. Namun
demikian, bagaimanakah dengan pendekatan tematik?
Apakah semua guru kelas
satu sampai kelas tiga di Jawa Tengah khususnya sudah melaksanakan pembelajaran
dengan pendekatan tematik? Jawabnya tidaklah segampang membalikkan telapak
tangan. Disinyalir masih ada guru yang belum melaksanakan pembelajaran di kelas
satu sampai kelas tiga dengan pendekatan tematik secara sempurna. Mereka masih kadang-kadang
melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan mata pelajaran dan kadang-kadang
tematik. Sebagian besar guru memang memiliki Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP) yang tematik, silabus tematik, namun praktik pembelajarannya masih
menggunakan pendekatan mata pelajaran. Mengapa?
Banyak hal yang
menyebabkan guru kelas satu sampai kelas tiga belum menerapkan pembelajaran
dengan pendekatan tematik. Hal ini karena masih banyak guru yang belum memahami
apa dan bagaimana pendekatan tematik itu. Prof.Dr. Rustono, M.Hum, guru besar
fakultas Bahasa dan Sastra Unnes, memaparkan
bahwa salah satu penyebab kurang dilaksanakannya pembelajaran dengan pendekatan
tematik di kelas satu sampai kelas tiga adalah kurangnya perbendaharaan guru SD
tentang model-model pembelajaran. Guru masih banyak yang belum terbiasa membaca
informasi baru tentang model-model pembelajaran yang dapat diaplikasikan dalam pembelajaran dengan pendekatan tematik.
Keadaan ini menyebabkan ketika melakukan
pembelajaran dengan pendekatan tematik, terasa dipaksakan. Tema yang
diintegrasikan pada mata pelajaran dipaksakan untuk bisa dilaksanakan dalam
beberapa kompetensi dasar dari masing-masing mata pelajaran. Terkesan guru
mengajar dengan pendekatan tematik sekadar mengikuti mematuhi aturan saja, sebisa
guru itu sendiri, yang penting judulnya pembelajaran tematik. Bahkan, tidak
sedikit guru yang tidak mengetahui apa
itu jaring-jaring tema, sehingga mereka kurang bisa mengaitkan jarring-jaring
materi yang disesuaikan dengan kompetensi dasar yang diharapkan. Mereka hanya
sekadar copy paste RPP yang telah
disusun tematik yang dibuat orang lain, dibuat bersama-sama dalam satu gugus atau satu kecamatan, atau bahkan sekadar membeli dari penerbit
tertentu. Akan tetapi, mereka kesulitan
mempraktikkan secara nyata dalam
pembelajaran di kelas. Padahal apabila pembelajaran dilaksanakan secara tematik
dengan baik, akan menyenangkan, memberikan pengalaman baru yang lebih menarik dan bermakna bagi peserta didik. Peserta
didik akan mendapatkan pengalaman baru dari segi kognitif, afektik, maupun
psikomotorik, bukan sekadar dijejali dengan materi yang cukup luas dan
membosankan dari LKS yang digunakan guru.
Rencana pemerintah,
kurikulum 2013 akan menggunakan pendekatan tematik integratif dalam pembelajaran mulai kelas
satu sampai kelas enam SD. Pendekatan ini
dipilih dengan harapan
pembelajaran di SD dilakukan dengan
aktif, efektif, kreatif, inovatif, dan menyenangkan dengan satu tema
dapat diaplikasikan dalam beberapa mata pelajaran. Pembelajaran di SD
diharapkan mampu menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter yang diharapkan
pemerintah. Nilai-nilai pendidikan
karakter yang ditanamkan di sekolah dasar mencakup aspek-aspek sebagai berikut:
(1) religius, (2) jujur, (3) toleransi, (4) disiplin, (5) kerja keras, (6)
kreatif, (7) mandiri, (8) demokratis, (9) rasa ingin tahu, (10) semangat
kebangsaan, (11) cinta tanah air, (12) menghargai prestasi, (13) bersahabat
atau komunikatif, (14) cinta damai, (15) gemar menyimak, (16) peduli
lingkungan, (17) peduli sosial, dan (18) tanggung jawab. Sikap yang baik dari peserta
didik di SD diharapkan
tertanam melalui pembelajaran yang
dilaksanakan dengan pendekatan tematik integratif. Siapkah guru melaksanakan
pembelajaran tersebut? Tentu jawabnya, “harus siap”.
Sejauh mana persiapan
guru SD
dalam menghadapi kurikulum 2013?
Ada yang
menanggapi dengan optimis dan ada yang pesimis. Untuk itu, Guru SD
sekarang harus meningkatkan
kompetensinya agar mampu melaksanakan pembelajaran yang inovatif. Kompetensi yang perlu ditingkatkan kaitannya
dengan pembelajaran dengan pendekatan terintegratif ini khususnya kompetensi
paedagogik. Kompetensi paedagogik merupakan kompetensi yang berkaitan dengan
kesungguhan guru dalam mempersiapkan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran,
mengelola kelas, memanfaatkan metode dan media yang bervariasi, memanfaatkan
teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran, melakukan penilaian
serta kemampuan membimbing peserta didik. Untuk dapat meningkatkan kompetensi tersebut,
guru harus mau membaca, membuka wawasan dari berbagai sumber, mau belajar lagi, dan mengikuti perkembangan
jaman. Guru yang malas akan tertinggal dan mengalami kendala dalam pembelajaran
dengan pendekatan tematik integratif dengan baik sesuai tuntutan kurikulum.
