Senin, 28 April 2014


PERLU GURU MODEL DALAM
 PENDEKATAN TEMATIK INTEGRATIF

Oleh: Wahyuningsih Rahayu,S.Pd,M.Pd
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dilaksanakan di Sekolah Dasar (SD) menggunakan pendekatan mata pelajaran (kontekstual) untuk kelas empat sampai enam dan pendekatan tematik untuk kelas satu sampai kelas tiga. Kegiatan  pembelajara dengan pendekatan mata pelajara  memang tidak problem bagi guru-guru SD. Namun demikian, bagaimanakah dengan
pendekatan tematik?
Apakah semua guru kelas satu sampai kelas tiga di Jawa Tengah khususnya sudah melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan tematik? Jawabnya tidaklah segampang membalikkan telapak tangan. Disinyalir masih ada guru yang belum melaksanakan pembelajaran di kelas satu sampai kelas tiga dengan pendekatan tematik secara sempurna. Mereka masih kadang-kadang melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan mata pelajaran dan kadang-kadang tematik. Sebagian besar guru memang memiliki Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang tematik, silabus tematik, namun praktik pembelajarannya masih menggunakan pendekatan mata pelajaran. Mengapa?
Banyak hal yang menyebabkan guru kelas satu sampai kelas tiga belum menerapkan pembelajaran dengan pendekatan tematik. Hal ini karena masih banyak guru yang belum memahami apa dan bagaimana pendekatan tematik itu. Prof.Dr. Rustono, M.Hum, guru besar fakultas Bahasa  dan Sastra Unnes, memaparkan bahwa salah satu penyebab kurang dilaksanakannya pembelajaran dengan pendekatan tematik di kelas satu sampai kelas tiga adalah kurangnya perbendaharaan guru SD tentang model-model pembelajaran. Guru masih banyak yang belum terbiasa membaca informasi baru tentang model-model pembelajaran yang dapat diaplikasikan  dalam pembelajaran dengan pendekatan tematik.  Keadaan ini menyebabkan ketika melakukan pembelajaran dengan pendekatan tematik, terasa dipaksakan. Tema yang diintegrasikan pada mata pelajaran dipaksakan untuk bisa dilaksanakan dalam beberapa kompetensi dasar dari masing-masing mata pelajaran. Terkesan guru mengajar dengan pendekatan tematik sekadar mengikuti mematuhi aturan saja, sebisa guru itu sendiri, yang penting judulnya pembelajaran tematik. Bahkan, tidak sedikit guru yang tidak mengetahui  apa itu jaring-jaring tema, sehingga mereka kurang bisa mengaitkan jarring-jaring materi yang disesuaikan dengan kompetensi dasar yang diharapkan. Mereka hanya sekadar copy paste RPP yang telah  disusun tematik yang dibuat orang lain, dibuat bersama-sama  dalam satu gugus atau satu kecamatan,  atau bahkan sekadar membeli dari penerbit tertentu. Akan tetapi, mereka  kesulitan mempraktikkan secara nyata  dalam pembelajaran di kelas. Padahal apabila pembelajaran dilaksanakan secara tematik dengan baik, akan menyenangkan, memberikan pengalaman baru yang lebih menarik  dan bermakna bagi peserta didik. Peserta didik akan mendapatkan pengalaman baru dari segi kognitif, afektik, maupun psikomotorik, bukan sekadar dijejali dengan materi yang cukup luas dan membosankan dari LKS yang digunakan guru.   
Rencana pemerintah, kurikulum 2013 akan menggunakan pendekatan tematik  integratif dalam pembelajaran mulai kelas satu sampai kelas enam SD. Pendekatan ini  dipilih  dengan harapan pembelajaran di SD dilakukan dengan  aktif, efektif, kreatif, inovatif, dan menyenangkan dengan  satu tema  dapat diaplikasikan dalam  beberapa mata pelajaran. Pembelajaran di SD diharapkan mampu menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter yang diharapkan pemerintah. Nilai-nilai pendidikan karakter yang ditanamkan di sekolah dasar mencakup aspek-aspek sebagai berikut: (1) religius, (2) jujur, (3) toleransi, (4) disiplin, (5) kerja keras, (6) kreatif, (7) mandiri, (8) demokratis, (9) rasa ingin tahu, (10) semangat kebangsaan, (11) cinta tanah air, (12) menghargai prestasi, (13) bersahabat atau komunikatif, (14) cinta damai, (15) gemar menyimak, (16) peduli lingkungan, (17) peduli sosial, dan (18) tanggung jawab.  Sikap yang baik  dari peserta  didik di  SD diharapkan tertanam  melalui pembelajaran yang dilaksanakan dengan pendekatan tematik integratif. Siapkah guru melaksanakan pembelajaran tersebut? Tentu jawabnya, “harus siap”.
