PERLU
GURU MODEL DALAM
PENDEKATAN TEMATIK INTEGRATIF
Apakah semua guru kelas
satu sampai kelas tiga di Jawa Tengah khususnya sudah melaksanakan pembelajaran
dengan pendekatan tematik? Jawabnya tidaklah segampang membalikkan telapak
tangan. Disinyalir masih ada guru yang belum melaksanakan pembelajaran di kelas
satu sampai kelas tiga dengan pendekatan tematik secara sempurna. Mereka masih kadang-kadang
melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan mata pelajaran dan kadang-kadang
tematik. Sebagian besar guru memang memiliki Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP) yang tematik, silabus tematik, namun praktik pembelajarannya masih
menggunakan pendekatan mata pelajaran. Mengapa?
Banyak hal yang
menyebabkan guru kelas satu sampai kelas tiga belum menerapkan pembelajaran
dengan pendekatan tematik. Hal ini karena masih banyak guru yang belum memahami
apa dan bagaimana pendekatan tematik itu. Prof.Dr. Rustono, M.Hum, guru besar
fakultas Bahasa dan Sastra Unnes, memaparkan
bahwa salah satu penyebab kurang dilaksanakannya pembelajaran dengan pendekatan
tematik di kelas satu sampai kelas tiga adalah kurangnya perbendaharaan guru SD
tentang model-model pembelajaran. Guru masih banyak yang belum terbiasa membaca
informasi baru tentang model-model pembelajaran yang dapat diaplikasikan dalam pembelajaran dengan pendekatan tematik.
Keadaan ini menyebabkan ketika melakukan
pembelajaran dengan pendekatan tematik, terasa dipaksakan. Tema yang
diintegrasikan pada mata pelajaran dipaksakan untuk bisa dilaksanakan dalam
beberapa kompetensi dasar dari masing-masing mata pelajaran. Terkesan guru
mengajar dengan pendekatan tematik sekadar mengikuti mematuhi aturan saja, sebisa
guru itu sendiri, yang penting judulnya pembelajaran tematik. Bahkan, tidak
sedikit guru yang tidak mengetahui apa
itu jaring-jaring tema, sehingga mereka kurang bisa mengaitkan jarring-jaring
materi yang disesuaikan dengan kompetensi dasar yang diharapkan. Mereka hanya
sekadar copy paste RPP yang telah
disusun tematik yang dibuat orang lain, dibuat bersama-sama dalam satu gugus atau satu kecamatan, atau bahkan sekadar membeli dari penerbit
tertentu. Akan tetapi, mereka kesulitan
mempraktikkan secara nyata dalam
pembelajaran di kelas. Padahal apabila pembelajaran dilaksanakan secara tematik
dengan baik, akan menyenangkan, memberikan pengalaman baru yang lebih menarik dan bermakna bagi peserta didik. Peserta
didik akan mendapatkan pengalaman baru dari segi kognitif, afektik, maupun
psikomotorik, bukan sekadar dijejali dengan materi yang cukup luas dan
membosankan dari LKS yang digunakan guru.
Rencana pemerintah,
kurikulum 2013 akan menggunakan pendekatan tematik integratif dalam pembelajaran mulai kelas
satu sampai kelas enam SD. Pendekatan ini
dipilih dengan harapan
pembelajaran di SD dilakukan dengan
aktif, efektif, kreatif, inovatif, dan menyenangkan dengan satu tema
dapat diaplikasikan dalam beberapa mata pelajaran. Pembelajaran di SD
diharapkan mampu menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter yang diharapkan
pemerintah. Nilai-nilai pendidikan
karakter yang ditanamkan di sekolah dasar mencakup aspek-aspek sebagai berikut:
(1) religius, (2) jujur, (3) toleransi, (4) disiplin, (5) kerja keras, (6)
kreatif, (7) mandiri, (8) demokratis, (9) rasa ingin tahu, (10) semangat
kebangsaan, (11) cinta tanah air, (12) menghargai prestasi, (13) bersahabat
atau komunikatif, (14) cinta damai, (15) gemar menyimak, (16) peduli
lingkungan, (17) peduli sosial, dan (18) tanggung jawab. Sikap yang baik dari peserta
didik di SD diharapkan
tertanam melalui pembelajaran yang
dilaksanakan dengan pendekatan tematik integratif. Siapkah guru melaksanakan
pembelajaran tersebut? Tentu jawabnya, “harus siap”.
Sejauh mana persiapan
guru SD
dalam menghadapi kurikulum 2013?
Ada yang
menanggapi dengan optimis dan ada yang pesimis. Untuk itu, Guru SD
sekarang harus meningkatkan
kompetensinya agar mampu melaksanakan pembelajaran yang inovatif. Kompetensi yang perlu ditingkatkan kaitannya
dengan pembelajaran dengan pendekatan terintegratif ini khususnya kompetensi
paedagogik. Kompetensi paedagogik merupakan kompetensi yang berkaitan dengan
kesungguhan guru dalam mempersiapkan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran,
mengelola kelas, memanfaatkan metode dan media yang bervariasi, memanfaatkan
teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran, melakukan penilaian
serta kemampuan membimbing peserta didik. Untuk dapat meningkatkan kompetensi tersebut,
guru harus mau membaca, membuka wawasan dari berbagai sumber, mau belajar lagi, dan mengikuti perkembangan
jaman. Guru yang malas akan tertinggal dan mengalami kendala dalam pembelajaran
dengan pendekatan tematik integratif dengan baik sesuai tuntutan kurikulum.
Untuk dapat memenuhi
tuntutan pembelajaran dengan pendekatan tematik integratif di SD guru
perlu model pembelajaran yang
praktis yang dapat mengaplikasikan pembelajaran tersebut dengan mudah. Model
pembelajaran menurut Joyce adalah
rancangan pembelajaran yang membantu siswa memperoleh informasi, gagasan,
skill, nilai, cara berpikir, dan tujuan mengkespresikan diri mereka sendiri,
serta mengajari mereka untuk belajar. Model pembelajaran dapat dimanfaatkan
guru sebagai pedoman untuk menyusun RPP. Peran guru dalam pembelajaran adalah
mencetak para pembelajar yang handal (powerful
learners). Guru yang
handal akan membawa peserta didik sukses
sejak proses dan hasil belajarnya.
Untuk dapat mengaplikasikan model-model pembelajaran di
kelas memang tidaklah mudah. Tidak semua guru dapat memahami berbagai
teori tentang model-model pembelajaran.
Oleh karena itu, diperlukan contoh praktis terhadap aplikasi model pembelajaran dengan pendekatan tematik
integratif. Salah satu cara yang dapat
ditempuh adalah memanfaatkan guru model.
Guru model dibutuhkan era
sekarang ini sangat dibutuhkan dalam melaksanakan tuntutan kurikulum. Guru model
yang mempraktikkan pembelajaran tematik integratif dengan
benar, akan sangat memberikan
manfaat bagi guru lain ketimbang teori yang muluk-muluk yang sukar dipahami.
Hal ini karena guru model akan memberikan teladan dalam melaksanakan
tahapan-tahapan pembelajaran yang diharapkan dalam kurikulum yang berlaku mulai
pereancanaan pembelajaran hingga penilaian dan tindak lanjut. Guru model tidak sekadar memberikan teori tetapi
juga praktik yang nyata untuk melakukan pembelajaran tematik integratif
pada tema tertentu dan kelas tertentu pula.
Guru model adalah guru
yang berpengalaman dan berwawasan luas
dalam melaksanakan pembelajaran inovatif, khususnya dengan pendekatan tematik
integratif. Model pembelajaran yang dipilih dalam pembelajaran ini yang
praktis, mudah dilaksanakan di semua
wilayah sekolah, menyenangkan, dan bermanfaat. Dalam pelaksanaannya,
guru model mempraktikkan pembelajaran sesuai dengan rencana pelaksanaan
pembelajaran yang telah disusun secara tematik integrative atau memanfaatkan
rekaman yang ditayangkan dengan LCD atau televisi. Tahapan pembelajaran dilakukan
mulai dari awal pembelajaran,
tahapan eksplorasi, elaborasi,
konfirmasi, dan tahap penutup dalam pembelajaran. Guru model juga melakukan
bagaimana teknik penilaian yang benar dalam tema tertentu dalam pembelajaran
dengan pendekatan tematik integratif dari beberapa mata pelajaran.
Langkah pemanfaatann
guru model ini dapat dilakukan di satu sekolah, beberapa kelompok sekolah
(gugus), kelompok kerja guru, dan lain-lain. Kegiatan guru model dapat
dilakukan saat itu juga maupun
menayangkan kegiatan pembelajaran di kelas yang telah direkam oleh guru model. Ketika
guru model mempraktikkan pembelajaran, guru lainnya mengamati, mencacat tahapan
kegiatan, kemudian memberikan umpan balik kelebihan maupun kekurangannya yang
telah dilakukan oleh guru model. Dengan langkah ini, maka guru akan mendapatkan pengetahuan yang nyata
dan praktis dalam penerapan pembelajaran
dengan pendekatan tematik integratif
dengan tahapan yang benar,
sehingga guru SD tidak galau lagi dalam
menghadapi kurikulum baru.
Berbagai langkah baru memang
harus dilaksanakan untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan di negeri ini. Guru adalah agen perubahan
yang inovatif dalam menyelenggarakan pendidikan di kelas. Tanpa guru yang kreatif dan inovatif,
sebagus apapun kurikulum disusun tiada
hasil yang berarti. Oleh karena itu,
guru haruslah mau dan mampu menyelenggarakan pembelajaran yang senantiasa dibutuhkan
peserta didik dengan aktif,
efektif, kreatif, inovatif, dan menyenangkan. Hanya guru yang siap
dengan perubahan yang akan sukses
melakukan perubahan tersebut. Guru yang sukses melakukan perubahan adalah guru yang
mampu menanamkan sikap peserta didik yang berkarakter, berwawasan s, dan berakhlak
mulia.
Penulis:
Wahyuningsih Rahayu, S.Pd, M.Pd. SDN Batursari 3 Mranggen Demak

Tidak ada komentar:
Posting Komentar