Untuk dapat memenuhi
tuntutan pembelajaran dengan pendekatan tematik integratif di SD guru
perlu model pembelajaran yang
praktis yang dapat mengaplikasikan pembelajaran tersebut dengan mudah. Model
pembelajaran menurut Joyce adalah
rancangan pembelajaran yang membantu siswa memperoleh informasi, gagasan,
skill, nilai, cara berpikir, dan tujuan mengkespresikan diri mereka sendiri,
serta mengajari mereka untuk belajar. Model pembelajaran dapat dimanfaatkan
guru sebagai pedoman untuk menyusun RPP. Peran guru dalam pembelajaran adalah
mencetak para pembelajar yang handal (powerful
learners). Guru yang
handal akan membawa peserta didik sukses
sejak proses dan hasil belajarnya.
Untuk dapat mengaplikasikan model-model pembelajaran di
kelas memang tidaklah mudah. Tidak semua guru dapat memahami berbagai
teori tentang model-model pembelajaran.
Oleh karena itu, diperlukan contoh praktis terhadap aplikasi model pembelajaran dengan pendekatan tematik
integratif. Salah satu cara yang dapat
ditempuh adalah memanfaatkan guru model.
Guru model dibutuhkan era
sekarang ini sangat dibutuhkan dalam melaksanakan tuntutan kurikulum. Guru model
yang mempraktikkan pembelajaran tematik integratif dengan
benar, akan sangat memberikan
manfaat bagi guru lain ketimbang teori yang muluk-muluk yang sukar dipahami.
Hal ini karena guru model akan memberikan teladan dalam melaksanakan
tahapan-tahapan pembelajaran yang diharapkan dalam kurikulum yang berlaku mulai
pereancanaan pembelajaran hingga penilaian dan tindak lanjut. Guru model tidak sekadar memberikan teori tetapi
juga praktik yang nyata untuk melakukan pembelajaran tematik integratif
pada tema tertentu dan kelas tertentu pula.
Guru model adalah guru
yang berpengalaman dan berwawasan luas
dalam melaksanakan pembelajaran inovatif, khususnya dengan pendekatan tematik
integratif. Model pembelajaran yang dipilih dalam pembelajaran ini yang
praktis, mudah dilaksanakan di semua
wilayah sekolah, menyenangkan, dan bermanfaat. Dalam pelaksanaannya,
guru model mempraktikkan pembelajaran sesuai dengan rencana pelaksanaan
pembelajaran yang telah disusun secara tematik integrative atau memanfaatkan
rekaman yang ditayangkan dengan LCD atau televisi. Tahapan pembelajaran dilakukan
mulai dari awal pembelajaran,
tahapan eksplorasi, elaborasi,
konfirmasi, dan tahap penutup dalam pembelajaran. Guru model juga melakukan
bagaimana teknik penilaian yang benar dalam tema tertentu dalam pembelajaran
dengan pendekatan tematik integratif dari beberapa mata pelajaran.
Langkah pemanfaatann
guru model ini dapat dilakukan di satu sekolah, beberapa kelompok sekolah
(gugus), kelompok kerja guru, dan lain-lain. Kegiatan guru model dapat
dilakukan saat itu juga maupun
menayangkan kegiatan pembelajaran di kelas yang telah direkam oleh guru model. Ketika
guru model mempraktikkan pembelajaran, guru lainnya mengamati, mencacat tahapan
kegiatan, kemudian memberikan umpan balik kelebihan maupun kekurangannya yang
telah dilakukan oleh guru model. Dengan langkah ini, maka guru akan mendapatkan pengetahuan yang nyata
dan praktis dalam penerapan pembelajaran
dengan pendekatan tematik integratif
dengan tahapan yang benar,
sehingga guru SD tidak galau lagi dalam
menghadapi kurikulum baru.
Berbagai langkah baru memang
harus dilaksanakan untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan di negeri ini. Guru adalah agen perubahan
yang inovatif dalam menyelenggarakan pendidikan di kelas. Tanpa guru yang kreatif dan inovatif,
sebagus apapun kurikulum disusun tiada
hasil yang berarti. Oleh karena itu,
guru haruslah mau dan mampu menyelenggarakan pembelajaran yang senantiasa dibutuhkan
peserta didik dengan aktif,
efektif, kreatif, inovatif, dan menyenangkan. Hanya guru yang siap
dengan perubahan yang akan sukses
melakukan perubahan tersebut. Guru yang sukses melakukan perubahan adalah guru yang
mampu menanamkan sikap peserta didik yang berkarakter, berwawasan s, dan berakhlak
mulia.
Penulis:
Wahyuningsih Rahayu, S.Pd, M.Pd. SDN Batursari 3 Mranggen Demak
Langganan:
Komentar (Atom)