Sejauh mana persiapan guru  SD  dalam menghadapi kurikulum  2013? Ada  yang  menanggapi dengan optimis dan ada yang pesimis. Untuk itu, Guru SD sekarang harus meningkatkan  kompetensinya agar mampu melaksanakan pembelajaran yang inovatif.  Kompetensi yang perlu ditingkatkan kaitannya dengan pembelajaran dengan pendekatan terintegratif ini khususnya kompetensi paedagogik. Kompetensi paedagogik merupakan kompetensi yang berkaitan dengan kesungguhan guru dalam mempersiapkan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, mengelola kelas, memanfaatkan metode dan media yang bervariasi, memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran, melakukan penilaian serta kemampuan membimbing peserta didik. Untuk dapat  meningkatkan kompetensi  tersebut,  guru harus mau membaca, membuka wawasan dari berbagai sumber,  mau belajar lagi, dan mengikuti perkembangan jaman. Guru yang malas akan tertinggal dan mengalami kendala dalam pembelajaran dengan pendekatan tematik integratif dengan baik sesuai tuntutan kurikulum.
Untuk dapat memenuhi tuntutan pembelajaran dengan pendekatan tematik integratif  di SD guru  perlu  model pembelajaran yang praktis yang  dapat mengaplikasikan  pembelajaran tersebut dengan mudah. Model pembelajaran menurut Joyce adalah rancangan pembelajaran yang membantu siswa memperoleh informasi, gagasan, skill, nilai, cara berpikir, dan tujuan mengkespresikan diri mereka sendiri, serta mengajari mereka untuk belajar. Model pembelajaran dapat dimanfaatkan guru sebagai pedoman untuk menyusun RPP. Peran guru dalam pembelajaran adalah mencetak para pembelajar yang handal (powerful learners).  Guru yang handal akan membawa peserta didik  sukses sejak proses dan hasil belajarnya.
Untuk dapat  mengaplikasikan model-model pembelajaran di kelas memang tidaklah mudah. Tidak semua guru dapat memahami berbagai teori  tentang model-model pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan contoh praktis terhadap aplikasi  model pembelajaran dengan pendekatan tematik integratif. Salah  satu cara yang dapat ditempuh adalah memanfaatkan guru model. 
Guru model dibutuhkan  era  sekarang ini sangat dibutuhkan dalam melaksanakan tuntutan kurikulum.  Guru model  yang mempraktikkan pembelajaran tematik integratif  dengan  benar, akan  sangat memberikan manfaat bagi guru lain ketimbang teori yang muluk-muluk yang sukar dipahami. Hal ini karena guru model akan memberikan teladan dalam melaksanakan tahapan-tahapan pembelajaran yang diharapkan dalam kurikulum yang berlaku mulai pereancanaan pembelajaran hingga penilaian dan tindak lanjut. Guru model  tidak sekadar memberikan teori  tetapi  juga praktik yang nyata untuk melakukan pembelajaran tematik integratif pada tema tertentu dan kelas tertentu pula.  
Guru model adalah guru yang berpengalaman dan  berwawasan luas dalam melaksanakan pembelajaran inovatif, khususnya dengan pendekatan tematik integratif. Model pembelajaran yang dipilih dalam pembelajaran ini yang praktis, mudah dilaksanakan di semua  wilayah sekolah, menyenangkan, dan bermanfaat. Dalam pelaksanaannya, guru model mempraktikkan pembelajaran sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah disusun secara tematik integrative atau memanfaatkan rekaman yang ditayangkan dengan LCD atau televisi. Tahapan pembelajaran dilakukan mulai dari  awal pembelajaran, tahapan  eksplorasi, elaborasi, konfirmasi, dan tahap penutup dalam pembelajaran. Guru model juga melakukan bagaimana  teknik penilaian yang  benar dalam tema tertentu dalam pembelajaran dengan pendekatan tematik integratif dari beberapa mata pelajaran.
Langkah pemanfaatann guru model ini dapat dilakukan di satu sekolah, beberapa kelompok sekolah (gugus), kelompok kerja guru, dan lain-lain. Kegiatan guru model dapat dilakukan  saat itu juga maupun menayangkan kegiatan pembelajaran di kelas yang telah direkam oleh guru model. Ketika guru model mempraktikkan pembelajaran, guru lainnya mengamati, mencacat tahapan kegiatan, kemudian memberikan umpan balik kelebihan maupun kekurangannya yang telah dilakukan oleh guru model. Dengan langkah ini, maka  guru akan mendapatkan pengetahuan yang nyata dan praktis  dalam penerapan pembelajaran dengan pendekatan tematik integratif  dengan tahapan yang  benar, sehingga guru SD tidak galau lagi  dalam menghadapi kurikulum baru.
Berbagai langkah baru memang harus dilaksanakan untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan  di negeri ini.  Guru adalah agen  perubahan  yang inovatif dalam menyelenggarakan pendidikan di kelas.  Tanpa guru yang kreatif dan inovatif, sebagus  apapun kurikulum disusun tiada hasil yang berarti. Oleh karena itu,  guru haruslah mau  dan mampu  menyelenggarakan pembelajaran yang senantiasa  dibutuhkan  peserta didik dengan aktif,  efektif, kreatif, inovatif, dan menyenangkan. Hanya guru yang  siap  dengan perubahan yang akan sukses  melakukan perubahan tersebut. Guru yang sukses  melakukan perubahan adalah guru yang mampu  menanamkan sikap  peserta didik  yang berkarakter, berwawasan s, dan berakhlak mulia.

Penulis: Wahyuningsih Rahayu, S.Pd, M.Pd. SDN Batursari 3 Mranggen Demak

2 komentar: